Bacaan Doa Setelah Membaca Shalawat Nabi Agar Mendapat Keberkahan
Muhamad Ridlo August 26, 2026 12:30 PM

Liputan6.com, Jakarta - Membaca shalawat Nabi menjadi yang dianjurkan dan mengandung fadhilah yang besar. Doa setelah membaca shalawat nabi agar mendapat keberkahan sayang dilewatkan karena di dalamnya terkandung permohonan yang mencakup seluruh aspek kehidupan.

Allah SWT memerintahkan hamba-Nya bersholawat, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Ahzab [33]: 56). Perintah ini menunjukkan betapa istimewanya shalawat sebagai bentuk ibadah yang tidak hanya diperintahkan, tetapi juga dicontohkan langsung oleh Allah dan para malaikat.

Qadhi 'Iyadh dalam kitab Asy-Syifa' menerangkan bahwa pembacaan shalawat di setiap permulaan urusan bertujuan untuk memohon berkah (bertabarruk). Rasulullah SAW sendiri bersabda: “Setiap perbuatan penting yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah dan bershalawat kepadaku niscaya kurang sempurna.”

Doa setelah membaca shalawat menjadi pelengkap yang sempurna. Ustadz Mahmud Sami dalam kitab 70 Shalawat Pilihan menjelaskan bahwa shalawat pada hakikatnya adalah bentuk pengagungan kepada Nabi sekaligus pengakuan atas kedudukan beliau di sisi Allah.

Sementara, dalam 1001 Shalawat karya Muhammad Taufiq Ali Yahya, disebutkan bahwa doa setelah shalawat menjadi sarana untuk menyempurnakan amalan dan memohon keberkahan yang lebih luas.

Bacaan Doa Setelah Shalawat: Arab, Latin, dan Artinya

Berikut adalah doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca setelah selesai membaca shalawat, sebagaimana tercantum dalam kitab Dalailul Khairat dan berbagai sumber kredibel lainnya.

Teks Arab: اَللَّهُمَّ اشْرَحْ بِالصَّلاَةِ عَلَيْهِ صُدُوْرَنَا، وَيَسِّرْ بِهَا أُمُوْرَنَا، وَفَرِّجْ بِهَا هُمُوْمَنَا وَاكْشِفْ بِهَا غُمُومَنَا، وَاغْفِرْ بِهَا ذُنُوْبَنَا وَاقْضِ بِهَا دُيُوْنَنَا، وَأَصْلِحْ بِهَا أَحْوَالَنَا وَبَلِّغْ بِهَا آمَالَنَا وَتَقَبَّلْ بِهَا تَوْبَتَنَا، وَاغْسِلْ بِهَا حَوْبَتَنَا وَانْصُرْ بِهَا حُجَّتَنَا، وَطَهِّرْ بِهَا أَلْسِنَتَنَا، وَآنِسْ بِهَا وَحْشَتَنَا، وَارْحَمْ بِهَا غُرْبَتَنَا، وَاجْعَلْهَا لَنَا نُوْرًا بَيْنَ أَيْدِيْنَا وَمِنْ خَلْفِنَا، وَعَنْ أَيْمَانِنَا وَعَنْ شَمَائِلِنَا، وَمِنْ فَوْقِنَا وَمِنْ تَحْتِنَا، وَفِى حَيَاتِنَا وَمَوْتِنَا، وَفِى قُبُوْرِنَا وَحَشْرِنَا وَنَشْرِنَا، وَظِلاًّ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى رُؤُوْسِنَا، وَثَقِّلْ بِهَا يَا رَبِّ مَوَازِيْنَ حَسَنَاتِنَا، وَأَدِمْ بَرَكَاتِهَا عَلَيْنَا حَتَّى نَلْقَى نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ آمِنُوْنَ مُطْمَئِنُّوْنَ فَرِحُوْنَ مُسْتَبْشِرُوْنَ، وَلاَ تُفَرِّقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ حَتَّى تُدْخِلَنَا مَدْخَلَهُ وَتَأْوِيَنَا إِلَى جِوَارِهِ الكَرِيْمِ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ، وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيْقًا. ذَلِكَ الفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

