SERAMBINEWS.COM – Amerika Serikat kembali memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran. Washington berupaya memutus jalur perdagangan yang selama ini menjadi penopang perekonomian Teheran, dengan menyasar perusahaan, individu, kapal, hingga jaringan perdagangan yang terhubung dengan Iran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan gelombang baru sanksi yang diberi nama “Operation Economic Outcast”.
Kebijakan tersebut mencakup hampir 60 entitas, individu, dan kapal, sekaligus memperluas sanksi sekunder ke sektor pelayaran, emas, penerbangan, teknologi, dan aset digital.
Bessent mengatakan tujuan utama operasi tersebut adalah memutus setiap jalur ekonomi yang menopang pemerintahan Iran hingga Teheran benar-benar terisolasi dari perekonomian global.
Baca juga: Ini Lima Sektor Ekonomi Iran yang Kini Jadi Sasaran Sanksi Baru AS
Presiden AS Donald Trump bahkan disebut telah menghubungi sejumlah pemimpin dunia untuk meminta mereka menghentikan hubungan dagang dengan Iran.
Namun, Trump belum menyebut secara terbuka negara mana saja yang menjadi sasaran permintaan tersebut maupun menetapkan batas waktu untuk menghentikan perdagangan dengan Teheran.
Lantas, siapa saja mitra dagang utama Iran yang kemungkinan menjadi kunci jika Amerika Serikat benar-benar ingin mengisolasi perekonomian negara tersebut?
Data perdagangan resmi yang dihimpun Trade Data Monitor, Rabu (26/8/2026) menunjukkan bahwa Iran semakin bergantung pada sejumlah negara di Asia dan kawasan sekitarnya.
Angka tersebut belum mencakup arus perdagangan tidak tercatat yang selama ini menopang sebagian besar ekspor minyak Iran.
Selama dua dekade terakhir, sanksi Barat telah mendorong Iran menjauh dari pasar Eropa dan semakin bergantung pada mitra dagang di Asia serta negara-negara tetangga.
Pada 2024, Iran tercatat mengekspor barang senilai sekitar 56 miliar dolar AS ke sedikitnya 112 negara dan wilayah.
Berikut lima tujuan ekspor terbesar Iran:
China merupakan pembeli terbesar produk Iran dan menjadi pasar utama minyak Iran.
Menurut analis pelacakan kapal tanker, China menyerap lebih dari 80 persen ekspor minyak mentah Iran yang dikirim melalui laut. Sebagian besar minyak tersebut dijual dengan harga diskon dan diangkut menggunakan kapal-kapal yang tergabung dalam jaringan shadow fleet, sehingga tidak sepenuhnya tercermin dalam data bea cukai resmi kedua negara.
Besarnya hubungan perdagangan ini membuat China menjadi salah satu faktor paling penting dalam upaya AS mengisolasi Iran.
Irak merupakan pasar penting bagi produk Iran sekaligus salah satu pelanggan energi utama Teheran.
Iran memasok gas melalui jaringan pipa untuk membantu pembangkit listrik Irak. Teheran juga memasok listrik secara langsung ke sejumlah provinsi di wilayah selatan Irak.
Selain energi, perdagangan kedua negara mencakup makanan, bahan bangunan dan berbagai produk manufaktur.
Uni Emirat Arab selama bertahun-tahun menjadi salah satu jalur finansial dan perdagangan penting bagi Iran.
Sekitar 13 persen ekspor Iran tercatat menuju UEA. Negara tersebut juga berperan sebagai pusat perdagangan ulang berbagai barang yang kemudian masuk ke pasar Iran.
Namun, hubungan tersebut menghadapi tekanan besar setelah Abu Dhabi memberlakukan embargo perdagangan tanpa batas waktu terhadap Iran pekan lalu.
UEA menuduh Iran meluncurkan rudal ke wilayahnya. Teheran membantah tuduhan tersebut.
Turkiye memiliki hubungan perdagangan yang telah berlangsung lama dengan Iran.
Iran memasok gas alam ke Turkiye melalui jaringan pipa, termasuk jalur Tabriz-Ankara. Perdagangan kedua negara juga mencakup petrokimia, makanan dan bahan konstruksi.
