TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Setelah penyakit stroke, Alzheimer dan demensia juga perlu menjadi perhatian dalam bidang neurologi di Indonesia utamanya terkait penelitian dan deteksi dini.
Hal tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat menghadiri The 1st International King's–EMC Neuroscience Masterclass & Symposium 2026, yang mempertemukan dokter dan ahli neurologi dari Indonesia dengan sejumlah pakar internasional, termasuk dari King’s College London yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (22/8).
Menurut Budi, pemerintah telah memperluas akses terhadap fasilitas diagnostik untuk menangani sejumlah penyakit neurologis. Salah satunya melalui pengembangan layanan CT scan di 514 kabupaten dan kota.
Baca juga: Menkes Ungkap Asap Karhulta Mengandung PM2,5, Bisa Perburuk Kondisi Pengidap Penyakit Paru
Pemerintah juga menyiapkan cath lab serta meningkatkan kompetensi dokter untuk menangani kasus stroke dan gangguan neurovaskular yang lebih kompleks yakni penyakit seperti Alzheimer dan demensia yang masih menyimpan banyak pertanyaan ilmiah dan membutuhkan penelitian lebih lanjut.
“Terpenting nantinya bisa mengakselerasi pemahaman dokter dan peneliti Indonesia terhadap penyakit ini setara dengan yang di luar negeri,” ujar Budi.
Karena itu, ia mendorong lebih banyak dokter dan peneliti Indonesia untuk membangun hubungan dengan para ahli di luar negeri. Menurutnya, kolaborasi internasional dapat membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam memahami penyakit neurologis.
“Saya berharap bisa menstimulasi keinginan dokter-dokter di Indonesia dan peneliti Indonesia terkait penyakit neuro seperti ini untuk bisa berhubungan dengan teman-teman di luar negeri,” kata Budi.
Ia berharap kegiatan ilmiah seperti simposium yang mempertemukan dokter Indonesia dengan pakar internasional dapat membantu mempercepat penguasaan pengetahuan mengenai penyakit saraf.
Selain penelitian, pengembangan teknologi menjadi salah satu bagian penting dalam menghadapi penyakit otak. Pemerintah mendorong pengembangan teknologi diagnostik yang dapat membantu mendeteksi penyakit secara lebih dini.
Pengembangan tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari biomarker, genomik, kecerdasan buatan (AI), hingga bioteknologi.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena penyakit seperti Alzheimer dan demensia masih memiliki banyak aspek yang belum sepenuhnya dipahami. Kemampuan mendeteksi perubahan pada otak lebih awal juga menjadi salah satu tantangan yang perlu terus dikembangkan melalui riset.
Sementara itu dari sisi penyedia layanan kesehatan yaitu CEO EMC Healthcare Jusup Halimi mengatakan keterlambatan diagnosis juga masih menjadi persoalan pada sejumlah gangguan neurologis, termasuk Parkinson dan movement disorder.
“Parkinson dan movement disorder lainnya sering kali terlambat didiagnosis. Ketika diagnosis dilakukan terlambat, treatment-nya menjadi lebih kompleks, lebih sulit, dan tentunya meningkatkan biaya,” ujar Jusup.
Karena itu, penguatan kompetensi tenaga medis dan pertukaran pengetahuan menjadi bagian penting dalam meningkatkan kemampuan diagnosis dan penanganan penyakit neurologis.
The 1st International King's–EMC Neuroscience Masterclass & Symposium 2026 sendiri merupakan bagian dari kolaborasi akademik antara EMC Healthcare dan King’s College London. Kolaborasi tersebut telah berlangsung selama tiga tahun dan sebelumnya berfokus pada pengembangan kompetensi dokter serta tenaga kesehatan.
Melalui forum tersebut, pengetahuan mengenai penyakit neurologis diharapkan dapat terus berkembang, sekaligus memperkuat hubungan antara tenaga medis dan peneliti Indonesia dengan komunitas ilmiah internasional.