Opini - Saat Tuhan Diperdebatkan di Beranda TikTok
Oleh : Gusty Rikarno, S.Fil.,M.I.Kom
Pejalan Sunyi Literasi NTT
POS-KUPANG.COM - Saya masih di kampung halaman, menikmati ritme hari-hari liburan yang memanjang. Ada keheningan yang menyeruak di antara puing-puing, sebuah ruang sunyi di mana waktu seolah melambat setelah dentuman gempa mereda.
Getaran-getaran susulan memang masih sesekali terasa seperti desah napas bumi yang belum sepenuhnya tenang. Namun masyarakat perlahan-lahan mulai menata kembali perasaan mereka.
Bencana telah tiba, merobek kenyamanan, dan kini tiba waktunya untuk menerima kenyataan. Proses penerimaan ini tidak terjadi secara tunggal, melainkan hadir melalui persilangan multiperspektif.
Sains membaca pergerakan lempeng tektonik, sejarah merekam siklus alam yang berulang, dan iman menyelimuti luka jiwa dengan pengharapan.
Tenda-tenda terpal berwarna biru dan oranye masih berdiri kokoh di pelataran rumah dan lapangan desa. Di balik lembaran plastik tipis itu, bayangan traumatik gempa memang belum sepenuhnya sirnah.
Namun, yang luar biasa adalah ketangguhan daya hidup masyarakat lokal. Mereka tidak membiarkan bencana melumpuhkan eksistensi. Agenda-agenda yang telah lama dirancang tetap berjalan dengan kekhasan budaya setempat.
Pesta sekolah disiapkan, ritus-ritus adat tetap dipelihara, dan pesta pernikahan diselenggarakan di tengah keterbatasan. Ada keberanian eksistensial untuk terus melanjutkan hidup di tengah kerapuhan.
Baca juga: Pemerintah Wajib Jamin Kesehatan Mental Nakes Korban Gempa Flores
Puing-puing bangunan yang hancur masih tampak jelas berserakan di berbagai sudut kampung. Keretakan pada tembok dan tiang penyangga rumah menjadi saksi bisu atas dahsyatnya guncangan.
Bagi sebagian besar keluarga, kehancuran fisik ini diterima bukan sebagai kepasrahan yang muram, melainkan sebagai bagian dari dinamika takdir yang harus dijalani.
Untuk sementara waktu, mendirikan tenda dan tidur di luar rumah adalah pilihan paling rasional demi keamanan. Mereka ingin tidur lebih nyenyak, bernapas lebih lega, dan bermimpi tentang hal-hal lain di luar kenangan buruk akan bencana.
Di tengah situasi tersebut, arus solidaritas kemanusiaan mengalir tanpa henti. Bala bantuan berdatangan dari pelbagai penjuru, menghadirkan wajah belaskasih yang konkret dan hidup.
Di dalam tenda-tenda pengungsian, lilin-lilin harapan dinyalakan, tidak hanya untuk menerangi kegelapan malam, tetapi juga untuk menghangatkan jiwa-jiwa yang letih.
Dalam kesederhanaan dan kepasrahan itu, terbesit sebuah pengakuan iman yang mendalam. Tuhan begitu luar biasa dalam menjaga kehidupan manusia di tengah kerapuhan alam.
Namun, pemandangan tenang di bawah tenda-tenda kampung berbanding terbalik dengan dinamika di jagat maya. Ketika realitas empiris di lapangan dipenuhi oleh heningnya kerja-kerja kemanusiaan, dinding media sosial justru riuh oleh kegaduhan opini dan perdebatan mendidih. Ada paradoks yang tajam.
Di lapangan, manusia saling berangkulan tanpa melihat latar belakang sementara di layar kaca, manusia bertikai memperebutkan narasi dan tafsir. Perasaan terluka yang sebelumnya tidak ada, tiba-tiba hadir dan menikam jiwa akibat gesekan wacana di media sosial.
Baca juga: Kisah Pritia Afia Terpanggil Jadi Relawan Gempa Flores di Dapur PDI Perjuangan Sikka
Diskusi-diskusi liar merebak dengan cepat, dipicu oleh kehadiran mobil-mobil bantuan yang dihiasi bendera partai politik, hingga kedatangan figur-figur publik seperti Dedi Mulyadi (KDM) dan para konten kreator terkenal. Jagat maya langsung terbelah dalam kutub-kutub persepsi.
Sebagian pihak menilai bahwa bencana di Flores ini telah ditunggangi secara vulgar untuk meningkatkan elektabilitas politik dan popularitas pribadi. Bagi mereka, kehadiran tokoh-tokoh tersebut tidak lebih dari panggung pencitraan di atas penderitaan rakyat.
Sebaliknya, kelompok lain memandang kehadiran KDM sebagai representasi sosok pemimpin ideal yang peka, responsif, dan merakyat. Sosok yang dirindukan oleh masyarakat Indonesia hari ini.
