Horor Limbah Minyak Cemari Pesisir Karawang, Warga Resah Bau Menyengat, PHE ONWJ Bantah Bocor
Budi Sam Law Malau August 25, 2026 11:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, KARAWANG – Pesisir pesisir utara Karawang kembali didera petaka lingkungan. Hamparan pasir di sepanjang Pantai Cemara Jaya, Kecamatan Cibuaya, mendadak dikotori oleh ceceran material hitam kecokelatan berbentuk butiran pada Selasa (25/8/2026) pagi.

Temuan yang diduga kuat sebagai limbah minyak mentah (oil spill) ini tak ayal menebar keresahan mendalam bagi nelayan dan masyarakat setempat.

Bukan sekadar merusak pemandangan, material misterius tersebut mengeluarkan aroma pekat dan menyengat yang mencekik pernapasan.

Warga kini dihantui ketakutan akan ancaman krisis kesehatan, mengingat kawasan pantai adalah denyut nadi kehidupan dan ruang bermain bagi anak-anak pesisir.

Jerit Resah Nelayan Karawang

Mimpi buruk ini pertama kali disadari oleh nelayan setempat, Sakam dan Wartum, saat hendak melaut.

Keduanya langsung melaporkan temuan tersebut kepada Forum Komunikasi Kelompok Kerja Pemberdayaan Masyarakat (FK KKPMP) Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Karawang.

Ketua Forum KKPMP HNSI Karawang, Abdul Syafii, membenarkan adanya laporan yang masuk sekira pukul 06.00 WIB tersebut.

Ia menegaskan, ancaman pencemaran laut ini tidak boleh dipandang sebelah mata.

"Kami khawatir material hitam kecokelatan itu membahayakan kesehatan masyarakat pesisir jika terbukti mengandung zat beracun," tegas Abdul Syafii.

Keresahan ini semakin memuncak lantaran temuan serupa juga pernah dilaporkan terjadi di perairan Ciparage Jaya.

Meski belum bisa dipastikan apakah keduanya bersumber dari titik yang sama, Abdul mendesak instansi berwenang untuk segera turun tangan.

Mengungkap jenis material, melacak dalang pencemaran, dan memulihkan ekosistem pesisir adalah harga mati yang dituntut oleh masyarakat.

Baca juga: Ikan Lokal Asli Sungai Ciliwung hanya Tersisa 26 Jenis, Terancam Punah oleh Pencemaran Lingkungan 

Bantahan dari PHE ONWJ

Di tengah sorotan tajam publik, Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) langsung buka suara. 

Pihak perusahaan mengakui telah menerima laporan ceceran minyak di perairan Tanjungpakis pada Minggu (23/8/2026) dan di Cemara Jaya pada Selasa (25/8/2026).

Merespons krisis ini, PHE ONWJ mengklaim telah mengerahkan armada patroli laut dan menerbangkan drone untuk menyisir perairan secara menyeluruh.

Hasilnya, mereka menepis keras tudingan bahwa limbah tersebut berasal dari kilang minyak mereka.

"Perusahaan memastikan tidak ada anomali produksi, gangguan, maupun kebocoran pada seluruh fasilitas operasi," lugas.

Manager Communication, Relations & CID Regional Jawa PHE ONWJ, Pinto Budi Bowo Laksono.
Meski membantah sebagai sumber pencemar, Pinto menegaskan bahwa PHE ONWJ tidak akan lepas tangan.

Pihaknya terus menjalin komunikasi intensif dengan perangkat desa, DPC HNSI, dan kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) setempat.

"Kami berkomitmen untuk bekerja sama dan memberikan dukungan penuh dalam penanganan kejadian ini dengan semua pihak terkait," pungkasnya.

Kini, bola panas berada di tangan otoritas lingkungan dan penegak hukum.

Masyarakat pesisir Karawang masih menanti tindakan nyata untuk menyelamatkan ruang hidup dan masa depan laut mereka dari bayang-bayang kelam pencemaran.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.