Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Desa Adat Sade yang terletak di Desa Rembitan kini tengah bersiap untuk bersolek kembali pascakebakaran yang menghanguskan 75 bangunan tradisional peninggalan suku Sasak itu.
Rencana restorasi besar-besaran mulai disusun oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah guna memastikan ikon budaya ini bangkit kembali dengan standar keamanan yang jauh lebih mumpuni dibandingkan sebelumnya.
Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri, menegaskan bahwa proses pembangunan kembali desa adat ini tidak akan dilakukan secara terburu-buru atau asal jadi.
Hal ini selaras dengan arahan Gubernur yang menginginkan agar restorasi kali ini benar-benar memperhatikan kualitas bangunan supaya tidak menimbulkan masalah baru di masa yang akan datang.
Salah satu poin utama dalam rencana penataan ulang ini adalah modernisasi sistem keamanan kelistrikan melalui penggunaan kabel tanam.
Langkah ini diambil sebagai solusi permanen untuk menghindari risiko korsleting listrik, mengingat bahan utama bangunan yang terdiri dari bambu dan atap ilalang sangat rentan terhadap percikan api.
“Kita butuh amenitas, butuh penanganan khusus. Kalau kabel ya menggunakan kabel tanam, seperti itu. Hingga kecil kemungkinan terjadi arus pendek. Ini harus dipikirkan oleh para ahli dari Unram yang juga ikut terlibat nanti,” ucap Bupati Pathul saat ditemui, Rabu (26/8/2026).
Selain faktor kelistrikan, penataan akses jalan di dalam kawasan desa juga menjadi perhatian serius dalam draf restorasi.
Bupati Pathul menekankan pentingnya ketersediaan ruang yang cukup agar kendaraan pemadam kebakaran (Damkar) dapat masuk dengan mudah jika terjadi keadaan darurat, sebuah kendala yang sering ditemui pada pemukiman padat tradisional.
Bupati Lalu Pathul Bahri menyampaikan secara lugas mengenai urgensi akses jalan ini demi keselamatan warga dan pelestarian situs budaya.
“Bagaimana caranya dibuat jalan itu, itu keinginan kita sehingga kalau terjadi suatu dan lain hal, pemadam kebakaran itu bisa enak masuk,” katanya.
Meskipun mengedepankan aspek keamanan modern, Bupati Pathul menjamin bahwa aspirasi masyarakat terkait bentuk asli bangunan tidak akan diabaikan. Warga setempat tetap menginginkan agar hunian mereka dibangun dengan material tradisional seperti ilalang demi menjaga estetika dan nilai sejarah yang telah melekat selama berabad-abad.
Menanggapi keinginan warga, Bupati menyatakan bahwa pemerintah akan sangat menghargai setiap masukan yang ada agar terjadi titik temu yang harmonis.
“Masyarakat juga tidak mau serta-merta harus diubah, ini saya sudah dengar harus seperti bentuk semula pakai ilalang. Tapi apa pun itu kita harus hargai semuanya,” tambahnya.
Diskusi dalam FGD nantinya juga akan menyentuh aspek pemanfaatan bangunan, apakah akan tetap digunakan sebagai tempat tinggal utama atau hanya sebagai pusat aktivitas harian warga.
Hal ini penting untuk memetakan beban penggunaan bangunan dan tingkat risiko kebakaran di masa depan jika kawasan tersebut terus dihuni secara padat.
Ia juga menyadari bahwa menyatukan banyak pendapat bukanlah perkara mudah, namun konsensus harus tetap dicapai demi kebaikan bersama.
“Nah ini kan perlu disatukan persepsi untuk menyelesaikan soal-soal lain kehendak. Karena satu kepala satu hati, dua kepala dua hati,” katanya.
Sambil menunggu proses konstruksi fisik dimulai, dukungan logistik dan finansial bagi warga terdampak juga mulai dikoordinasikan, termasuk bantuan stimulan dari Kementerian Sosial.
Berdasarkan pendataan awal by name by address, setiap keluarga yang kehilangan tempat tinggal direncanakan akan menerima bantuan sebesar kurang lebih Rp2.500.000.
“Kemarin juga dari Kementerian Sosial sudah minta data by name by address. Kemudian tentu dengan identitasnya itu ada bantuan juga untuk rumah sekitar Rp2.500.000 kalau tidak salah itu, untuk keluarga terdampak di dalamnya,” tandasnya.
Baca juga: Rekonstruksi Desa Adat Sade Mempertahankan Keaslian dengan Versi yang Lebih Aman dan Modern