BANGKAPOS.COM - Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz mulai diberlakukan skema jalur sementara setelah Iran dan Oman mencapai kesepakatan teknis.
Kapal yang hendak masuk ke Teluk Persia kini diwajibkan melintasi perairan teritorial Iran secara penuh demi alasan keamanan.
Langkah ini memicu ketegangan baru di tengah ancaman penggeboman dari Presiden AS Donald Trump terhadap kawasan tersebut.
Baca juga: Syarat Pendaftaran Petugas Haji 2027 Kemenhaj, Pendaftaran Ditutup 31 Agustus 2026
Berikut kronologi lengkap pembukaan jalur sementara dan respons militer di Selat Hormuz.
Diplomat tinggi Iran dan Oman bertemu pada Selasa (26/8/2026) untuk membahas pendekatan bertahap dalam mengatur lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.
Pembicaraan tersebut berlangsung setelah sebuah kapal tanker minyak mengalami kerusakan akibat serangan di lepas pantai Oman.
Insiden itu kembali menyoroti bahaya yang dihadapi perusahaan pelayaran yang berusaha menggunakan jalur perairan tersebut ketika berada di bawah kendali Iran.
Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Teheran, ibu kota Iran, untuk membahas kerangka pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Dalam pernyataan bersama, kedua negara yang secara geografis berada di sisi berlawanan dari selat sempit tersebut mengatakan kerangka yang diusulkan mencakup koridor navigasi sementara bersama, serta kerja sama untuk membersihkan ranjau dari jalur perairan tersebut.
Pernyataan itu menyebutkan Iran dan Oman akan melanjutkan perundingan teknis untuk membentuk koridor pelayaran permanen serta kesepakatan mengenai pengelolaan Selat Hormuz di masa depan.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa kedua negara telah mencapai kesepahaman mengenai rute sementara.
Kapal yang masuk ke Teluk Persia dari Teluk Oman akan sepenuhnya melintasi perairan Iran. Sementara itu, kapal yang keluar akan melalui sebagian perairan Iran dan sebagian perairan teritorial Oman.
“Iran dan Oman kemudian akan melakukan perundingan selama 30 hingga 60 hari untuk mencapai kesepahaman mengenai rute baru yang permanen dan berkelanjutan,” kata Gharibabadi seperti dikutip dari The Associated Press.
Sebelum Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, sekitar seperlima minyak yang diperdagangkan di dunia melewati Selat Hormuz.
Belum diketahui apakah Amerika Serikat akan menerima kesepakatan yang tengah dirumuskan tersebut.
Presiden AS Donald Trump pekan lalu mengancam akan mengebom Oman jika negara tersebut menghalangi upaya Amerika untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Presiden Iran dan sejumlah pejabat senior lainnya juga membahas Selat Hormuz dengan delegasi dari Pakistan yang meninggalkan Teheran pada Selasa setelah melakukan pembicaraan mengenai upaya menghidupkan kembali negosiasi untuk mengakhiri konflik Iran-AS, menurut militer Pakistan.
Kapal Tanker Diserang dan Mengalami Kerusakan di Lepas Pantai Oman
Sebuah kapal tanker minyak mengalami serangan pada Senin malam di lepas pantai timur Oman. Serangan tersebut menyebabkan mesin kapal tidak berfungsi, menurut United Kingdom Maritime Trade Operations, badan militer Inggris yang memantau aktivitas pelayaran.
Seluruh awak kapal dilaporkan selamat. Namun belum ada laporan mengenai dampak lingkungan akibat insiden tersebut.
Iran secara berkala menembaki kapal-kapal yang berusaha melewati Selat Hormuz sebagai bagian dari upayanya mempertahankan kendali atas jalur perairan tersebut.
Namun, belum ada pihak yang secara langsung mengaku bertanggung jawab atas serangan pada Senin malam.
Amerika Serikat juga telah menembaki kapal-kapal ketika memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
(Kompas/Bangkapos.com)