TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMPUNG TIMUR — 40 personel pasukan khusus Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam Tim Alfa dikerahkan untuk melumpuhkan titik-titik api yang sulit dijangkau pada kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Selasa (25/8/2026). Bahkan dua helikopter water bombing sudah dikerahkan ke Lampung untuk mempercepat penanganan kebakaran.
Pengerahan tersebut seusai perintah Presiden RI, Prabowo Subianto saat melakukan rapat rapat koordinasi penanggulangan karhutla secara daring bersama Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Senin (24/8/2026). Presiden menyebut, percepatan pemadaman menjadi penting karena lokasi kebakaran berada di kawasan konservasi yang menjadi habitat gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus).
Apalagi api yang pada Sabtu (22/8/2026) sempat padam, sejak Senin (24/8/2026) kembali muncul. Bahkan sejak Selasa (25/8/2026), luasan area yang terdampak kebakaran bertambah sekitar 100,75 hektare. Bila sebelumnya luas lahan yang terbakar tercatat sekitar 673 hektare, kini total luasan area yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 774 hektare.
Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, mengatakan bahwa pengerahan puluhan prajurit bermobilitas tinggi ini menjadi taktik utama untuk melumpuhkan titik-titik api yang tidak bisa dijangkau melalui jalur darat biasa.
"Sesuai instruksi Presiden dan Panglima TNI, kami menerjunkan 40 personel Tim Alfa ke lokasi-lokasi sulit yang masih menyisakan hotspot. Tim ini didukung personel berkemampuan penerjun freefall serta metode fast ropping untuk menembus wilayah terisolasi," ujar Mayjen TNI Kristomei Sianturi, Selasa.
Sebelum 40 prajurit Tim Alfa bergerak menyisir darat, menurut Kristomei, pemetaan awal dilakukan menggunakan drone thermal untuk mendeteksi bara api di bawah permukaan tanah yang berpotensi memicu kebakaran berulang. Tak hanya itu, penanganan juga dikombinasikan dengan pemadaman udara.
Aksi taktis di lapangan juga disokong penuh oleh pemadaman udara (water bombing) serta armada drone semprot berkapasitas 16 hingga 100 liter yang beroperasi menyiram kawasan kritis secara berkala.
"Siang ini kita menyiapkan penanganan water bombing untuk menyirami titik hotspot agar suhunya turun. Selain itu, kami mendatangkan drone semprot berkapasitas 16 liter, 30 liter, hingga 100 liter yang bisa beroperasi bolak-balik menyiram kawasan yang tidak bisa dijangkau dengan jalan kaki," tambahnya.
Kristomei menyebutkan, berdasarkan data penanganan di lapangan, akumulasi area terdampak karhutla yang mayoritas merupakan padang alang-alang telah mencapai ratusan hektar. Menurutnya, pada periode 21–22 Agustus ada seluas 673 hektare lahan terbakar di kawasan yang masuk Desa Braja Harjosari. Sementara pada 23–24 Agustus, ada tambahan 123 hektare terbakar di Braja Kencana dan Braja Luhur, serta 6,4 hektare di Rantau Jaya.
Ia menyebutkan, fokus utama pergerakan cepat 40 personel Tim Alfa dan tim gabungan adalah melokalisasi pergerakan api agar tidak menyebar ke habitat inti satwa. "Langkah cepat ini diprioritaskan untuk mengamankan kawasan TNWK sekaligus melindungi satwa liar dilindungi seperti gajah dan badak sumatra dari dampak asap dan api," tutur Kristomei.
Saat ini, petugas maish memantau 11 kelompok gajah liar. Kelompok terdekat disebut berada sekitar 27 kilometer dari lokasi kebakaran, sedangkan gajah di Pusat Konservasi Gajah (PKG) yang berjarak sekitar delapan kilometer dipastikan masih aman.
Sementara itu, dua helikopter water bombing dikerahkan ke Lampung untuk mempercepat penanganan karhutla di kawasan TNWK. Pengerahan dua helikopter seusai perintah presiden Prabowo melakukan rapat virtual bersama Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Senin (24/8).
