Kalimantan selama ini dijual sebagai Paru-Paru Dunia. Buku pelajaran sekolah dan brosur Wonderful Indonesia menampilkan hutan hujan tropis yang menjadi rumah bagi orang utan (Pongo bekantan ( burung enggang pesut, hingga bentang Sungai Mahakam dan Barito yang menjadi nadi kehidupan masyarakat Borneo.
Namun setiap musim kemarau, wajah yang ditampilkan kepada dunia itu berubah menjadi kepulan asap, lahan terbakar, dan sungai yang mengering.
Ketika asap menguasai Kalimantan, wisatawan masih memiliki pilihan. Mereka bisa membatalkan tiket, mengubah rencana perjalanan, atau memilih destinasi lain. Keputusan itu sangat wajar.
Merujuk penelitian Amina Labhiri dkk. berjudul pada 2024 berjudul "Keputusan Evakuasi Wisatawan dalam Skenario Kebakaran Hutan" wisatawan lebih mudah meninggalkan area terdampak kebakaran.
Berbeda dengan warga lokal, wisatawan tidak memiliki rumah, mata pencaharian, maupun ikatan sosial yang mengharuskan mereka bertahan di wilayah terdampak. Ketika risiko meningkat, mereka dapat membatalkan perjalanan atau memilih destinasi lain dengan relatif mudah.
Namun kemewahan untuk pergi tidak dimiliki oleh satwa liar maupun masyarakat yang tinggal di sana.
Di situlah ironi terbesar itu muncul. Wisatawan bisa pergi. Kalimantan tidak.
Bumi Borneo yang selama ini diagungkan sebagai destinasi wisata justru harus menanggung luka yang paling dalam. Kebakaran tidak lagi sekadar mengganggu perjalanan wisata, tetapi telah menjadi krisis ekologis dan sosial yang menghantam seluruh bentang kehidupan.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 1.487 titik panas akibat kebakaran hutan dan lahan terdeteksi di Kalimantan berdasarkan pemantauan Satelit NOAA-20 hingga 20 Agustus 2026. Kalimantan Tengah mencatat jumlah terbanyak dengan 767 titik panas, disusul Kalimantan Barat sebanyak 560 titik.
Dampaknya tidak hanya terlihat dari langit yang dipenuhi asap. Sudah tentu semak belukar dan pepohonan menjadi korban pertama. Mereka hangus paling duluan.
Kawasan konservasi seperti Taman Nasional Tanjung Puting dan habitat orang utan di Berau juga semakin terkepung api. Kobaran yang terus merambat mengancam satwa-satwa yang selama ini menjadi simbol utama ekowisata Kalimantan.
Sungai-sungai besar seperti Mahakam dan Barito, yang menjadi ikon Borneo, mengalami kekeringan ekstrem hingga sebagian dasarnya merekah bak padang pasir.
Tangkapan layar kebakaran ganggu habitat orang utan di Berau. (Tangkapan layar)
|
Tragedi paling kelam akan selalu menimpa satwa liar. Mereka tidak memiliki tiket penerbangan untuk meninggalkan kawasan terdampak itu.
Merujuk laporan dan detikKalimantan, ular, trenggiling, dan berbagai satwa lain ditemukan mati terpanggang di lahan gambut yang terbakar saat karhutla menerpa Kalimantan pada Agustus 2026.
Bagi satwa yang berhasil selamat, ancaman belum berakhir. Habitat menyempit, sumber pakan menghilang, dan sumber air tercemar abu.
Penelitian Wendy M. Erb dkk. pada 2018 dan 2023 menunjukkan bahwa paparan kabut asap dapat mengubah perilaku orang utan. Mereka menjadi lebih mudah lelah, mengurangi aktivitas bergerak, dan menurunkan frekuensi yang penting untuk komunikasi antarwilayah. Hutan yang biasanya dipenuhi suara satwa perlahan menjadi sunyi.
Bukan hanya satwa yang terdampak. Asap kebakaran gambut masuk ke rumah-rumah warga, ruang kelas, hingga paru-paru jutaan orang yang hidup di sekitarnya.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebakaran gambut menghasilkan partikel PM2.5 dan gas berbahaya yang meningkatkan risiko ISPA, memperparah asma, hingga memicu gangguan kardiovaskular. Anak-anak, lansia, dan ibu hamil menjadi kelompok yang paling rentan.
Pertanyaan pentingnya kemudian bukan lagi seberapa besar dampaknya, tetapi mengapa bencana yang sama terus berulang hampir setiap musim kemarau.
Banyak orang menyalahkan El Nino atau kemarau panjang. Penjelasan itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak cukup.
Sebagian besar bentang alam Kalimantan berdiri di atas ekosistem gambut tropis yang secara alami berfungsi sebagai penyimpan air dan penyerap karbon raksasa. Masalah muncul ketika manusia mengubah sistem hidrologinya melalui kanal dan drainase. Air yang selama ribuan tahun menjaga gambut tetap basah perlahan menghilang.
Studi Sarah Treby dkk. di Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa drainase buatan dapat menurunkan muka air tanah secara drastis saat musim kering. Nah, ketika gambut mengering maka lapisan organik yang semula basah berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar.
Dengan kata lain, El Nino memang dapat menjadi pemicu. Namun, kerentanan yang membuat kebakaran terus berulang sesungguhnya dibangun jauh sebelumnya melalui perubahan tata kelola lahan oleh manusia.
Infografis Kalimantan menderita (Infografis)
|
Persoalan itu menjadi sangat relevan bagi sektor pariwisata.
Sebab yang selama ini dijual dari Kalimantan bukan hotel, pusat perbelanjaan, atau gedung pencakar langit. Yang dijual adalah hutan hujan tropisnya, orang utannya, bekantannya, burung enggangnya, pesutnya, dan seluruh kehidupan liar yang masih tersisa.
Ironisnya, ketika kebakaran datang, perhatian sering kali lebih besar pada penurunan kunjungan wisata dibanding kerusakan ekosistem yang menjadi daya tarik utama itu sendiri.
Padahal jika berpikir sangat pragmatis sekalipun, menjaga hutan seharusnya menjadi keputusan ekonomi yang paling masuk akal.
Orang utan, bekantan, burung enggang, pesut, dan hutan hujan tropis adalah aset yang selama ini dipromosikan sebagai wajah pariwisata Indonesia. Mereka bukan sekadar penghuni hutan, tetapi modal utama yang menghasilkan nilai ekonomi melalui ekowisata, penelitian, dan daya tarik global yang tidak dimiliki banyak negara lain.
Namun bahkan dalam kalkulasi yang paling oportunistis sekalipun, kita tetap gagal menjaga modal dasar tersebut dari kehancuran.
Wisatawan mungkin bisa mengubah jadwal perjalanan ketika asap datang. Namun satwa liar dan warga yang hidup di Kalimantan tidak memiliki pilihan yang sama.
Karena itu, persoalan terbesar hari ini bukan lagi bagaimana menjual Kalimantan kepada dunia, tetapi bagaimana memastikan hutan, satwa, sungai, dan masyarakat yang hidup di dalamnya tetap ada pada musim kemarau berikutnya.
Jika tidak, julukan Paru-Paru Dunia perlahan hanya akan menjadi slogan promosi yang kehilangan maknanya. Sementara hutan yang dulu dipamerkan, bersama orang utan, bekantan, burung enggang, pesut, dan beruang madu yang hidup di dalamnya, menghilang sedikit demi sedikit di balik asap yang terus berulang.







