Sosok Profesor Solehah Yaacob, Viral di Malaysia Usai Klaim Bangsa Melayu Bisa Terbang
Dedy Qurniawan August 26, 2026 02:03 PM

 

BANGKAPOS.COM - Nama Profesor Solehah Yaacob menjadi perbincangan di Malaysia setelah sejumlah pernyataannya mengenai sejarah dan peradaban Melayu memicu kontroversi.

Salah satu klaim yang paling menyita perhatian adalah pernyataan mengenai kemampuan bangsa Melayu kuno yang disebut luar biasa, termasuk klaim bahwa mereka dapat terbang.

Solehah, yang sebelumnya mengajar bahasa Arab di International Islamic University Malaysia (IIUM/UIAM), juga dikaitkan dengan pernyataan bahwa kemampuan tersebut pernah ditularkan bangsa Melayu kepada masyarakat China melalui teknik kungfu.

Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah podcast dan kemudian tersebar luas melalui media sosial.

Baca juga: Ruben Onsu Hadapi Tuntutan Rp4,4 Miliar, Tolak Bantuan Finansial dari Rekan Artis

Kontroversinya tidak hanya menjadi pembahasan di Malaysia, tetapi turut mendapat perhatian dari publik di luar negeri.

Sejumlah pihak kemudian mempertanyakan landasan akademik di balik teori-teori yang disampaikan Solehah.

Kritik muncul karena beberapa klaim tersebut dinilai belum memiliki dukungan bukti sejarah maupun penelitian akademik yang memadai.

Tak Lagi Menjabat Profesor di UIAM

Kontroversi yang berkembang turut berpengaruh terhadap status Solehah di kampus. UIAM menyatakan bahwa Solehah tidak lagi berstatus profesor di universitas tersebut sejak 27 April 2026.

Pihak universitas juga mengingatkan bahwa Solehah tidak diperkenankan menggunakan gelar atau jabatan yang mengesankan dirinya masih memiliki hubungan dengan UIAM.

Klaim Bangsa Melayu Bisa Terbang

Salah satu pernyataan Solehah yang paling ramai menuai kritik adalah mengenai kemampuan bangsa Melayu pada masa lampau.

Dalam pernyataan yang beredar luas, ia menyebut masyarakat Melayu kuno memiliki kemampuan tertentu yang luar biasa, termasuk kemampuan terbang. Ia juga menghubungkan klaim tersebut dengan masyarakat China serta perkembangan kungfu.

Pernyataan tersebut kemudian menimbulkan berbagai reaksi. Sebagian masyarakat mempertanyakan dasar dari klaim tersebut karena dianggap dapat menciptakan pemahaman yang keliru mengenai sejarah Melayu.

Istilah pseudohistory atau pseudosejarah pun muncul dalam berbagai kritik terhadap pandangan Solehah.

Pseudosejarah sendiri merujuk pada narasi mengenai masa lalu yang dikemas seolah-olah sebagai sejarah, tetapi dinilai tidak memenuhi standar metode penelitian dan bukti akademik yang dapat diverifikasi.

Pernah Sebut Romawi Belajar Membuat Kapal dari Melayu

Kontroversi mengenai pandangan Solehah juga bukan kali pertama terjadi.

Sebelumnya, video yang menampilkan dirinya menyampaikan pandangan bahwa bangsa Romawi mempelajari teknologi pembuatan kapal dari bangsa Melayu juga sempat menjadi viral.

Pernyataan tersebut kembali memunculkan perdebatan mengenai perbedaan antara interpretasi sejarah, hipotesis akademik, dan klaim yang belum memperoleh dukungan bukti kuat.

Menteri Pendidikan Tinggi Malaysia, Zambry Abdul Kadir, kemudian menyerukan agar akademisi dan pengajar di perguruan tinggi lebih berhati-hati ketika menyampaikan pandangan yang berada di luar bidang keahlian mereka.

Kritik yang berkembang juga menekankan pentingnya akademisi menjelaskan perbedaan antara hasil penelitian, hipotesis, interpretasi, dan spekulasi ketika menyampaikan suatu teori kepada masyarakat.

