Liputan6.com, Jakarta - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, banyak umat Islam yang mencari amalan untuk ketenangan hati dan perlindungan. Dzikir Ratib al-Attas dapat menjadi salah satu opsi. Untuk itu, bagi pemula penting mengetahui Ratib al-Attas latin lengkap untuk diamalkan sehari-hari.
Ratib al-Attas merupakan kumpulan dzikir dan doa yang disusun oleh Al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Attas. Amalan ini berisi ayat-ayat Al-Qur'an, dzikir harian, dan doa-doa yang telah disusun sedemikian rupa untuk dibaca pada waktu-waktu tertentu.
Ratib secara bahasa berasal dari kata rattaba yang berarti mengaturkan, menyusun, atau menguatkan. Dalam istilah tasawuf, ratib adalah bentuk dzikir yang disusun oleh seorang guru tarekat atau ulama untuk dibaca pada waktu-waktu tertentu, baik secara individu maupun berjamaah, sesuai dengan aturan yang telah ditentukan oleh penyusunnya.
Firman Allah dalam Surah Al-Ahzab ayat 41-42, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”.
Praktik pembacaan ratib al-Attas telah mengakar kuat dalam tradisi pesantren dan masyarakat Muslim di Indonesia. Tradisi ini bertujuan senantiasa mengingat Allah dan menghidupkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut adalah bacaan Ratib al-Attas lengkap dalam teks Arab, latin, dan terjemahannya, sebagaimana termuat dalam berbagai sumber referensi.
1. Ta'awudz dan Basmalah
Arab: أَعُوذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (×3)
Latin: A'udzu billāhis-samī'il-'alīmi minasy-syaithānir-rajīm (3×)
Artinya: "Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk."
Arab: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ (×3)
Latin: Bismillāhir-rahmānir-rahīm (3×)
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
2. Surat Al-Fatihah
Arab: الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ
Latin: Alhamdulillāhi rabbil-'ālamīn. Ar-rahmānir-rahīm. Māliki yaumid-dīn. Iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn. Ihdināṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. Ṣirāṭalladzīna an'amta 'alaihim ghairil-maghḍūbi 'alaihim wa laḍ-ḍāllīn.
Artinya: "Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat."
3. Surat Al-Hasyr Ayat 21-24
Arab:
لَوْ اَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَاَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَتِلْكَ اْلاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
هُوَ اللهُ الَّذِيْ لآ اِلَهَ اِلاَّ هُوَ عَالِمُ اْلغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ
هُوَ اللهُ الَّذِيْ لآ اِلَهَ اِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
هُوَ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ اْلاَسْمَاءُ الْحُسْنٰىۗ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمٰوٰتِ وَاْلاَرْضِۖ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Latin:
Lau anzalnā hādzal-qur'āna 'alā jabalin lara'aitahu khāsyi'an mutashaḍdi'an min khasyyatillāh, wa tilkal-amtsālu naḍribuhā lin-nāsi la'allahum yatafakkarūn.
Huwallāhulladzī lā ilāha illā huwa 'ālimul-ghaibi wasy-syahādah, huwar-rahmānur-rahīm.
Huwallāhulladzī lā ilāha illā huwal-malikul-quddūsus-salāmul-mu'minul-muhaiminul-'azīzul-jabbārul-mutakabbir, subḥānallāhi 'ammā yusyrikūn.
Huwallāhul-khāliqul-bāri'ul-muṣawwiru lahul-asmā'ul-ḥusnā, yusabbiḥu lahū mā fis-samāwāti wal-arḍi wa huwal-'azīzul-ḥakīm.
Artinya:
"Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Agung. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, yang mempunyai nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
4. Ta'awudz dan Perlindungan
Arab: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (×3)
Latin: A'ūdzu bikalimātillāhit-tāmmāti min syarri mā khalaq (3×)
Artinya: "Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan."
Arab: بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ (×3)
Latin: Bismillāhilladzī lā yaḍurru ma'asmihī syai'un fil-arḍi wa lā fis-samā'i wa huwas-samī'ul-'alīm (3×)
Artinya: "Dengan nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan di bumi dan tidak juga di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
5. Dzikir Tauhid dan Tasbih
Arab: بِسْمِ اللهِ تَخَصَّنَّا بِاللهِ، بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْنَا عَلَى اللهِ (×3)
Latin: Bismillāhi takhashshannā billāh, bismillāhi tawakkalnā 'alallāh (3×)
Artinya: "Dengan nama Allah, kami berkonsentrasi kepada Allah. Dengan nama Allah, kami bertawakal kepada Allah."