Fenomena ini menyingkapkan karakter mendasar dari media sosial sebagai ruang publik baru. Di dinding maya, sekat-sekat yang sebelumnya memisahkan ruang pribadi dan ruang umum meluruh secara dramatis.
Apa yang dahulu hanya dibisikkan dalam ruang-ruang diskusi tertutup atau doa-doa pribadi, kini terlempar keluar menjadi wacana terbuka yang dikonsumsi secara masal. Tanpa ada jeda untuk merefleksikan makna, emosi publik tereskalasi dengan cepat.
Keretakan pada tembok-tembok rumah akibat guncangan tektonik mungkin dapat direnovasi dalam hitungan minggu atau bulan dengan semen dan batu bata.
Namun, keretakan sosial yang diakibatkan oleh perdebatan teologis dan ideologis di media sosial membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk dipulihkan.
Baca juga: Menembus Harapan di Flores: Satgas Genu Salurkan Sembako untuk Korban Gempa yang Sempat Terisolasi
Ketika tafsir keagamaan ditarik ke arena perang terbuka, persaudaraan yang sebelumnya telah terjalin erat di tingkat tapak menjadi terancam oleh sentimen-sentimen ideologis yang destruktif.
Salah satu episentrum perdebatan teologis yang menyedot perhatian publik adalah kemunculan video khotbah Pendeta Mell Atok di beranda TikTok.
Sebagai seorang komunikator iman di era digital, Pendeta Mell Atok memanfaatkan platform modern untuk mengkhotbahkan pesan-pesan keagamaan. Langkah ini, secara rasional, merupakan bentuk adaptasi pewartaan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Di tengah arus modernitas, media sosial adalah "mimbar baru" yang sangat efektif untuk menjangkau jemaat dari berbagai generasi yang hari ini hidup dan berinteraksi di ruang digital.
Namun, problematika epistemologis muncul ketika mimbar digital tersebut bersifat inkonsisten dengan sifat tradisional ruang sakral. Khotbah yang semula dimaksudkan sebagai pengajaran internal jemaat (ruang privat-komunal) secara otomatis bertransformasi menjadi tontonan publik yang melintasi batas-batas iman (ruang publik-universal).
Di dalam video yang viral tersebut, seruan pertobatan yang disampaikan oleh Pendeta Mell Atok dikaitkan langsung dengan peristiwa bencana alam di Flores.
Khotbah tersebut menyentuh isu-isu krusial mengenai praktik keagamaan dan tuduhan penyembahan berhala yang secara langsung menyinggung sensitivitas teologis masyarakat, khususnya umat Katolik. Dampak dari pewartaan digital ini sangat terasa hingga ke sudut-sudut kampung yang sebelumnya damai.
Baca juga: BMKG Catat Gempa Bumi M5,2 Kembali Guncang Flores NTT, Pusat gema 35 KM Timur Laut Manggarai Timur
Suatu sore, beberapa tetangga mendatangi saya. Mereka menyodorkan pertanyaan yang bernada halus namun menyimpan tuntutan ketegasan: "Apa pandangan Pak Gusty terkait pernyataan Pendeta Mell Atok yang sedang viral di media sosial?"
Dalam situasi mendesak tersebut, saya memilih untuk tidak terburu-buru merespons dengan nada emosional. Saya memilih diam sejenak dan balik bertanya untuk menggali apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Di luar dugaan saya, orang-orang kampung yang secara formal berpendidikan tidak tinggi ini, ternyata mampu menguraikan argumen teologis yang sangat detail. Mereka menjelaskan pemahaman dogmatis Katolik mengenai kebencanaan serta makna sejati dari devosi kepada Bunda Maria.
Mereka menyampaikan keberatan yang mendalam terhadap narasi yang menyamakan praktik devosi terhadap Bunda Maria dengan penyembahan berhala.
Pengalaman ini membuktikan bahwa intuisi iman dan kesadaran teologis masyarakat awam sangat tajam ketika martabat keyakinan mereka terusik.
Untuk memahami kerumitan perdebatan ini secara jernih, kita perlu melakukan pembedahan hermeneutik dan teologis secara bertahap, runtut, dan obyektif melalui empat catatan kritis berikut:
Pertama, hak kebebasan berekspresi di ruang digital. Sebagai warga negara Indonesia, Pendeta Mell Atok memiliki hak konstitusional yang sah untuk memanfaatkan kanal media sosial dalam menjalankan aktivitas harian maupun kewartaan keagamaannya.
Dalam era konvergensi media, tidak ada larangan hukum bagi siapapun untuk berkehidupan digital. Penggunaan teknologi merupakan wujud keselarasan manusia dengan zamannya, sejauh aktivitas tersebut berada dalam koridor hukum dan tidak merugikan hak-hak dasar orang lain.