Teori Bijih Besi Kedah dan Hujan Meteor

Solehah juga pernah menyampaikan teori mengenai sejarah Kedah pada masa lampau. Ia mengaitkan keberadaan bijih besi yang melimpah di wilayah tersebut dengan kemungkinan terjadinya hujan meteor pada masa lalu.

Teori tersebut kembali mendapat sorotan dan kritik dari berbagai pihak.

Menurut para pengkritiknya, penelitian mengenai sejarah maupun arkeologi semestinya memiliki dasar yang dapat diuji.

Bukti tersebut dapat berupa temuan arkeologis, catatan sejarah, penelitian geologi, ataupun hasil kajian akademik lainnya.

Karena itu, sebagian masyarakat Malaysia memasukkan sejumlah teori Solehah ke dalam kategori pseudosejarah karena dianggap belum memiliki dasar bukti yang cukup kuat.

Makna "Terbang" Diperdebatkan

Ketua Dewan Pengelola Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Profesor Datuk Seri Dr Md Salleh Yaapar, turut memberikan penjelasan mengenai kontroversi klaim tersebut.

Ia mengakui bahwa terdapat hubungan historis antara masyarakat Melayu dan China kuno, khususnya pada era Dinasti Tang yang berlangsung pada 618 hingga 907 Masehi.

Hubungan tersebut antara lain berkaitan dengan perdagangan dan aktivitas pembuatan kapal. Md Salleh juga menyebut adanya catatan sastra China dari periode awal yang menunjukkan keberadaan orang Melayu di lingkungan istana pada masa Dinasti Tang.

Namun, ia menilai istilah "kemampuan terbang" tidak tepat jika dimaknai sebagai kemampuan manusia untuk benar-benar terbang.

Menurutnya, istilah tersebut dapat merujuk pada gerakan atau teknik tendangan terbang dalam pencak silat yang pernah diperagakan pesilat di lingkungan istana.

“Namun, apa yang disebut sebagai ‘kemampuan terbang’ sebenarnya merujuk pada tendangan terbang khusus dalam pencak silat, yang pernah diperagakan oleh pesilat di istana. Itu tidak berarti bahwa orang Melayu benar-benar dapat terbang,” demikian penjelasan Md Salleh yang dikutip media Malaysia.

Ia juga mengingatkan bahwa sejarah perlu ditafsirkan secara hati-hati agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Solehah Berencana Gugat UIAM

Setelah tidak lagi menjabat di UIAM, Solehah disebut berencana membawa persoalan tersebut ke Pengadilan Hubungan Industrial.

Ia mengaku proses pemberhentiannya berlangsung dalam waktu singkat dan menyatakan tidak memperoleh kesempatan untuk mengajukan banding.

Solehah juga mengungkapkan bahwa pihak IIUM sempat menawarkan kompensasi yang nilainya setara dengan enam bulan gaji. Namun, tawaran tersebut disebut tidak diterimanya.

Ia menilai proses pemberhentian yang dijalaninya tidak berlangsung secara profesional.

Solehah turut menyoroti fakta bahwa sehari sebelum pemberhentian, dirinya baru menerima penghargaan dalam Malaysia Research Assessment dari Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia.

Penghargaan tersebut berkaitan dengan MyRA, sebuah sistem asesmen yang dikembangkan sejak 2006 untuk menilai kinerja penelitian berbagai universitas di Malaysia.

Kasus Solehah kemudian berkembang menjadi perdebatan yang lebih luas mengenai kebebasan akademik, tanggung jawab ilmuwan ketika menyampaikan teori kepada publik, serta pentingnya membedakan fakta sejarah dengan interpretasi dan spekulasi.

Di tengah perdebatan tersebut, klaim mengenai bangsa Melayu yang disebut memiliki kemampuan "terbang" tetap menjadi salah satu pernyataan paling kontroversial yang dikaitkan dengan nama Solehah Yaacob.

(Bangkapos.com/Serambinews/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.