Kisah Filomena, Rumahnya Hancur Akibat Gempa dan Harus Keluarkan Biaya Saat Berobat ke Puskesmas
Oby Lewanmeru August 26, 2026 11:19 AM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Arnold Welianto

POS-KUPANG.COM,MAUMERE - "Sudah jatuh tertimpa tangga". Begitulah nasib Filomena Piliana, bersama anak dan mamanya Aluysia (65), warga Desa Meken Detun, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) kini mengungsi di tenda darurat di depan rumah mereka pascagempa Flores, Sabtu 15 Agustus 2026.

Rumah berdinding batu merah yang sebelumnya mereka tempati, kini ambruk pada beberapa bagian dan beberapa bagian bangunan itu mengalami keretakan, sehingga mereka tidak berani masuk kedalam rumah. 

Di tenda darurat beratapkan terpal dan beralaskan terpal itu, Filomena merawat anaknya, Maria Agustina Jein, berumur 7 bulan, suaminya merantau ke kalimantan, sehingga mereka tinggal bersama Aluysia (65) di Desa Meken Detun. 

Didalam tenda itu, selain untuk tidur, mereka menjadiakan tempat untuk mengamankan pakian, peralatan dapur untuk memasak dan surat-surat berharga. 

Baca juga: Sinergi  Rumah BUMN Ende, PLN dan BPBD Sikka Salurkan Bantuan Logistik Bagi Korban Gempa Flores

Di saat malam hari, mereka harus menutup dinding tenda itu, agar bisa tidur dengan aman, namun karena cuaca dingin dan tidur di tempat terbuka, Maria Agustina Jein, bayi berumur 7 bulan itu mengalami batuk pilek. 

Filomena khawatir, lalu membawanya ke Puskesmas Waipare dengan jarak kurang lebih 9 Kilometer dari Desa Meken Detun. 

Di Puskesmas Waipare, Maria Agustina Jein, bayi berumur 7 bulan mendapatkan penanganan medis, namun karena belum memiliki kartu BPJS, Filomena harus membayar Rp 14.500 untuk mendapatkan obat batuk pilek. 

Menurut Filomena, Anak pertamanya itu mengalami batuk pilek karena tidur diluar rumah beralaskan terpal dan beratapkan terpal, apalagi cuaca dingin saat malam hari. 

"Kesehatannya terganggu karena malamnya dingin, kemarin saya ada bawa ke puskesmas, di belum ada BPJS jadi saya bayar Rp 14.500,di puskesmas Waipare, dikasih obat, mungkin karena dingin, sehingga dia batuk pilek, karena ini kan masih terbuka, malamnya dingin sekali, " Jelasnya Rabu 26 Agustus 2026.

Selain kedinginan di malam hari, bayi 7 bulan itu pun kepanasan di dalam tenda, Filomena harus membuat kipas angin darurat dari kardus bekas agar anaknya bisa nyaman. 

Meski demikian, Filomena masih bersyukur karena seluruh anggota keluarganya selamat dan bisa berkumpul bersama meski di bawah tenda darurat. 

Tenda darurat mereka persis berada di ketinggian sehingga, angin kencang sering melanda tenda darurat mereka yang dibangun menggunakan beberapa batang bambu dan ditutup terpal. (awk)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.