Cerita Lukas Thomas Terapkan Pertanian Digital, Dinginkan Tanaman Cabai Lewat Handphone   
Amiruddin August 26, 2026 10:35 AM

 

TRIBUNKALTARA.COM - Tidak pernah terlintas sedikit pun di pikiran Lukas Thomas, seorang petani di Jalan Pangeran Aji Iskandar, Kelurahan Juata Laut, Kecamatan Tarakan Utara, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, jika suatu saat ia memiliki smart farming atau pertanian pintar, yang memanfaatkan teknologi digital.  

Pasalnya, pria kelahiran Nunukan, 10 Mei 1986 ini, sangat mengetahui untuk mewujudkan pertanian digital itu membutuhkan biaya yang sangat besar, bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Namun akhirnya impian Lukas Thomas memiliki pertanian digital itu terwujud, dengan adanya bantuan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia atau KPwBI Kaltara.

Awalnya di akhir tahun 2024, mantan Ketua RT tiga periode ini, didatangi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Tarakan, untuk dikenalkan dengan pihak KPWBI Kaltara.

Tak lama kemudian, KPwBI Kaltara mengajak Lukas Thomas studi banding ke Jawa Barat mempelajari tentang pertanian digital.

Hanya saja ia tidak bisa mengikuti, sehingga diganti oleh rekannya.

 

Lukas Thomas petani cabai sedang mengoperasionalkan alat pendingin tanaman cabai
PERTANIAN DIGITAL - Tampak Lukas Thomas petani cabai di Tarakan, saat tengah  mengoperasionalkan alat pendingin tanaman cabai di dalam green house lewat handphone miliknya baru-baru ini. Berikut ini cerita Lukas Thomas yang menerapkan pertanian digital berkat bantuan KPwBI Kaltara, bisa dinginkan tanaman cabai lewat handphone.

 

Baca juga: KPwBI Kaltara Dorong Digitalisasi Pembayaran di Pelabuhan Kayan II, Diberi Banyak Pilihan Transaksi

 

Usai dari studi banding inilah, akhirnya KPwBI Kaltara membangunkan green house bagi Lukas Thomas dan rekannya.

Tentunya niat baik ini langsung disambut baik. 

Sampai akhirnya lahan kosong seluas 10x12 meter milik Lukas Thomas, yang berada tepat di depan rumahnya, dibangun green house tanaman cabai.

“Kita tidak pernah kepikiran kalau KPWBI Kaltara akan fasilitas ini semua.

Saya pikir green house biasa-biasa saja, ternyata lengkap dengan peralatannya,” ucap suami dari Emi itu.

Peralatan digital yang dilengkapi, mulai dari sprinkle pendingin, sensor PH tanah, dan drip irigasi, yang semuannya terkoneksi lewat handphone.

“Dengan peralatan yang ada ini, kita buatkan jadwal untuk pendinginan.

Kita tinggal melihat cuaca, seperti jam 12 panas, yah kita hidupkan saja aplikasi pendinginnya lewat handphone.

Jadi pendinginnya hidup secara otomatis,” ungkapnya. 

Green house ini dibangun Juni tahun 2025, dengan waktu pengerjaannya selama seminggu, yang dilakukan oleh tenaga professional dari Habibi Garden

Tampak Green House dindingnya menggunakan plastik UV mirip kelambu.

Di dalamnya terdapat profile ukuran 1.200 liter, dan empat drum biru, berserta dengan peralatan untuk menyiram dan mendinginkan cabai.

Sebab cabai harus dengan kondisi dingin, jika panas akan kering, dan cabai akan mati.

Pertamakali menanam cabai, Lukas Thomas menggunakan plastik polybag.

Ternyata plastik ini ukurannya kecil, sehingga cabai tidak tumbuh dengan baik, dan akhirnya mati.

Meskipun pertama kali gagal, namun ia tidak berkecil hati, tapi terus bangkit dan langsung cepat melakukan evaluasi. 

 

Baca juga: Pekan Ketiga Ramadan KPwBI Kaltara Catat Penukaran Uang Baru Rp358,5 Miliar, 51 Persen dari Proyeksi

 

Setelah itu akhirnya ia berinisiatif mengantikan polybag dengan planter bag berukuran besar.

Ternyata usaha ini berhasil, karena menampung media tanah yang lebih banyak.

Untuk menambah pengetahuan menanam cabai dengan pertanian digital, KPwBI Kaltara pada Juli 2026 kembali mengajak Lukas Thomas studing banding.

Kali ini ke Kota Batu Malang Jawa Timur.

Di Batu Malang, Lukas melihat langsung tanaman cabai yang dimiliki para petani tumbuh dengan baik di Green  House.

Ternyata cabai yang dihasilkan bagus, karena kerap kali disiram.

“Saya melihat di Malang itu delapan kali menyiram cabai, karena air di sana sangat banyak.

Berbeda kita yang di Tarakan masih kekurangan air,” ungkap Lukas Thomas.

Oleh karena itu, untuk menyiram cabai, ia melakukan dua hingga tiga kali sehari, dengan mengandalkan sumur bor dan air hujan. 

Meskipun kualitas air sumur bor berkarat, tetapi ia masih bersyukur cabai yang ditanamnya masih tumbuh subur, dengan ketinggian mencapai dua setengah meter.

“Yah syukurnya aman saja kita gunakan air sumur bor sampai saat ini, meskipun airnya berkarat,” ucapnya sambil tersenyum.

Selama dua tahun menaman cabai ini, sudah empat kali Lukas Thomas memanen hasil cabai yang ditanamnya.

Hanya saja jumlahnya tidak terlalu banyak.

Dikarenakan setiap panen hasilnya antara setengah kilogram dan 1 kilogram.

Sehingga cabai tersebut diputuskan untuk dikonsumsi sendiri, dan sebagian ada pula dijual dengan pedagang sayur yang ada di daerah Juata Kopri, dengan harga Rp 60 ribu hingga 70 ribu perkilogram.

Diakui Lukas Thomas, awal mengoperasionalkan aplikasi dari Habibi Garden ini agak sulit.

Namun setelah dipraktikkan, dan dibimbing tenaga teknis dari Habibi Garden, akhirnya ia dapat mengerti dan kini mudah mengoperasionalkannya.

“Bahkan sampai hari ini, mereka terbuka, jika ada kendala dapat langsung menghubungi petugasnya.

Untuk masalah sistem mereka masih memperbaikinya,” ujarnya.

Melihat hal ini, Lukas Thomas sangat yakin pertanian digital ke depannya menjadi lebih baik dan malah diminati petani milenial.

 

Baca juga: KPwBI Kaltara akan Gelar KKB, Targetkan Perputaran Uang Rp 2,5 Miliar, Dimeriahkan Grup Musik RAN 

(*)

Penulis: Junisah

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.