Arab: بِسْمِ اللهِ آمَنَّا بِاللهِ، وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِ (×3)
Latin: Bismillāhi āmannā billāh, wa man yu'min billāhi lā khaufun 'alaih (3×)
Artinya: "Dengan nama Allah, kami beriman kepada Allah. Dan siapa yang beriman kepada Allah, tidak ada ketakutan atas dirinya."
Arab: سُبْحَانَ اللهِ عَزَّ اللهُ، سُبْحَانَ اللهِ جَلَّ اللهُ (×3)
Latin: Subḥānallāhi 'azzallāh, subḥānallāhi jallallāh (3×)
Artinya: "Maha Suci Allah, Maha Mulia Allah. Maha Suci Allah, Maha Agung Allah."
Arab: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ (×3)
Latin: Subḥānallāhi wa biḥamdih, subḥānallāhil-'aẓīm (3×)
Artinya: "Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung."
Arab: سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ (×4)
Latin: Subḥānallāhi wal-ḥamdulillāhi wa lā ilāha illallāhu wallāhu akbar (4×)
Artinya: "Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar."
6. Doa dan Permohonan
Arab: يَا لَطِيْفًا بِخَلْقِهِ، يَا عَلِيْمًا بِخَلْقِهِ، يَا خَبِيْرًا بِخَلْقِهِ
Latin: Yā laṭīfan bi-khalqih, yā 'alīman bi-khalqih, yā khabīran bi-khalqih
Artinya: "Wahai Zat yang Maha Lembut terhadap makhluk-Nya, wahai Zat yang Maha Mengetahui tentang makhluk-Nya, wahai Zat yang Maha Waspada terhadap makhluk-Nya."
Arab: أَلْطِفْ بِنَا يَا لَطِيْفُ، يَا عَلِيْمُ يَا خَبِيْرُ (×3)
Latin: Alṭif binā yā laṭīf, yā 'alīm yā khabīr (3×)
Artinya: "Berilah kelembutan kepada kami wahai Zat Yang Maha Lembut, wahai Zat Yang Maha Mengetahui, wahai Zat Yang Maha Waspada."
Arab: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ (×40)
Latin: Lā ilāha illallāh (40×)
Artinya: "Tiada Tuhan selain Allah."
Arab: مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ
Latin: Muḥammadun rasūlullāh, ṣallallāhu 'alaihi wa ālihī wa sallam
Artinya: "Muhammad adalah utusan Allah, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepadanya serta keluarganya."
7. Shalawat dan Istighfar
Arab: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ (×10)
Latin: Allāhumma ṣalli 'alā Muḥammad (10×)
Artinya: "Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad."
Arab: أَسْتَغْفِرُ اللهَ (×3)
Latin: Astaghfirullāh (3×)
Artinya: "Aku memohon ampun kepada Allah."
Arab: تُوْبُوْنَ إِلَى اللهِ (×3)
Latin: Tūbūna ilallāh (3×)
Artinya: "Kembalilah kepada Allah."
8. Doa Penutup
Arab: يَا اَللهُ بِحَقِّهَا، يَا اَللهُ بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ (×3)
Latin: Yā Allāhu bi-ḥaqqihā, yā Allāhu bi-ḥusnil-khātimah (3×)
Artinya: "Ya Allah, dengan haknya (ratib ini), ya Allah dengan husnul khatimah (akhir yang baik)."
Arab: غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ
Latin: Ghufrānaka rabbanā wa ilaikal-maṣīr
Artinya: "Ampunan-Mu ya Tuhan kami, dan hanya kepada-Mu tempat kembali."
Arab: رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ... (doa selengkapnya)
Latin: Rabbana lā tu'ākhidznā in nasīnā au akhṭa'nā ...
Artinya: "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah..."
Ratib al-Attas dapat diamalkan baik secara individu maupun berjamaah. Berikut panduan praktisnya:
Secara umum, Ratib al-Attas dapat dibaca kapan saja. Namun, waktu yang paling dianjurkan adalah:
• Setelah salat Isya - Ini adalah waktu yang paling umum dipraktikkan, sebagaimana kebiasaan yang dilakukan oleh Habib Husein dan pengikut-pengikutnya. Di bulan Ramadan, pembacaan dilakukan sebelum salat Isya.
• Setelah salat Subuh - Di banyak pesantren, seperti Pondok Pesantren Modern Al-Qur'an Buaran Pekalongan, ratib al-Attas dibaca setiap pagi setelah salat subuh.