Kedua, tanggung jawab pastoral dan konteks mimbar. Sebagai seorang pemuka agama, Pendeta Mell Atok memiliki tanggung jawab moral dan pastoral untuk memberikan pengajaran, bimbingan, serta arahan spiritual bagi jemaat yang digembalakannya.
Baca juga: Komunitas Trail Rote Salurkan 200 Kg Beras untuk Korban Gempa Flores
Seruan untuk bertobat dan menjauhi perbuatan yang dianggap menyimpang merupakan bagian dari tugas keagamaan yang konstitutif dalam tradisi Protestan.
Masalahnya, ketika mimbar fisik berpindah ke mimbar algoritma media sosial, pesan yang ditujukan untuk konsumsi internal jemaat dibaca oleh pemirsa anonim dengan horizon pemahaman yang berbeda. Hal ini menimbulkan benturan hermeneutik yang tidak terhindarkan.
Ketiga, penghormatan terhadap partikularitas tradisi keagamaan. Sebagai seorang Katolik yang tumbuh dalam akar budaya Flores, saya memiliki pandangan teologis yang secara mendasar berbeda dengan Pendeta Mell Atok.
Dalam teologi Katolik, bencana alam tidak serta-merta ditafsirkan sebagai hukuman langsung atas dosa penyembahan berhala, melainkan sebagai bagian dari dinamika ciptaan yang terkadang rapuh.
Selain itu, devosi kepada Bunda Maria bukanlah bentuk penyembahan (latria), melainkan penghormatan khusus (hyperdulia) kepada sosok perempuan yang berserah penuh pada kehendak Ilahi. Perbedaan dogmatis ini adalah hal yang wajar dalam lanskap pluralisme agama.
Oleh karena itu, alih-alih larut dalam kekecewaan atau kemarahan, sebagai umat Katolik seyogianya memilih untuk meneladani kesaksian nyata para Uskup dan para Imam (Pastor) di Flores.
Mereka memilih tidak terjebak dalam retorika mimbar digital, melainkan hadir secara inkarnatif di bawah tenda-tenda pengungsian. Duduk bersama korban gempa, membagi bahan bantuan, dan memimpin doa-doa dalam hening demi pemulihan jiwa masyarakat.
Keempat, reruntuhan fisik dan ancaman gempa susulan mengajarkan kita tentang keterbatasan manusia di hadapan kemegahan penciptaan. Bencana seharusnya tidak dijadikan komoditas diskursif untuk menghakimi iman orang lain, melainkan momentum untuk merenungkan misteri rencana Tuhan (mysterium Dei).
Di hadapan penderitaan, sikap paling luhur ditunjukkan oleh Bunda Maria. Ia memilih diam, tidak membalas dengan prasangka, dan menyimpan segala perkara rumit tersebut di dalam hatinya (Bdk. Lukas 2:19). Sikap hening ini bukanlah ketakutan, melainkan kedalaman spiritualitas yang melampaui riuhnya perdebatan kata-kata.
Hemat saya, jika situasi ini terus dibiarkan, bencana gempa bumi pada akhirnya meruntuhkan dua hal sekaligus. Struktur bangunan fisik di atas tanah dan kepastian-kepastian dangkal dalam pikiran manusia.
Baca juga: SMP Katolik Anda Luri Galang Donasi untuk Korban Gempa Flores, Terkumpul Rp18 Juta
Di atas reruntuhan bangunan, kita diajak untuk merekonstruksi tempat tinggal yang lebih aman. Namun, di atas keretakan sosial dan teologis, kita dipanggil untuk menjalankan tugas spiritual yang jauh lebih mendasar, yaitu membangun kembali persaudaraan sejati (fraternitas).
Teologi di tengah reruntuhan bencana tidak boleh berubah menjadi teologi yang menghakimi, melainkan harus menjadi teologi yang memulihkan.
Perbedaan pandangan dogma adalah keniscayaan dalam dunia yang beragam, tetapi belas kasih di tengah penderitaan adalah bahasa universal yang dipahami oleh semua insan.
Ketika media sosial menawarkan panggung perdebatan yang riuh dan memecah belah, pilihan untuk menghadirkan iman yang hidup - iman yang bekerja melalui kasih dan pelayanan nyata di bawah tenda-tenda pengungsian - adalah satu-satunya jawaban yang relevan.
Mari merapikan kembali narasi hidup kita. Biarkan dinding-dinding rumah yang retak dipulihkan oleh waktu dan kerja keras, sementara hati kita dibersihkan dari prasangka keagamaan yang sempit.
Di antara reruntuhan Flores, mari dinyalakan terus lilin-lilin persaudaraan yang menghangatkan, agar dari puing-puing penderitaan ini, lahir kemanusiaan yang lebih tangguh, beradab, dan beriman secara mendalam. (*)