Liputan6.com, Jakarta - Di tengah keriuhan musik dan sorak sorai penggemar di Festival Cherrypop 2026, ada satu pesan penting yang digaungkan salah satu stan yang hadir, demi masa depan bumi. Yakni Prevented Ocean Plastic Southeast Asia (POPSEA) yang membawa pesan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah plastik.
Festival garapan Swasembada Kreasi itu menjadi panggung kreativitas bagi berbagai subkultur anak muda, mulai dari musisi hingga pegiat kuliner. Bagi POPSEA, kegiatan seperti ini menjadi momentum mengajak penikmat musik menerapkan gaya hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan.
"Kami menyambut baik kolaborasi dengan Cherrypop 2026 dan berharap festival-festival musik lainnya juga memiliki mitra keberlanjutan seperti kami. Apalagi di festival seperti ini pasti banyak menimbulkan sampah botol plastik. Kehadiran kami jadi sarana edukasi bahwa sampah plastik adalah tanggung jawab kita bersama," ujar Daniel Lawrence Angelo, CEO POPSEA.
Daniel menilai festival besar identik dengan kemeriahan, tetapi juga berpotensi menghasilkan sampah plastik dalam jumlah besar. Karena itu, mereka ingin mendorong kesadaran kolektif mengenai pentingnya pengelolaan sampah.
"Selama ini masyarakat mungkin belum mendapat informasi yang cukup informatif tentang sampah plastik, mulai dari apa itu sampah plastik, mengapa penting dikelola, hingga menjadi apa hasil daur ulangnya. Kami hadir untuk menjawab pertanyaan itu dan memberikan pemahaman yang nyata di lapangan," jelas Daniel.

Daniel menekankan bahwa transparansi mengenai proses pengolahan sampah menjadi salah satu kunci penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Selama dua tahun terakhir, tim POPSEA telah mendaur ulang lebih dari 2 miliar botol plastik sekaligus membantu mengurangi emisi karbon.
"Masyarakat mungkin bertanya, sampah plastik ini apa sih, fungsinya kenapa, hasilnya nanti jadi apa. Ini yang mungkin masyarakat kita masih sangat kurang informasi. Karena itu, kami tidak hanya aktif di sektor industri, tetapi juga di ruang-ruang publik tempat anak muda berkumpul," jelasnya.

POPSEA sendiri memilih Cherrypop 2026 karena menilai festival tersebut menjadi ruang yang tepat untuk menjangkau generasi muda sebagai pewaris masa depan. Edukasi tentang ekonomi sirkular disampaikan dengan pendekatan yang lebih santai agar mudah diterima pengunjung tanpa terkesan menggurui.
"Harapan besar kami adalah masyarakat semakin memahami bahwa tanggung jawab terhadap sampah plastik yang kita hasilkan bukanlah tanggung jawab pihak mana pun, tetapi dimulai dari diri kita sendiri," ucap Daniel.
POPSEA berencana memperluas kolaborasi dengan berbagai penyelenggara kegiatan, termasuk festival musik dan acara lainnya. Melalui langkah tersebut, mereka berupaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap botol plastik bekas, dari barang yang dianggap tidak berguna menjadi bahan baku yang memiliki nilai.
"Kami akan terus menjalin komunikasi dengan berbagai penyelenggara acara, tidak hanya festival musik, tetapi juga event-event lainnya. Kami ingin kolaborasi keberlanjutan seperti ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap kegiatan besar di Indonesia," pungkas Daniel.