Hadiri Maulid Akbar Salabose, SDK Tegaskan Agama dan Budaya Saling Menguatkan
Nurhadi Hasbi August 26, 2026 09:47 AM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAJENE - Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) Suhardi Duka (SDK) menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang digelar Keluarga Besar Rumpun Masyarakat Poralle Salabose.

Kegiatan berlangsung di pelataran Masjid Kuno Syech Abdul Mannan Salabose, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Selasa (25/8/2026).

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini mengangkat tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW untuk Mewujudkan Generasi Berakhlak Mulia, Berkarakter dan Berdasarkan Kearifan Lokal.”

Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Majene, Wakil Bupati Majene, Ketua Komisi I DPRD Sulbar, Ketua DPRD Majene, jajaran pimpinan OPD lingkup Pemprov Sulbar, jajaran OPD Kabupaten Majene, serta unsur Forkopimda.

Dalam sambutannya, Suhardi Duka mengajak seluruh masyarakat yang hadir mendoakan almarhum Wakil Gubernur Sulbar Jenderal Salim S. Mengga.

Baca juga: Perkuat Ekonomi Peternak, Gubernur Suhardi Duka Salurkan Bantuan Ternak di Majene

“Saya kemarin bersama-sama dengan almarhum Pak Wakil Gubernur Jenderal Salim S. Mengga. Oleh itu, saya ajak kita semua sebagai penghormatan kepada almarhum. Mari kita kirimkan Al-Fatihah untuk beliau,” ujar SDK.

Ia kemudian mengajak seluruh jamaah membaca Surah Al-Fatihah untuk almarhum.

SDK juga menyampaikan harapannya dapat kembali menghadiri Maulid Salabose pada tahun berikutnya bersama Wakil Gubernur Sulbar.

“Insyaallah tahun depan saya akan datang dengan Wakil Gubernur juga, kalau masih panjang umur,” katanya.

SDK Sebut Salabose Titik Penting Tradisi Maulid Mandar

Dalam kesempatan itu, SDK menilai Salabose memiliki posisi penting dalam tradisi masyarakat Mandar.

Ia menyebut Salabose sebagai titik awal pelaksanaan tradisi Maulid di wilayah Mandar.

“Salabose ini adalah titik nol dari wilayah Mandar. Kenapa titik nol? Karena tidak ada gerakan maulid sebelum Salabose bermaulid. Oleh itu, tanah ini adalah tanah yang diberkati,” ucap SDK.

Menurutnya, tradisi tersebut telah menjadi bentuk penghormatan dan etika masyarakat Mandar.

Bahkan, pelaksanaan Maulid di sejumlah daerah dilakukan setelah Maulid Salabose.

“Tidak ada instruksi Gubernur yang melarang maulid sebelum Salabose maulid. Tapi seluruh masyarakat Mandar menghargai. Tunggu dulu, jangan dulu maulid. Harus maulid dulu di Salabose, baru masjid yang lain,” jelasnya.

Ia mencontohkan pelaksanaan Maulid di Masjid Lambanan, Polewali Mandar, yang digelar setelah Maulid Salabose.

“Masjid di Lambanan nanti tanggal 26 baru maulid. Salabose dulu, baru Lambanan. Ini adalah etika. Ini adalah ilmu yang sangat tinggi bagi kita masyarakat Mandar,” tutur SDK.

SDK juga membagikan pengalaman pribadinya mengenai kuatnya tradisi Maulid dalam kehidupan masyarakat Mandar.

Ia mengisahkan saat berada di Jakarta dan tetap memilih pulang ke Sulbar untuk menghadiri Maulid.

Ia juga mengenang pesan orang tuanya ketika masih menjadi mahasiswa.

Saat hendak berangkat menuju Makassar menggunakan sepeda motor, ia diminta menunggu hingga pelaksanaan Maulid di masjid selesai.

“Jadi, saya berangkat sekitar jam 11, selesai maulid di masjid, baru saya berangkat. Alhamdulillah saya selamat sampai Makassar. Teman saya yang tidak ikut maulid berangkat sebelum maulid, mengalami kecelakaan,” kenangnya.

Agama dan Budaya Dinilai Saling Menguatkan

Dari tradisi tersebut, SDK menegaskan bahwa agama dan budaya tidak harus dipertentangkan.

Menurutnya, keduanya justru dapat berjalan beriringan dan saling menguatkan.

“Agama dengan budaya itu saling melengkapi dan saling menguatkan. Agama akan lebih kuat dan mengakar apabila ditopang oleh budaya. Karena budaya lahir dari kebiasaan dan dari para leluhur kita,” ujar SDK.

Menurutnya, rangkaian budaya yang diselenggarakan bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi merupakan kekayaan masyarakat Mandar yang perlu terus dijaga dan dilestarikan.

Ia pun mengapresiasi rangkaian tradisi yang ditampilkan dalam Maulid Salabose.

SDK menyebut kegiatan tersebut tidak hanya memiliki nilai keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Sulbar.

Dalam kesempatan itu, SDK juga menyinggung dukungan pemerintah terhadap pelestarian tradisi Maulid Salabose.

Ia berharap pelaksanaan kegiatan tersebut mendapat dukungan anggaran pada tahun mendatang.

“Ini tanda, Pak Kadis, bahwa untuk tahun depan Allah kasihkan anggaran untuk maulid di sini,” katanya.

SDK menambahkan, pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten, memiliki komitmen untuk terus mendorong pembangunan dan mempercepat penyelesaian berbagai persoalan di daerah.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.