Dua helikopter masing-masing didatangkan dari Palembang dan Jawa Timur untuk membantu pemadaman dari udara, terutama di area yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Langkah tersebut jadi bagian dari penguatan operasi penanganan karhutla yang dilakukan pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dan tim gabungan di lapangan.
"Iya siang ini dilakukan water Bombing. Helikopter BNPB sudah terbang dari Palembang," ujar Humas Balai TNWK, Riri Fitriandi dihibungi, Selasa (25/8).
Selain water bombing dengan helikopter, pemerintah pusat juga memberi dukungan peralatan untuk memperkuat pemadaman dari darat. Dalam rilis resmi Pemprov Lampung, menyebut bantuan peralatan dari pemerintah pusat meliputi 20 pompa air, selang sepanjang 3 kilometer, flexible tank, serta drone penyemprot berkapasitas 16 hingga 100 liter.
Saat ditanya mengenai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang sebelumnya sempat direncanakan, Riri mengatakan belum mengetahui secara rinci skema tersebut. "Saya kurang paham skema ini. Cuma saya taunya water bombing pakai heli," katanya.
Riri juga menegaskan, bahwa pengerahan water bombing bukan berarti penanganan dari darat dihentikan. Tim gabungan tetap berada di lokasi untuk melakukan pemantauan dan penanganan apabila kembali ditemukan asap maupun bara. "Bukan water bombing saja, tim tetap di lapangan. Semuanya jalan terus," ujarnya.
Kebakaran karhutla di kawasan TNWK hingga kini masih belum sepenuhnya padam. Staf Pusdalops BPBD Provinsi Lampung, Faresha Revanza mengatakan, hingga Selasa (25/8), masih ditemukan sejumlah titik api di kawasan TNWK. Dan upaya pemadaman terus dilakukan untuk mencegah api kembali menyebar. "Per hari ini masih ada titik-titik api. Tapi tim tetap melakukan pemadaman," kata Faresha, Selasa (25/8).
Ia menjelaskan, berdasarkan perkembangan terbaru, luasan area yang terdampak kebakaran bertambah sekitar 100,75 hektare. Sebelumnya luas lahan yang terbakar tercatat sekitar 673 hektare. Dengan adanya penambahan tersebut, total luasan area yang terbakar kini diperkirakan mencapai sekitar 774 hektare.
Faresha mengungkapkan, salah satu kendala utama dalam penanganan karhutla di TNWK adalah sulitnya akses menuju titik api. Petugas harus menyusuri kawasan hutan untuk memastikan titik-titik api benar-benar padam. Selain itu keterbatasan peralatan juga menjadi tantangan.
Menurutnya, pemantauan titik panas selama ini dilakukan melalui data satelit, helikopter, drone, hingga pengamatan visual petugas di lapangan. Namun, metode tersebut dinilai belum cukup untuk mendeteksi api yang masih berada di bawah permukaan atau tertutup asap tipis.
"Harusnya memang menggunakan kamera termal. Karena di atasnya cuma asap sedikit, tapi kita tidak tahu di dalamnya mungkin masih ada apinya," jelasnya.
Karena keterbatasan kamera termal, petugas harus melakukan penyisiran secara langsung ke sejumlah area untuk memastikan bara atau api yang tersisa benar-benar padam.
Selain water bombing, BPBD Lampung juga berkoordinasi untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Faresha menyebut, OMC direncanakan mulai dilakukan, pada Rabu (26/8) dengan melibatkan BMKG, BNPB, Lanud, serta tim terkait lainnya.
Ia menjelaskan, OMC berbeda dengan water bombing. Untuk water bombing dilakukan dengan menjatuhkan air langsung dari helikopter ke lokasi kebakaran. Sementara OMC dilakukan dengan memodifikasi kondisi atmosfer untuk memicu turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan.