Latin: Allāhummasyroh biṣ-ṣalāti ‘alaihi ṣudūranā, wa yassir bihā umūranā, wa farrij bihā humūmanā, waksyif bihā ghumūmanā, waghfir bihā dzunūbanā, waqdhi bihā duyūnanā, wa aṣliḥ bihā aḥwālanā, wa balligh bihā āmālanā, wataqabbal bihā taubatanā, wagsil bihā ḥaubatanā, wanshur bihā ḥujjatanā, waṭahhir bihā alsinatanā, wa ānis bihā waḥsyatanā, warḥam bihā ghurbatanā, waj‘alhā lanā nūran baina aidīnā wa min khalfinā, wa ‘an aimāninā wa ‘an syamāilinā, wa min fauqinā wa min taḥtinā, wa fī ḥayātinā wa mautinā, wa fī qubūrinā wa ḥasyrinā wa nasyrinā, wa ẓillan yaumal-qiyāmati ‘alā ru’ūsinā, wa tsaqqil bihā yā rabbi mawāzīna ḥasanātinā, wa adim barakātihā ‘alainā ḥattā nalqā nabiyyanā wa sayyidanā Muḥammadan ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, wa naḥnu āminūna muṭma’innūna fariḥūna mustabsyirūn, wa lā tufarriq bainanā wa bainahū ḥattā tudkhilanā madkhalahū wa ta’wiyanā ilā jiwārihil-karīm, ma‘al-ladzīna an‘amta ‘alaihim minan-nabiyyīna waṣ-ṣiddīqīna wasy-syuhadā’i waṣ-ṣāliḥīn, wa ḥasuna ulā‘ika rafīqā. Dzālikal-faḍlu minallāhi wa kafā billāhi ‘alīmā. Allāhumma shalli ‘alā Muḥammadin wa ‘alā āli Muḥammad, kamā shallayta ‘alā Ibrāhīma wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka Ḥamīdun Majīd. Wa ṣallallāhu ‘alā sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihī wa ṣaḥbihī wa sallam, wal-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn.

Artinya: “Ya Allah, dengan shalawat kepada Nabi Muhammad, lapangkanlah dada kami, mudahkanlah urusan kami, hilangkanlah kesedihan kami, singkapkanlah kegundahan kami, ampunilah dosa-dosa kami, lunaskanlah hutang-hutang kami, perbaikilah keadaan kami, sampaikanlah cita-cita kami, terimalah taubat kami, bersihkanlah kesalahan kami, menangkanlah hujjah kami, sucikanlah lisan kami, hiburlah kesepian kami, sayangilah kami dalam keterasingan kami, dan jadikanlah shalawat tersebut sebagai cahaya di hadapan kami, di belakang kami, di samping kanan dan kiri kami, di atas dan di bawah kami, dalam kehidupan dan kematian kami, di dalam kubur, saat kebangkitan, dan saat penyebaran kami, serta sebagai naungan di hari Kiamat di atas kepala kami. Dan beratkanlah dengannya, wahai Tuhanku, timbangan kebaikan kami. Dan kekalkanlah keberkahannya atas kami hingga kami bertemu dengan Nabi dan junjungan kami Muhammad SAW dalam keadaan aman, tenteram, gembira, dan penuh bahagia. Dan janganlah Engkau pisahkan kami darinya hingga Engkau masukkan kami ke tempatnya dan tempatkan kami di sisi mulianya, bersama orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, yaitu para nabi, orang-orang yang benar, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka adalah teman yang sebaik-baiknya. Itulah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah sebagai Yang Maha Mengetahui. Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Kandungan Makna Doa Setelah Shalawat

Doa setelah shalawat ini memiliki kandungan makna yang sangat dalam dan komprehensif. Setiap frasa dalam doa ini mencerminkan permohonan seorang hamba yang ingin meraih keberkahan dalam seluruh aspek kehidupannya.

1. Permohonan Kelapangan Dada dan Kemudahan Urusan

Doa diawali dengan permohonan agar Allah melapangkan dada (syarhush shudur) dan memudahkan segala urusan (taysir al-umur). Ini adalah inti dari keberkahan hidup—ketika hati lapang dan urusan dimudahkan, maka segala aktivitas akan terasa ringan dan penuh keberkahan.

2. Permohonan Penghilangan Kesedihan dan Kegundahan

“Hilangkanlah kesedihan kami, singkapkanlah kegundahan kami.” Keberkahan tidak hanya tentang kelimpahan materi, tetapi juga tentang ketenangan jiwa dan kebahagiaan batin. Doa ini mengajarkan bahwa seorang mukmin memohon kepada Allah agar dijauhkan dari segala bentuk kesedihan dan kegundahan yang dapat menghalangi kedekatan kepada-Nya.

3. Permohonan Ampunan dan Penyucian Diri

“Ampunilah dosa-dosa kami, lunaskanlah hutang-hutang kami, perbaikilah keadaan kami...” Keberkahan sejati hanya akan terasa jika dosa-dosa diampuni dan keadaan diperbaiki. Doa ini mencakup permohonan ampunan lahir dan batin, serta perbaikan kondisi hidup secara menyeluruh.

4. Permohonan Cahaya dan Naungan di Hari Kiamat

Doa ini memohon agar shalawat yang dibaca menjadi cahaya yang menerangi di segala sisi—depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah—serta menjadi naungan di hari Kiamat. Ini adalah permohonan agar amalan shalawat tidak hanya bermanfaat di dunia, tetapi juga menjadi bekal yang menyelamatkan di akhirat.

