TRIBUNKALTIM.CO - Akses utama yang menghubungkan Kecamatan Muara Muntai dan Muara Wis menuju Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, mengalami longsor hingga badan jalan terputus total pada Selasa (25/8/2026).
Longsor terjadi di ruas jalan Desa Kayu Batu, Kecamatan Muara Muntai.
Kondisi tersebut membuat kendaraan tidak dapat melintas seperti biasa, terutama kendaraan roda empat yang membutuhkan badan jalan lebih lebar dan stabil.
Berdasarkan rekaman udara yang diunggah akun Instagram @infokukar, terlihat badan jalan beton mengalami kerusakan parah. Sebagian ruas jalan tampak ambles dan masuk ke area perairan di sekitarnya.
Permukaan jalan juga terlihat terbelah dan sejumlah bagian materialnya hancur.
Baca juga: Bupati Kukar Siapkan Tiga Skema Penanganan Jalan Longsor di Muara Muntai
Putusnya jalan tersebut langsung berdampak terhadap aktivitas masyarakat. Sejumlah warga dan pengguna jalan terlihat berkumpul di kedua sisi ruas yang terputus untuk melihat kondisi longsor.
Kendaraan roda dua juga tampak berhenti dan terparkir di sepanjang bahu jalan karena jalur utama tidak dapat dilewati.
Ruas di Desa Kayu Batu tersebut memiliki posisi penting karena menjadi salah satu akses utama masyarakat Kecamatan Muara Muntai dan Kecamatan Muara Wis untuk menuju pusat Kabupaten Kutai Kartanegara di Tenggarong.
Lihat video penampakan dari udara jalan longsor KLIK LINK DI SINI
Camat Muara Muntai, Mulyadi, mengatakan titik badan jalan yang terdampak longsor memiliki panjang sekitar 7 hingga 10 meter.
Menurut informasi yang diterima pihak kecamatan, longsor terjadi sekitar pukul 04.00 WITA. Namun, pemerintah kecamatan belum dapat memastikan secara tepat kapan proses longsor mulai berlangsung.
“Jalan itu merupakan satu-satunya jalan yang arah Muara Muntai, Muara Wis, menuju ke kota. Kejadiannya dari malam itu jalan itu putus, longsor,” kata Mulyadi saat dihubungi, Selasa (25/8/2026).
Material tanah yang ambles membuat akses kendaraan terganggu. Untuk sementara, kendaraan roda empat belum dapat melewati lokasi tersebut.
Kondisi ini menjadi persoalan karena ruas jalan tersebut bukan sekadar jalan penghubung antardesa, tetapi digunakan masyarakat dari wilayah Muara Muntai dan Muara Wis untuk menuju Tenggarong serta menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.
Terputusnya akses juga berpotensi menghambat pergerakan barang dan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, pemerintah kecamatan bersama pihak terkait langsung mencari kemungkinan membuka jalur alternatif.
Pemerintah Cari Jalan Darurat untuk Kendaraan
Mulyadi mengatakan pemerintah kecamatan berupaya membuka akses sementara di sekitar lokasi longsor.
Jalur darurat tersebut diharapkan dapat menjadi solusi sementara sampai badan jalan utama dapat ditangani secara lebih permanen.
“Kita lagi upayakan hari ini untuk membuat jalan di sampingnya atau di mana jalan itu nanti yang tidak membahayakan kendaraan sepeda motor maupun mobil,” ujarnya.
Namun, upaya tersebut tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Kondisi lokasi yang berada di dekat tepian sungai membuat karakter tanah perlu diperhitungkan sebelum jalur baru digunakan.
Pemerintah harus memastikan jalur alternatif memiliki kondisi yang cukup aman bagi pengendara, baik sepeda motor maupun mobil.
Untuk mendukung pengerjaan tersebut, pemerintah kecamatan menunggu bantuan alat berat dari pihak perusahaan.
PT JMS disebut telah menyiapkan sejumlah peralatan yang dibutuhkan untuk membantu penanganan, termasuk ekskavator dan truk.
“Ya, saat ini kita masih menunggu peralatan dari pihak PT JMS. Pagi ini informasinya akan meluncur peralatan itu, seperti ekskavator, katanya termasuk truk,” kata Mulyadi.
Ekskavator merupakan alat berat yang umum digunakan untuk pekerjaan tanah, seperti menggali, mengangkat, dan memindahkan material.
Sementara truk dibutuhkan untuk membantu membawa material yang digunakan dalam proses pembukaan atau peningkatan badan jalan.
Pemkab Kukar Turun Tangan, Jalan Alternatif Dikerjakan
Penanganan kemudian berlanjut dengan pengerjaan jalan alternatif di Desa Kayu Batu.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri meninjau langsung proses pengerjaan jalan alternatif tersebut pada Selasa (25/8/2026) malam.
Sebelumnya, pemerintah kecamatan telah berkoordinasi dengan PT JMS untuk melakukan penanganan cepat setelah akses utama mengalami longsor.
