Opini: Seni Masa Bodoh di Era Digital
Dion DB Putra August 26, 2026 11:19 AM

Oleh: Agustinus Gereda Tukan
Dosen, peneliti, dan penulis; tinggal di Merauke, Papua Selatan.

POS-KUPANG.COM - Belakangan ini, ruang publik digital kita, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali memanas menyusul beredarnya potongan video khotbah Pdt. Mell Atock. 

Dalam tayangan yang beredar luas di YouTube dan TikTok tersebut, sang pendeta mengaitkan bencana gempa bumi yang melanda wilayah Flores dengan dosa, kemiskinan, dan praktik penyembahan berhala. 

Sontak, pernyataan ini memicu gelombang kecaman dan kemarahan dari berbagai kalangan. 

Di tengah duka warga yang kehilangan tempat tinggal, pernyataan semacam ini dinilai sangat nir-empati dan melukai kebatinan masyarakat NTT, khususnya umat Katolik yang menjadi mayoritas di wilayah tersebut.

Baca juga: Opini: Pesan Moderasi Beragama dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka

Merespons narasi provokatif dengan emosi yang meledak-ledak di media sosial adalah reaksi yang sangat manusiawi. 

Namun sayangnya, hal itu tidak selalu produktif. Jika kita menelaah fenomena ini dengan kepala dingin, ada dua perspektif krusial yang perlu kita kedepankan untuk merespons (atau lebih tepatnya, untuk tidak merespons) kontroversi ini: kacamata logika sains dan literasi digital yang kita sebut sebagai “seni masa bodoh”.

Cacat Logika dan Fakta Geologis yang Terabaikan

Secara penalaran dasar, mengaitkan bencana alam dengan moralitas atau dosa suatu kelompok masyarakat adalah sebuah sesat pikir yang dikenal sebagai ‘kesalahan kausalitas’ (false cause fallacy). 

Dalam sesat pikir ini, sebuah peristiwa alamiah ditarik paksa untuk menjadi akibat dari perilaku sosial yang sama sekali tidak memiliki korelasi yang terbukti secara logis maupun empiris.

Mari kita berpijak pada fakta sains yang tak bisa dibantah. Kepulauan Indonesia, termasuk wilayah Nusa Tenggara Timur, termasuk Flores, berada di atas bentang alam yang secara geologis sangat dinamis. 

Wilayah kita dilintasi oleh Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) dan menjadi titik tumbukan beberapa lempeng tektonik utama dunia, seperti Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Pergeseran lempeng-lempeng inilah yang secara alamiah memicu gempa bumi.

Gempa di Flores, atau di daerah mana pun di Nusantara, adalah keniscayaan geografis murni. 

Bencana ini tidak memilih korban berdasarkan agama, tingkat ekonomi, atau catatan dosa mereka. 

Mengklaim bahwa gempa adalah hukuman langsung atas “praktik berhala” tidak hanya mengabaikan sains, tetapi juga menunjukkan kesempitan wawasan. 

Jika logika hukuman ini dipegang secara konsisten, maka wilayah-wilayah di dunia yang melegalkan berbagai praktik amoral seharusnya hancur lebih dulu oleh bencana. 

Nyatanya, negara dengan tingkat kejahatan tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan frekuensi gempa, sementara negara makmur dan teratur pun tetap bisa luluh lantak jika berada di zona sesar aktif seperti Jepang.

Agama dan teologi sejatinya hadir untuk membawa pengharapan dan penghiburan bagi mereka yang menderita, bukan untuk menabur garam di atas luka para penyintas bencana dengan dalil penghakiman yang serampangan.

Kewarasan Digital: Algoritma dan Seni Masa Bodoh

Perspektif kedua yang tak kalah penting adalah bagaimana kita merespons konten tersebut di dunia maya. Di era media sosial, kemarahan adalah komoditas utama. 

Platform seperti TikTok, YouTube, hingga Instagram digerakkan oleh algoritma yang tidak memiliki kompas moral untuk membedakan narasi yang benar atau salah. Algoritma hanya peduli pada satu metrik: keterlibatan (engagement).

Ketika sebuah video memancing kemarahan, apa yang terjadi? Warganet akan membagikan video tersebut (meski dengan narasi mengutuk), menulis komentar panjang yang berisi kecaman, merekam video reaksi yang emosional, dan terus-menerus membahasnya. 

Tanpa disadari, ribuan orang yang marah ini sedang bekerja secara sukarela untuk membesarkan video tersebut. 

Semakin banyak kecaman yang datang, algoritma akan membaca konten ini sebagai sesuatu yang “menarik” dan menyodorkannya ke lebih banyak layar gawai. Sang pembuat pernyataan justru mendapatkan panggung besar dan sorotan yang ia cari.

Inilah mengapa kita perlu menerapkan “seni masa bodoh” dengan penuh kesadaran. 

Para pendengar dan penonton media sosial sebaiknya tidak cepat terbawa arus emosi. 

Menanggapinya dengan kepala dingin berarti memahami bagaimana permainan algoritma ini bekerja, lalu memilih untuk tidak ikut bermain di dalamnya. 

Kita tidak perlu merespons video tersebut berulang-ulang atau membanjiri kolom komentarnya.

Memilih untuk tidak merespons secara reaktif bukan berarti membenarkan pernyataan tersebut, melainkan sebuah bentuk penolakan sadar agar kita tidak ikut membesarkan perdebatan yang nir-empati dan sama sekali tidak produktif.

Sikap “masa bodoh” ini bukanlah bentuk sikap apatis terhadap duka korban, melainkan strategi cerdas berliterasi digital. 

Dengan menahan diri untuk tidak memberikan klik, tontonan, atau komentar kemarahan, kita secara efektif “membunuh” jangkauan video tersebut. Kita memutus rantai penyebaran algoritma yang hidup dan membesar dari emosi kita.

Fokus pada yang Esensial: Kemanusiaan

Daripada menghabiskan energi, waktu, dan kuota internet untuk meladeni perdebatan dengan pihak yang sudah terlanjur tenggelam dalam fanatisme buta, jauh lebih bijak jika energi kolektif masyarakat dialihkan pada aksi-aksi konkret. 

Bencana alam menyisakan trauma mendalam, rumah yang hancur, dan warga yang kehilangan mata pencaharian.

Mari kita arahkan percakapan publik pada upaya pemulihan. Membagikan informasi posko donasi, menggalang bantuan logistik yang tepat sasaran, mendukung upaya pendampingan psikologis bagi anak-anak korban gempa, atau sekadar memanjatkan doa yang tulus, adalah bentuk tindakan yang jauh lebih bermartabat.

Pada akhirnya, ujian sejati dari masyarakat yang beradab bukanlah pada seberapa lantang kita bisa berteriak menghujat pernyataan yang keliru, melainkan seberapa nyata tangan kita terulur untuk mengangkat mereka yang sedang jatuh. 

Biarlah narasi yang menyalahkan korban meredup dan tenggelam dalam kesunyian karena kita secara kolektif menolak memberinya panggung. Masa bodoh! 

Mari kita jaga nalar kita dengan sains, rawat kewarasan digital kita dengan ketenangan, dan peluk saudara-saudari kita di NTT dengan kasih kemanusiaan yang sejati.  (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.