5. Permohonan Bertemu dengan Rasulullah SAW

Puncak dari doa ini adalah permohonan agar kelak dapat bertemu dengan Rasulullah SAW dalam keadaan aman, tenteram, gembira, dan penuh bahagia, serta ditempatkan di sisi mulianya bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Inilah keberkahan tertinggi yang diidamkan oleh setiap Muslim.

Fadhilah Doa Setelah Membaca Shalawat

1. Doa Menjadi Lebih Mustajab (Mudah Dikabulkan)

Membaca shalawat sebelum dan setelah berdoa merupakan salah satu kunci terkabulnya doa. Apabila kita mengawali dan mengakhiri doa dengan shalawat untuk Rasulullah SAW, maka doa tersebut akan dikabulkan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda bahwa doa yang diawali dengan memuji Allah dan membaca shalawat akan lebih mudah diangkat ke langit. Dalam kitab 70 Shalawat Pilihan karya Ustadz Mahmud Sami, ditegaskan bahwa doa yang tidak diawali dengan shalawat akan terhalang untuk dikabulkan.

2. Mendapat Balasan 10 Kali Lipat dari Allah

Setiap shalawat yang dibaca akan dibalas oleh Allah dengan sepuluh shalawat, dihapus sepuluh dosa, dan diangkat sepuluh derajat. Doa setelah shalawat menjadi penyempurna amalan ini, sehingga pahala yang diperoleh semakin berlipat ganda. Dalam 1001 Shalawat karya Muhammad Taufiq Ali Yahya, dijelaskan bahwa shalawat memiliki keutamaan besar dalam mengabulkan hajat.

3. Mendapat Keberkahan yang Meliputi Seluruh Aspek Kehidupan

Doa setelah shalawat mengandung permohonan keberkahan yang komprehensif: kelapangan dada, kemudahan urusan, penghilangan kesedihan, ampunan dosa, pelunasan hutang, perbaikan keadaan, dan tercapainya cita-cita. Ini menjadikan doa ini sebagai amalan yang sangat lengkap untuk memohon keberkahan hidup secara menyeluruh.

4. Mendapat Perlindungan dan Pertolongan Allah

Dengan membaca doa setelah shalawat, seorang hamba memohon perlindungan dari segala keburukan dan malapetaka. Doa ini juga berisi permohonan agar Allah menolong dan memenangkan hujjah (argumentasi) pembacanya, serta menyucikan lisan dari perkataan-perkataan yang tidak bermanfaat.

5. Mendapat Tempat Mulia di Sisi Rasulullah SAW di Akhirat

Salah satu fadhilah terbesar dari doa setelah shalawat adalah permohonan agar kelak dapat bertemu dengan Rasulullah SAW dalam keadaan aman dan tenteram, serta ditempatkan di sisi mulianya bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Ini merupakan keberkahan tertinggi yang menjadi dambaan setiap Muslim.

 

Pertanyaan Seputar Shalawat

1. Apakah doa setelah membaca shalawat harus dibaca dengan lafal tertentu atau bisa dengan doa sendiri?

Doa setelah shalawat dapat dibaca dengan lafal yang diajarkan oleh para ulama, seperti doa dari kitab Dalailul Khairat, namun seorang Muslim juga boleh berdoa dengan bahasa dan redaksi apa pun yang diinginkan setelah membaca shalawat. Yang terpenting adalah memohon kepada Allah dengan penuh keyakinan dan keikhlasan.

2. Kapan waktu terbaik untuk membaca doa setelah shalawat?

Waktu terbaik adalah segera setelah selesai membaca shalawat, terutama setelah salat fardhu atau setelah membaca shalawat dalam majelis ilmu dan dzikir. Waktu setelah salat merupakan salah satu waktu mustajab untuk berdoa, sehingga sangat dianjurkan untuk membaca shalawat dan doa setelahnya.

3. Apakah doa setelah shalawat harus dibaca dengan suara keras?

Tidak harus. Doa dapat dibaca dengan suara lirih (sirr) maupun keras (jahr), tergantung pada situasi dan kondisi. Yang terpenting adalah kekhusyukan dan ketulusan hati dalam berdoa.

4. Apa hubungan antara shalawat dan terkabulnya doa?

Shalawat menjadi wasilah (perantara) yang mendekatkan doa kepada Allah SWT. Dengan shalawat, maka turunlah rahmat Allah SWT, sehingga sepatutnya bagi seorang Muslim yang ingin hajatnya terkabul untuk memulai dan mengakhiri doanya dengan membaca shalawat.

5. Apakah doa setelah shalawat hanya boleh dibaca setelah membaca shalawat tertentu?

Tidak. Doa ini sangat baik dibaca setelah membaca shalawat secara umum, baik shalawat yang pendek maupun yang panjang. Doa ini bersifat universal dan dapat diamalkan setelah membaca berbagai macam shalawat, seperti Shalawat Ibrahimiyah, Shalawat Nariyah, Shalawat Munjiyat, atau shalawat lainnya.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.