Tahap awal dilakukan dengan membersihkan area, membuka jalur alternatif, kemudian menghamparkan material batu agar ruas tersebut dapat segera digunakan.
Pemerintah Kabupaten Kukar tidak hanya menargetkan jalan alternatif dapat dibuka, tetapi juga menyiapkan sejumlah langkah lanjutan agar akses tersebut lebih aman digunakan masyarakat.
Aulia mengatakan langkah pertama yang dilakukan pemerintah adalah memastikan jalur alternatif dapat selesai dan mulai dilewati kendaraan pada Selasa malam.
“Yang pertama, membantu dan bersama-sama dengan teman-teman yang sudah mengerjakan ini untuk memastikan jalannya bisa dilewati malam ini,” ujar Aulia.
Dengan dibukanya jalur tersebut, masyarakat diharapkan memiliki akses sementara untuk tetap melakukan perjalanan meski jalan utama mengalami kerusakan.
Lampu Penerangan dan Rambu Akan Dipasang
Setelah jalur alternatif dibuka, pemerintah juga menyiapkan fasilitas pendukung untuk meningkatkan keamanan pengguna jalan.
Salah satunya dengan memasang lampu penerangan jalan pada Rabu (26/8/2026).
Penerangan menjadi penting karena jalur alternatif tidak hanya digunakan pada siang hari. Dengan adanya lampu, kondisi jalan diharapkan lebih mudah terlihat oleh pengendara ketika melintas pada malam hari.
“Besok kita akan memasang lampu penerangan jalan untuk memastikan keamanan pengguna jalan,” katanya.
Selain lampu, pemerintah juga akan memasang rambu-rambu di sepanjang jalur alternatif.
Rambu tersebut nantinya memberi informasi kepada pengguna jalan bahwa ruas yang dilalui masih dalam tahap penanganan dan kondisinya belum sepenuhnya ideal.
“Kita akan memasang rambu-rambu, sehingga setiap pengendara yang lewat bisa mengetahui bahwa kondisi jalan ini masih kurang bagus,” jelasnya.
Pemasangan rambu menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memberikan peringatan kepada pengendara agar menyesuaikan kecepatan dan tetap berhati-hati ketika melewati jalur tersebut.
Jalan Alternatif Berada di Kawasan Rawa
Persoalan berikutnya adalah kondisi geografis jalur alternatif yang berada di kawasan rawa.
Pemerintah Kabupaten Kukar memanfaatkan kondisi musim kering saat ini untuk melakukan peningkatan badan jalan. Salah satu caranya dengan menguruk jalur tersebut menggunakan material yang sesuai agar permukaannya lebih kuat dan dapat digunakan masyarakat.
Aulia mengatakan kondisi jalan berpotensi berubah ketika memasuki musim hujan. Hal itu karena wilayah tersebut merupakan kawasan rawa yang dipengaruhi kondisi permukaan air.
“Karena saat ini masih musim kering, kita berupaya meningkatkan atau menguruk jalan ini. Sebenarnya jalan yang dilalui ini merupakan kawasan rawa-rawa. Kalau sudah masuk musim hujan, tentu kondisinya akan berbeda,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Kukar juga meminta pertimbangan teknis dari Dinas Pekerjaan Umum untuk menentukan bentuk penanganan yang sesuai dengan kondisi lapangan.
Langkah tersebut diperlukan agar jalan alternatif tidak hanya berfungsi sebagai akses darurat dalam waktu singkat, tetapi juga dapat dimanfaatkan selama proses penanganan jalan utama berlangsung.
Oktober Diperkirakan Mulai Hujan, Jalur Alternatif Disiapkan
Pemerintah memperkirakan kondisi cuaca akan menjadi tantangan berikutnya.
Aulia memperkirakan hujan mulai turun sekitar Oktober. Ketika curah hujan meningkat dan permukaan air naik, jalur alternatif yang berada di kawasan rawa berpotensi kembali mengalami gangguan.
“Kita memperkirakan pada bulan Oktober nanti sudah mulai turun hujan dan air naik. Kalau itu terjadi, jalur ini berpotensi kembali terputus,” katanya.
Kondisi tersebut membuat pemerintah tidak hanya menyiapkan satu solusi.
Pemkab Kukar menyiapkan beberapa skenario penanganan untuk memastikan konektivitas masyarakat tetap terjaga.
Skenario tersebut mencakup pembukaan dan peningkatan jalan alternatif, pengamanan jalur dengan penerangan serta rambu, hingga opsi penyeberangan menggunakan feri apabila akses darat kembali tidak dapat digunakan.
Tiga Skema Penanganan Disiapkan
Dalam kondisi normal, pemerintah akan mengupayakan jalan alternatif sebagai akses yang dapat digunakan masyarakat.
Jalur tersebut akan diperkuat dengan pengurukan, sementara penerangan dan rambu-rambu dipasang untuk meningkatkan keamanan.
