BREAKING NEWS: Balita Gizi Buruk di Tambaksari Dibawa ke RSUD Ciamis, Dokter Gerak Cepat
Ravianto August 26, 2026 01:33 PM

TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS - Penanganan terhadap anak asal Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis yang diduga mengalami gizi buruk dilakukan secara cepat oleh RSUD Ciamis. 

Begitu mendapat rujukan dari Puskesmas, anak tersebut langsung mendapat pemeriksaan awal di RSUD Ciamis, Rabu (26/8/2026).

Direktur RSUD Ciamis, dr. Bayu Yudiawan, mengatakan kasus tersebut sebelumnya ditemukan melalui penjaringan yang dilakukan Puskesmas. 

Dari hasil pemeriksaan awal, berat badan anak berada di bawah garis merah pada Kartu Menuju Sehat (KMS).

Meski demikian, kondisi umum anak saat tiba di rumah sakit disebut cukup baik. Anak masih aktif dan memiliki pola makan yang dinilai bagus.

"Keadaan umum secara umum baik, anaknya aktif, pola makan juga bagus. Aktivitas sehari-harinya juga tidak terlalu mengkhawatirkan. Cuma memang saat penimbangan ada underweight, di KMS berada di bawah garis merah," kata Bayu saat ditemui di RSUD Ciamis.

Baca juga: Miris, Bayi 3 Tahun di Tambaksari Ciamis Alami Gizi Buruk, Berat Badan Hanya 9 Kilogram

Menurut Bayu, RSUD Ciamis langsung menjadikan anak tersebut sebagai pasien prioritas. 

Pemeriksaan dilakukan untuk mencari tahu penyebab berat badan anak berada di bawah standar.

Ia menegaskan, keluarga tidak perlu memikirkan persoalan biaya selama proses penanganan.

GIZI BURUK -  Anggota DPRD Kabupaten Ciamis dari Fraksi PPP, Ujang Haeruman (baju biru muda) saat mengunjungi rumah Aef Heryadi di Desa Kaso, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Aef diketahui memiliki berat badan hanya 9 kilogram dan diduga alami gizi buruk.
GIZI BURUK - Anggota DPRD Kabupaten Ciamis dari Fraksi PPP, Ujang Haeruman (baju biru muda) saat mengunjungi rumah Aef Heryadi di Desa Kaso, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Aef diketahui memiliki berat badan hanya 9 kilogram dan diduga alami gizi buruk. (Istimewa)

"Untuk perhatian pembiayaan dan sebagainya itu sudah kita tangani. Keluarga tidak usah memikirkan lagi proses dan sebagainya," ujarnya.

Bayu mengatakan, pihak rumah sakit masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis. 

Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh untuk mengetahui kemungkinan adanya gangguan pada sistem organ maupun kelainan bawaan yang dapat memengaruhi pertumbuhan anak.

"Kita masih menunggu hasil pemeriksaan karena memang harus holistik supaya nanti diagnosisnya tepat, sehingga tindakan terapi dan selanjutnya bisa lebih baik," katanya.

Ia menambahkan, penanganan cepat tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan anak mendapatkan penanganan sesuai kondisi medisnya.

Bayu juga menekankan pentingnya deteksi dini. Menurutnya, kasus gangguan pertumbuhan anak tidak semestinya hanya mengandalkan fasilitas kesehatan.

Peran Posyandu dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk melakukan pemantauan berat badan serta tumbuh kembang anak secara rutin.

"Yang mesti kita utamakan adalah deteksi dini. Deteksi dini ini tidak hanya harus mengandalkan pihak kesehatan. Diharapkan masyarakat juga ikut aktif memperhatikan hal ini," katanya.

Kondisi tersebut mendapat perhatian setelah pihak Puskesmas Tambaksari menemukan adanya kasus gizi buruk yang dialami balita tersebut.

Aef Heryadi, putra kedua pasangan Tedi Kurnia dan Susilawati, itu tinggal di Dusun Mekarjaya, RT 04/RW 02, Desa Kaso, Kecamatan Tambaksari.

Berdasarkan standar pertumbuhan World Health Organization (WHO), berat badan anak laki-laki usia 3 tahun berada pada kisaran sekitar 11,3 hingga 18,3 kilogram. 

Sementara itu, untuk anak perempuan usia yang sama berkisar antara 10,8 hingga 18,1 kilogram.

Dengan berat badan hanya 9 kilogram, berat badan Aef berada di bawah kisaran tersebut. 

Kondisi ini kemudian mendapat perhatian dari pihak Puskesmas Tambaksari yang melakukan penanganan dan menyarankan agar Aef mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut di RSUD Ciamis.(*)

#TribunBreakingNews

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.