"Kalau menyebarkan air secara langsung itu namanya water bombing. Tapi kalau OMC cakupannya lebih luas, kita memodifikasi cuaca," jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, OMC akan bergantung pada kondisi pembentukan awan dan arah angin. Karena itu, hujan tidak dapat dikendalikan secara tepat pada satu titik tertentu. "OMC itu kita tidak benar-benar mengontrol hujan titiknya berada di mana. Karena tergantung pembentukan awan dan arah anginnya yang lebih memahami sebenarnya teman-teman dari BMKG," ujarnya.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menegaskan komitmennya dalam memperkuat mitigasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Langkah ini dilakukan melalui pembentukan Satgas gabungan lintas sektor serta sosialisasi masif kepada masyarakat.
Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela mengungkapkan bahwa Gubernur Lampung telah mengomandoi pembentukan tim gabungan yang melibatkan TNI, Polri, Balai TNWK, serta instansi terkait untuk menyisir dan memitigasi potensi timbulnya titik api baru.
"Pak Gubernur mengomandoi tim gabungan mulai dari TNI, Polri, Balai TNWK, dan seluruh instansi terkait untuk memitigasi hal-hal yang berpotensi memicu timbulnya titik api atau hotspot baru di kawasan Way Kambas," kata Wagub Jihan Nurlela di lokasi penanganan bencana, Selasa (25/8).
Selain langkah taktis penanganan fisik di lapangan, Pemprov Lampung menitikberatkan pendekatan pencegahan berbasis partisipasi masyarakat. Jihan menyebut pentingnya kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian ekosistem taman nasional.
Langkah mitigasi sosial ini diharapkan mampu mendampingi upaya pemadaman darat dan udara yang sedang berlangsung, sehingga risiko kebakaran berulang akibat kelalaian manusia dapat ditekan secara signifikan.
"Kami mengajak seluruh elemen masyarakat dan komunitas, seperti Pramuka serta para aktivis lingkungan, untuk sama-sama menjaga kawasan ini. Edukasi dan sosialisasi akan makin dimasifkan agar masyarakat lebih peduli dan paham mengenai potensi ancaman pemicu kebakaran," tegas Jihan.
Sedangkan Kepolisian Daerah (Polda) Lampung saat ini masih mendalami pemicu terjadinya karhutla di kawasan TNWK. Selain faktor cuaca ekstrem, polisi menyoroti adanya kebiasaan atau tradisi lokal masyarakat yang berpotensi memicu timbulnya kobaran api.
Kapolda Lampung, Irjen Pol Helfi Assegaf, menjelaskan bahwa penelusuran di lapangan menunjukkan indikasi kebiasaan pembakaran lahan pemukiman atau sekitar kawasan guna memancing tumbuhnya vegetasi baru.
"Ada tradisi masyarakat setempat yang melakukan pembakaran lahan untuk menumbuhkan tanaman baru. Tanaman muda inilah yang nantinya menarik perhatian hewan-hewan buruan untuk datang. Nah, pola dan kebiasaan seperti ini yang perlu kita edukasi," ungkap Helfi.
Untuk mengatasi hal tersebut, kepolisian bersama TNI, Pemprov Lampung, dan pihak balai mengedepankan pendekatan preventif melalui edukasi masif kepada warga sekitar agar menghentikan praktik pembakaran lahan dalam bentuk apa pun. Saat ditanya mengenai potensi pelanggaran tindak pidana lain di dalam kawasan hutan, Kapolda menegaskan tidak ditemukan adanya indikasi kegiatan ilegal seperti pembalakan liar (illegal logging).
"Kalau dugaan kegiatan ilegal seperti logging tidak ada, karena area yang terbakar ini adalah padang savana alang-alang. Sampai saat ini fokus utama kita adalah tindakan pencegahan dan edukasi masif. Belum ada arah ke proses penyidikan pidana," pungkas Kapolda Lampung.
(tribunlampung.co.id/fajar ihwani sidiq/hurri agusto/riyo pratama)