Namun, apabila kondisi jalan kembali terganggu akibat naiknya air saat musim hujan, pemerintah telah menyiapkan skenario berikutnya.
Salah satu alternatif yang dibicarakan adalah penggunaan feri untuk menyeberangkan kendaraan.
Feri merupakan sarana angkutan penyeberangan yang dapat digunakan untuk membawa kendaraan dan penumpang melewati perairan. Dalam konteks penanganan akses Muara Muntai, opsi ini disiapkan sebagai cadangan apabila jalur darat benar-benar tidak dapat digunakan.
Sebelumnya, opsi feri memang sempat dipertimbangkan setelah jalan utama terputus. Akan tetapi, rencana tersebut menghadapi kendala karena kemiringan tepian sungai dinilai menyulitkan kendaraan untuk naik kembali menuju badan jalan.
Karena itu, pemerintah masih memprioritaskan penanganan melalui jalur darat sembari menyiapkan skenario cadangan.
Aulia menegaskan pemerintah telah memiliki beberapa rencana untuk menghadapi kemungkinan perubahan kondisi di lapangan.
“Kalau misalnya jalur ini putus, setelah berkoordinasi kita akan mempersiapkan jalur feri. Jadi memang ada plan A, plan B, dan plan C yang kita siapkan,” tegasnya.
Kendaraan Diminta Tidak Memaksakan Melintas
Sementara itu, masyarakat dan pengguna jalan diminta tidak memaksakan diri melewati titik longsor sebelum kondisi dinyatakan aman.
Mulyadi mengatakan kendaraan roda empat untuk sementara belum dapat melintas. Untuk sepeda motor, masyarakat juga diminta mempertimbangkan kondisi medan dan tidak mengambil risiko apabila jalur belum memungkinkan.
“Belum, belum bisa. Jadi kendaraan belum bisa, untuk roda 4. Enggak tahu nih roda 2, ya roda 2 ini kalau memang bisa dipaksakan ya khawatir juga nanti,” ujarnya.
Imbauan tersebut disampaikan karena sebagian badan jalan telah mengalami longsor. Kondisi tanah di sekitar tepian perairan juga masih membutuhkan penanganan sehingga pengendara perlu mengutamakan keselamatan.
Pemerintah kecamatan bersama pemerintah kabupaten dan pihak terkait saat ini berfokus pada pembukaan akses alternatif sekaligus penanganan lanjutan.
Masyarakat diharapkan bersabar selama proses tersebut berlangsung.
“Imbauan kami dari pihak pemerintahan kecamatan, mengharapkan kepada para pengendara sepeda motor maupun roda empat untuk lebih berhati-hati kalau melewati itu. Kalau memang belum bisa, jangan dipaksakan, tolong untuk pengertian dari pihak masyarakat sendiri, karena kita ini sedang berupaya untuk memperbaiki jalan itu supaya bisa dilewati,” tutupnya.
Jalur Muara Muntai Dinilai sebagai Urat Nadi Masyarakat
Bupati Kukar Aulia menegaskan akses tersebut memiliki peranan penting bagi masyarakat Muara Muntai dan wilayah hulu.
Jalur itu menjadi salah satu penghubung utama bagi mobilitas warga sekaligus pergerakan logistik. Logistik dalam konteks ini mencakup distribusi kebutuhan sehari-hari dan barang yang diperlukan masyarakat di wilayah yang terhubung dengan ruas tersebut.
Karena itu, pemerintah berupaya agar terputusnya badan jalan tidak berlangsung terlalu lama.
Aulia menyebut pemerintah ingin memastikan jalur masyarakat tetap terbuka meski akses utama membutuhkan penanganan akibat longsor.
“Kita ingin memastikan jalur ini, yang merupakan urat nadi masyarakat Muara Muntai ke wilayah hulu, tidak sampai terputus, sehingga jalur logistik masyarakat tetap bisa tertangani dengan baik,” pungkasnya.
Dengan demikian, penanganan longsor di Desa Kayu Batu tidak hanya diarahkan untuk membuka akses sementara. Pemerintah Kabupaten Kukar juga menyiapkan langkah lanjutan untuk menghadapi kemungkinan perubahan kondisi akibat musim hujan.
Jalur alternatif dikerjakan dengan dukungan pihak terkait, termasuk PT JMS, sementara pemerintah menyiapkan material, penerangan dan rambu-rambu. Pada saat yang sama, Dinas Pekerjaan Umum diminta memberikan pertimbangan teknis terkait kondisi jalan yang berada di kawasan rawa.
Jika kondisi jalur darat kembali terganggu ketika air naik, opsi feri disiapkan sebagai rencana cadangan.
Untuk sementara, masyarakat pengguna jalan dari Muara Muntai dan Muara Wis menuju Tenggarong diminta mengikuti arahan petugas dan tidak memaksakan perjalanan melalui titik longsor yang belum aman.
(TribunKaltim.co/Patrick Vallery/Briandena_