• Setelah salat Ashar - Sebagian komunitas membacanya pada waktu ini, seperti di Pondok Pesantren Mathla'ul Anwar.
• Malam Jumat - Malam yang penuh berkah ini menjadi waktu yang paling sering dipilih untuk membacanya.
Cara Membaca
• Niat yang tulus - Setiap amal dalam Islam dimulai dengan niat. Niatkan pembacaan ratib semata-mata karena Allah SWT.
• Bersuci - Dianjurkan membaca dalam keadaan suci (berwudu).
• Menghadap kiblat - Sebaiknya menghadap kiblat saat membacanya.
• Suara bacaan - Jika membaca sendirian, dianjurkan dengan suara pelan atau samar-samar. Jika berjamaah, dibaca dengan suara sedang, tidak terlalu pelan dan tidak terlalu keras.
• Khusyuk dan memahami makna - Fokus pada makna setiap kalimat yang diucapkan.
• Diawali dengan membaca ta'awudz dan basmalah (3×)
• Membaca Surat Al-Fatihah
• Membaca Surat Al-Hasyr ayat 21-24
• Membaca dzikir-dzikir perlindungan (3×)
• Membaca dzikir tauhid dan tasbih
• Membaca doa-doa dan permohonan
• Membaca shalawat (10×) dan istighfar (3×)
• Ditutup dengan doa penutup dan shalawat
Ratib al-Attas (Ratib al-Athos) disusun oleh Al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Attas, seorang ulama besar dan wali qutub yang lahir di Hadramaut, Yaman, pada tahun 992 Hijriah (sekitar 1584 M) dan wafat pada 23 Rabiul Awal 1072 H. Beliau dikenal sebagai pribadi yang khumul (rendah hati) dan tidak menonjolkan diri. Karya peninggalan beliau yang ditemukan sampai sekarang hanya himpunan wirid Ratib al-Attas.
Beliau adalah seorang pendidik yang melahirkan banyak ulama. Muridnya yang paling dikenal adalah Al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad, penyusun Ratib al-Haddad, serta Syekh Ali bin Abdullah Bara'as, yang menyusun syarah (kitab penjelas) Ratib al-Attas berjudul Tanbih al-Ghafil wa Taraqqi al-Washil.
Ratib al-Attas juga dikenal dengan dua nama lain: 'Azīzul Manāl dan Fatḥu Bābil Wiṣāl (Pintu mendekatkan diri kepada Allah SWT).
Mengamalkan Ratib al-Attas secara istiqamah membawa berbagai hikmah dan manfaat, baik secara spiritual maupun dalam kehidupan sehari-hari:
1. Perlindungan dari Marabahaya
Ratib al-Attas berfungsi sebagai benteng perlindungan dari berbagai ancaman dan bahaya, mulai dari perlindungan rumah dari kebakaran dan pencurian hingga perlindungan dari sihir, gangguan jin, serta segala bentuk kejahatan. Sebagian ulama menyebutkan bahwa ratib ini menjaga rumah dan 40 rumah di sekitarnya dari kebakaran, pencurian, dan sihir.
2. Pengampunan Dosa
Mengamalkan Ratib al-Attas diyakini dapat menyebabkan pengampunan Allah terhadap dosa-dosa, sebanyak apapun dosa itu. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Qirthas Syarah Ratib al-Attas, orang yang membiasakan diri membacanya diharapkan dosa-dosanya diampuni.
3. Ketenangan Hati dan Kelancaran Urusan
Dengan hati yang tenteram, segala urusan hidup akan terasa lebih mudah. Dzikir ratib al-Attas memberikan ketenangan jiwa bagi pendzikirnya. Hal ini sejalan dengan firman Allah: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram" (QS Ar-Ra'd: 28).
4. Dipanjangkan Umur dan Husnul Khatimah
Sebagian ulama salaf menyebutkan di antara keutamaan ratib al-Attas bagi mereka yang tetap mengamalkannya adalah dipanjangkan umur, mendapat husnul khatimah (akhir yang baik), dan senantiasa berada dalam perlindungan Allah.
5. Kelapangan Rezeki
Sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Qirthas, Sayyid Umar pernah memerintahkan orang-orang yang mengeluh kesulitan ekonomi untuk membaca ratib ini, dan Allah memberikan kelapangan pada mereka.
6. Mendekatkan Diri kepada Allah
Ratib al-Attas yang juga dikenal sebagai Fatḥu Bābil Wiṣāl (Pintu Mendekatkan Diri) menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Melalui rangkaian dzikir dan doa di dalamnya, seorang hamba dapat meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaannya.