Konsumsi pepaya dikenal bermanfaat melancarkan Buang Air Besar (BAB). Bahkan banyak juga yang mengandalkannya sebagai pencahar alami. Seperti apa fakta nutrisi di baliknya?
Pepaya memang lama dikenal sebagai "obat" alami untuk melancarkan BAB, tapi efek ini sebenarnya bukan hasil satu faktor tunggal.
Berdasarkan sejumlah sumber kesehatan, efek pencahar pada pepaya merupakan hasil kerja tiga komponen sekaligus:
1. Enzim papain, yang membantu memecah protein dalam makanan menjadi molekul lebih sederhana, sehingga meringankan kerja lambung dan usus serta mempercepat proses pencernaan secara keseluruhan.2. Kandungan serat, baik serat larut seperti pektin maupun serat tidak larut, yang berperan langsung melunakkan tinja dan mempercepat pergerakan usus besar.3. Kadar air yang tinggi, mencapai sekitar 88 persen dari bobot buah, yang turut membantu melunakkan feses yang sudah mengeras.
Ketiganya bekerja saling melengkapi. Karena itu, klaim bahwa efek pencahar pepaya "bukan karena serat" kurang tepat. Sebab serat tetap menjadi salah satu pilar utama, bukan sekadar pelengkap dari kerja enzim.
Chef sekaligus personal health coach, Edwin Lau, juga mengungkap fakta pepaya sebagai buah pencahar alami lewat unggahan akun Instagram @chefedwinlau (21/8).
Ia mengatakan manfaat pepaya sebagai pencahar alami bukan hanya karena kandungan seratnya, melainkan berkat enzim proteolitik.
Enzim Diibaratkan Kunci dan Gembok
Edwin Lau menjelaskan enzim ibarat "pembantu" di dalam tubuh yang mempercepat proses kimia pencernaan. Tanpa enzim, makanan yang dikonsumsi berbulan-bulan lalu bisa jadi masih "tersisa" di dalam perut.
Ia menyebut keterbatasan enzim ibarat gembok, satu kunci hanya cocok untuk satu gembok. Artinya satu jenis enzim hanya bekerja pada satu jenis zat tertentu.
Fungsi Enzim Proteolitik Memecah Protein
Enzim proteolitik bertugas memecah protein dan peptida. Edwin Lau menyebut beberapa enzim proteolitik yang umum dipakai di industri makanan untuk melembutkan tekstur daging, yaitu bromelain dari nanas, papain dari pepaya, actinidin dari kiwi, dan ficin dari buah ara.
Menurutnya, enzim proteolitik ini paling dibutuhkan terutama bagi orang yang menjalani diet tinggi protein.
Ia juga menekankan bahwa sumber enzim sebaiknya dikonsumsi dalam kondisi mentah, karena proses pemanasan bisa merusak enzim tersebut, dan buah-buahan disebut sebagai sumber utama yang bisa dikonsumsi mentah.
Soal tingkat kematangan, Edwin menyarankan mencari "sweet spot" buah, yang berarti tidak terlalu mentah ataupun tidak terlalu matang. Ia mengatakan, semakin matang buah, maka kandungan gulanya naik sementara kadar enzim, vitamin, dan antioksidannya justru menurun.