Posisi geografis Turkiye yang berbatasan langsung dengan Iran membuat negara tersebut menjadi jalur penting perdagangan darat bagi Teheran.
Afghanistan menjadi pasar penting bagi Iran, terutama untuk bahan bakar, makanan dan material konstruksi.
Sebagai negara yang tidak memiliki akses langsung ke laut, Afghanistan juga sangat bergantung pada pelabuhan dan jalur darat Iran untuk terhubung dengan pasar internasional.
Ketergantungan Iran terhadap negara lain juga terlihat dari sisi impor.
Pada 2024, Iran mengimpor barang senilai sekitar 68,5 miliar dolar AS dari sedikitnya 87 negara dan wilayah.
Lima sumber impor terbesar Iran adalah:
UEA menyumbang lebih dari 30 persen impor Iran.
Sebagian besar barang tersebut bukan produk yang dibuat di UEA, melainkan barang yang diekspor kembali (re-export). Jalur tersebut selama bertahun-tahun memberikan Iran akses tidak langsung terhadap mesin, perangkat elektronik dan berbagai barang konsumsi dari pasar Barat.
Jika jalur perdagangan UEA benar-benar terputus, Iran berpotensi kehilangan salah satu pintu utama untuk mendapatkan barang-barang tersebut.
China menjadi pemasok utama mesin, perangkat elektronik, kendaraan dan komponen industri bagi Iran.
Ketika hubungan ekonomi Iran dengan negara-negara Barat semakin terbatas, Teheran semakin mengandalkan Beijing untuk memenuhi kebutuhan industrinya.
China juga menjadi mitra yang sangat penting karena hubungan perdagangan kedua negara mencakup sektor energi sekaligus barang manufaktur.
Hubungan perdagangan Iran-Turkiye ditopang oleh perbatasan darat serta jaringan bisnis yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
Turkiye memasok mesin, bahan kimia, kendaraan dan berbagai produk manufaktur ke Iran.
Namun, perdagangan kedua negara disebut mengalami penurunan sejak perang dimulai.
Hubungan perdagangan Iran dengan Uni Eropa kini jauh lebih kecil dibandingkan sebelum 2018.
Perdagangan yang masih berlangsung terutama terkonsentrasi pada sektor-sektor seperti obat-obatan, peralatan medis dan mesin.
Kendati demikian, keberadaan Uni Eropa dalam daftar pemasok utama menunjukkan bahwa sebagian hubungan ekonomi Iran dengan Eropa masih bertahan meski berada di bawah tekanan sanksi.
Perdagangan Iran dengan India telah mengalami penurunan tajam dalam beberapa tahun terakhir.
New Delhi masih mempertahankan hubungan komersial dengan Teheran, tetapi dalam lingkup yang relatif terbatas. Perdagangan tersebut terutama mencakup komoditas pertanian seperti beras dan teh, serta produk farmasi.
Dari peta perdagangan tersebut, terlihat bahwa upaya Amerika Serikat untuk benar-benar mengisolasi Iran tidak sederhana.
China berada di posisi paling strategis. Negara tersebut bukan hanya pembeli terbesar ekspor Iran, tetapi juga pemasok terbesar kedua bagi kebutuhan impor Teheran.
Sementara itu, UEA dan Turkiye memainkan peran penting sebagai jalur perdagangan dan pemasok barang, sedangkan Irak menjadi pasar utama produk serta energi Iran.
Artinya, jika Washington ingin membuat Iran benar-benar terputus dari perekonomian global, tekanan tidak cukup hanya diarahkan kepada perusahaan dan jaringan perdagangan Iran. Amerika Serikat juga harus berhadapan dengan negara-negara yang memiliki kepentingan ekonomi besar dengan Teheran.
Di tengah meningkatnya sanksi, pertanyaan terbesar bukan hanya apakah Iran mampu bertahan tanpa akses ke pasar Barat, tetapi seberapa jauh China, Turkiye, Irak, India, dan negara-negara lainnya bersedia mempertahankan jalur perdagangan dengan Teheran di bawah tekanan Washington.
Jika negara-negara tersebut tetap membuka jalur perdagangan, upaya AS untuk menjadikan Iran sebagai “orang buangan ekonomi” berpotensi menghadapi hambatan besar.(*)