Komunitas Sepeda Tegak Lurus Semarang, Gowes Sambil Tandai Jalan Berlubang
muslimah August 26, 2026 12:14 PM

Komunitas Sepeda Tegak Lurus Semarang, Gowes Sambil Tandai Jalan Berlubang

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Sekelompok pesepeda dari komunitas sepeda Tegak Lurus Semarang malam itu melintas di Jalan Pandanaran, Mugassari, Semarang Selatan, Kota Semarang.

Tiba-tiba pandangan mereka tertuju pada satu lubang yang cukup mengangga lebar tak jauh dari Taman Pandanaran.

Rombongan pesepeda itu lantas mengurangi kecepatannya untuk menepi.

Tak banyak bicara, mereka lantas mengeluarkan satu kaleng cat semprot warna putih.

Dengan gerakan melingkar, pesepeda itu menandai lubang jalan itu berbentuk lingkaran putih.

Alhasil, para pengguna jalan yang melintas menjadi lebih waspada dengan adanya ancaman jalan berlubang.

Baca juga: 2 Orang Tewas Terlindas Dump Truk, Berawal Senggolan Setang Motor

Itulah kegiatan dari komunitas sepeda Tegak Lurus Semarang dalam setiap melakukan gowes.

Mereka tidak hanya bersepeda melainkan melakukan kegiatan pemberian tanda jalan berlubang.

Ketua Komunitas Tegak Lurus, Egi Cahyo Aprianto (32) mengatakan, kegiatan memberikan tanda jalan berlubang merupakan kegiatan rutin yang sudah lama dilakukan oleh komunitasnya.

Kegiatan ini bermula dari pengalaman pribadi anggota komunitas yang merasa risih atau hampir celaka karena adanya jalan berlubang.

"Kami akhirnya inisiatif untuk memberikan tanda jalan berlubang agar memberikan rambu-rambu bagi pengguna jalan," ujar Egi kepada Tribun, Selasa (25/8/2026).

Egi mengatakan, pemberian tanda jalan berlubang awalnya juga hanya kegiatan sambilan sembari bersepeda.

Mereka juga menggunakan pilok sisa dari seorang anggota komunitas.

Namun, lama kelamaan mereka akhirnya menganggarkan pembelian cat semprot itu dari uang kas anggota.

Selama ini, mereka telah menandai hampir ratusan lubang di jalanan kota Semarang.

"Temuan jalan berlubang banyak ditemukan di wilayah Semarang Timur, Semarang Utara juga lumayan banyak , Semarang Barat dan Semarang bagian tengah juga lumayan , dan masih selalu kita pantau arah Semarang Selatan," bebernya.

GOWES MALAM - Aktivitas Gowes komunitas Tegak Lurus Semarang, Agustus 2026. Komunitas ini aktif melakukan gowes sepeda dengan mengusung konsep
GOWES MALAM - Aktivitas Gowes komunitas Tegak Lurus Semarang, Agustus 2026. Komunitas ini aktif melakukan gowes sepeda dengan mengusung konsep "pedal party", yakni bersepeda dengan riang gembira menyusuri sudut kota yang ingin disambangi tanpa memandang merek sepeda, jenis sepeda, dan batasan waktu. (TRIBUN JATENG/iwan Arifianto)

Respon Baik dari Warga Maupun Pengguna Jalan

Egi menilai, dari aktivitas pemberian tanda jalan berlubang tersebut mendapatkan respon yang baik dari masyarakat. Mereka memberikan apresiasi saat aktivitas sosial itu dilakukan.

"Warga sekitar atau pengguna jalan yang berpapasan dengan kami memberikan apresiasi, karena mereka terbantu dengan pemberian tanda ini," katanya.

Ia juga senang selepas pemberian tanda tersebut, pihak pemerintah lantas melakukan penambalan jalan.

Oleh karena itu, pihaknya bakal terus melakukan pemberian tanda jalan agar pengguna jalan terbantu dan mengurangi potensi kecelakaan lalu lintas.

"Ya setidaknya kami tetap memberikan rambu ke pengguna jalan dan kita juga tidak berharap banyak ke pemerintah," jelasnya.

Kendati demikian, Egi menilai, kondisi infrastruktur jalan di kota Semarang sebetulnya sudah cukup nyaman bagi para pengguna jalan khsususnya bagi para pesepeda.

Hanya saja, belum banyak ruas jalan yang mempunyai jalur khusus pesepeda.

Tidak hanya jalur khusus sepeda, titik rest point bagi pesepeda juga masih minim.

 Dengan kondisi itu, ia berharap, Semarang bisa berbenah agar semakin ramah dengan pesepeda.

"Kami juga berharap ego setiap pengguna jalan bisa sama-sama selaras , lebih sabar aja dan saling memahami, tanpa adanya batasan lebih prioritas mana , terkecuali keadaan darurat seperti mobil ambulance dan truk pemadam kebakaran," ucapnya.

Komunitas Sepeda dengan Konsep Pedal Party

Komunitas sepeda Tegak Lurus  juga mengusung konsep "pedal party", yakni bersepeda dengan riang gembira menyusuri sudut kota yang ingin disambangi tanpa memandang merek sepeda, jenis sepeda, dan batasan waktu.

Egi menyebut, pedal party sebuah kebahagiaan dalam bersepeda itulah yang menjadi cikal bakal komunitasnya terbentuk pada 12 Oktober 2025 lalu.

Meski pada awalnya komunitas sepeda ini dikhususkan pada sepeda fixed gear atau fixie, seiring berjalannya waktu, komunitas membuka diri bagi siapapun yang mau bergabung.

Situasi melebur itu mempengaruhi pula pada slogan komunitas yakni For Bike All Bike Pvnkride atau dari sepeda untuk semua sepeda.

"Pvnkride bermakna berpesta di jalan,gengsi belakangan, tanpa batasan, yang penting kebersamaan untuk bersenang senang tanpa merugikan," jelasnya.

Selama ini, Egi menjelaskan, komunitasnya telah memiliki berbagai kegiatan gowes yang disesuaikan dengan agenda acaranya.

Semisal agenda gowes Jerid'an berarti Jemuah Riding Malam, berupa pertemuan kopi darat (kopdar) rutin di setiap Jumat malam dan selalu di barengin dengan Bersepeda Berbagi (B2B).

"Kalau kegiatan B2B, apapun yang berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan, semampu dan sebisa kami bergerak, seperti bakti sosial ke panti, jumat berkah, pembersihan lingkungan, dan lainnya," katanya.

Kegiatan lainnya yakni Pagi-pagi Pedal Lagi (P3L), berupa bersepeda ke kantor atau bersepeda jarak dekat atau jauh.

Adapula Pedal Explore (Pelor) merupakan kegiatan bersepeda blusukan menyusuri jalan-jalan yang belum pernah dilalui maupun ke destinasi wisata hidden gem yang belum atau jarang dijamah masyarakat.

Egi melanjutkan, komunitasnya juga ada kegiatan sambang kampung, kegiatan ini lebih mengenal kultur masyarakat desa.

"Kami juga ada konsep sepeda roda rasa yaitu bersepeda sambil kulineran, sasarannya bantu-bantu UMKM juga yang penting nyaman , enak ramah di kantong dan penjual ramah," tandasnya. (Iwn)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.