Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan - Gunung Anak Krakatau (GAK) mengalami tujuh kali erupsi pada Rabu (26/8/2026), sejak dini hari hingga pukul 07.00 WIB.
Baca juga: Polisi Selidiki Penyebab Kematian Bayi yang Ditemukan di Sungai Tanjungkarang Timur
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno mengatakan, tujuh kali erupsi tersebut tercatat sepanjang Rabu pagi.
Erupsi terbaru terjadi pada pukul 07.00 WIB. Saat itu, kolom abu teramati mencapai sekitar 250 meter di atas puncak atau sekitar 407 meter di atas permukaan laut (mdpl).
"Terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada Rabu, 26 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 250 meter di atas puncak atau sekitar 407 meter di atas permukaan laut," kata Suwarno, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, kolom abu hasil erupsi teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat serta barat laut.
Erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 52 milimeter dan durasi 22 detik.
Sebelumnya, erupsi terjadi pada pukul 06.34 WIB. Kolom abu saat itu teramati mencapai sekitar 200 meter di atas puncak atau 357 mdpl.
Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas sedang hingga tebal dan bergerak ke arah barat serta barat laut.
Erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 48 milimeter dan berlangsung selama 14 detik.
Erupsi berikutnya terjadi pada pukul 06.03 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 150 meter di atas puncak atau 307 mdpl.
"Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal ke arah barat dan barat laut. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 54 milimeter dan durasi 20 detik," ujar Suwarno.
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau juga tercatat sejak dini hari. Pada pukul 02.59 WIB dan 02.52 WIB, erupsi terekam, namun secara visual letusan tidak teramati. Saat laporan dibuat, aktivitas erupsi masih berlangsung.
Sementara itu, pada pukul 01.32 WIB, erupsi terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 20 milimeter dan durasi 24 detik.
Kemudian pada pukul 00.33 WIB, erupsi kembali terekam dengan amplitudo maksimum 38 milimeter dan durasi 14 detik.
Suwarno menegaskan, status Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III atau Siaga.
Masyarakat, wisatawan, dan nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau diminta meningkatkan kewaspadaan.
Mereka juga diimbau tidak mendekati kawasan gunung api atau melakukan aktivitas di dalam radius yang telah ditetapkan oleh otoritas vulkanologi.
Masyarakat diminta terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui informasi resmi dari pihak berwenang untuk mengantisipasi potensi bahaya akibat peningkatan aktivitas vulkanik.
(Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus)