TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Pembangunan infrastruktur di Kabupaten Kediri terus dikebut sepanjang 2026. Sejumlah proyek strategis mulai menunjukkan perkembangan, mulai dari pembangunan jalan hingga pengembangan fasilitas olahraga yang diproyeksikan menjadi ruang publik sekaligus penggerak aktivitas ekonomi masyarakat.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kediri Irwan Chandra Wahyu Purnama mengatakan, secara keseluruhan progres fisik program pembangunan yang ditangani Dinas PUPR serta sektor perumahan dan permukiman telah mencapai sekitar 60-70 persen.
Menurut Irwan, seluruh pekerjaan ditargetkan dapat diselesaikan sesuai rencana hingga akhir 2026. Selain mengejar progres fisik, pemerintah daerah juga memastikan pembangunan berjalan sesuai mutu dan waktu yang telah ditetapkan.
Salah satu pekerjaan yang menjadi perhatian adalah pembangunan dan perbaikan jalan. Pada 2026, terdapat sekitar 60-70 persen pekerjaan jalan yang tengah ditangani berdasarkan hasil survei kondisi jalan pada 2025.
Baca juga: Ibu Rumah Tangga di Blitar Edarkan Okerbaya, Polisi Sita 10.748 Butir Pil Dobel L dari Pelaku
Pemkab Kediri menargetkan persentase jalan dalam kondisi mantap terus meningkat. Hingga akhir 2026, kondisi kemantapan jalan ditargetkan berada di kisaran 86-87 persen.
Irwan menyebut salah satu prioritas pembangunan jalan tahun ini adalah akses menuju Stadion Gelora Daha Jayati. Jalan tersebut dinilai penting untuk menunjang akses masyarakat sekaligus mendukung keberadaan fasilitas olahraga baru di Kabupaten Kediri.
Selain jalan akses stadion, pemerintah juga menangani sejumlah ruas yang sejak 2025 masuk dalam prioritas perbaikan. Salah satunya berada di kawasan Kandangan yang mengalami kerusakan akibat tingginya beban kendaraan.
"Kalau di Kediri itu rusaknya karena memang ODOL, over dimension over load, dan lainnya," kata Irwan, Rabu (26/8/2026).
Pembangunan infrastruktur jalan diharapkan memberikan dampak langsung terhadap mobilitas masyarakat. Sebab, kondisi jalan menjadi salah satu persoalan yang banyak disampaikan warga melalui kanal pengaduan Pemerintah Kabupaten Kediri.
Di sisi lain, pembangunan fasilitas olahraga juga menjadi bagian penting dari pengembangan infrastruktur Kabupaten Kediri pada 2026. Salah satu proyek yang kini memasuki tahap lanjutan adalah Stadion Gelora Daha Jayati.
Irwan menjelaskan, pembangunan Stadion Gelora Daha Jayati saat ini telah memasuki tahap ketiga. Hingga pekan wawancara dilakukan pada 13 Agustus 2026, progres pekerjaan tahap ketiga telah mencapai sekitar 35 persen.
Pada tahap ketiga ini, pekerjaan difokuskan pada pembangunan atap stadion. Pekerjaan tersebut meliputi pemasangan space frame atau struktur rangka atap, penutup atap, serta pembangunan pondasi pagar di bagian pinggir stadion.
Pembangunan Stadion Gelora Daha Jayati juga melibatkan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Kerja sama tersebut dilakukan untuk memastikan stadion memenuhi aspek keamanan, terutama bagi pemain dan penonton ketika digunakan untuk pertandingan sepak bola.
"Yang jelas stadion ini dalam pembangunannya, kami Pemkab Kediri menggandeng PSSI. Di mana diutamakan untuk keamanan dari pemain maupun penonton," ujar Irwan.
Dengan konsep tersebut, Stadion Gelora Daha Jayati diharapkan tidak sekadar menjadi bangunan olahraga, tetapi mampu menghadirkan fasilitas pertandingan yang memenuhi aspek keselamatan dan kenyamanan bagi masyarakat.
Keberadaan stadion juga berpotensi memberikan efek berganda bagi perekonomian. Aktivitas pertandingan dan kegiatan olahraga dapat meningkatkan mobilitas masyarakat serta membuka peluang bagi pedagang, UMKM, kuliner, maupun usaha jasa di sekitar kawasan stadion.
Selain Stadion Gelora Daha Jayati, Pemkab Kediri juga melakukan revitalisasi Stadion Canda Bhirawa di Kecamatan Pare. Revitalisasi kali ini salah satunya menyasar lintasan atletik.
Irwan mengatakan, pada awal pembahasan pemerintah sempat mempertimbangkan penggunaan standar nasional untuk lintasan atletik. Namun, Stadion Canda Bhirawa juga digunakan masyarakat umum untuk berolahraga setiap pagi dan sore.
Karena itu, lintasan tetap diarahkan memenuhi standar untuk perlombaan atletik, namun material yang digunakan disesuaikan agar tetap nyaman digunakan masyarakat umum. Lintasan tersebut menggunakan material berupa serbuk dari bahan yang telah dihancurkan.
Pengembangan Stadion Canda Bhirawa dinilai penting karena stadion tersebut tidak hanya digunakan untuk kegiatan olahraga prestasi, tetapi juga menjadi ruang aktivitas masyarakat. Dengan revitalisasi tersebut, fasilitas olahraga diharapkan semakin nyaman dan mampu menunjang pembinaan atlet di Kabupaten Kediri.
Sementara itu, pembangunan infrastruktur juga mulai dikaitkan dengan pengembangan pusat-pusat ekonomi baru.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih mengatakan revitalisasi pasar menjadi salah satu proyek strategis untuk menjaga perputaran ekonomi masyarakat.
Tutik menyebut terdapat sekitar 17 pasar yang sebelumnya dinilai belum memenuhi sejumlah persyaratan sebagai pasar rakyat. Dari jumlah tersebut, Dinas Perdagangan dan Perindustrian saat ini mengelola 14 pasar aktif.
Pasar Wates menjadi salah satu contoh revitalisasi yang mulai diarahkan sebagai pasar rakyat dengan konsep modern tanpa meninggalkan karakter budaya lokal. Jam operasional pasar juga diatur hampir 24 jam sehingga aktivitas perdagangan dapat berlangsung dalam beberapa waktu berbeda.
Menurut Tutik, pola tersebut diharapkan mampu meningkatkan aktivitas ekonomi pedagang sekaligus menambah pendapatan asli daerah (PAD). Dinas Perdagangan dan Perindustrian menargetkan PAD dari sektor pasar pada 2026 sebesar Rp9 miliar atau sekitar rp 9,5 miliar apabila masuk perubahan anggaran.
Tutik mencontohkan dampak revitalisasi Pasar Ratos. PAD yang sebelumnya hanya sekitar Rp140 juta meningkat menjadi sekitar rp 645 juta pada 2024 setelah pembangunan pasar, kemudian mencapai rp 654 juta pada 2025.
"Pada 2026, targetnya kembali dinaikkan menjadi sekitar Rp758 juta," ucapnya.
Momentum pembangunan infrastruktur, termasuk stadion dan pasar, diharapkan mampu menciptakan ruang baru bagi masyarakat untuk beraktivitas dan mengembangkan usaha.
Pemerintah Kabupaten Kediri juga mendorong pelaku usaha agar dapat memanfaatkan perubahan pola mobilitas masyarakat seiring bertambahnya fasilitas publik dan infrastruktur baru.
Salah satu pedagang malam di Pasar Wates, Ima mengaku keberadaan lokasi berjualan yang lebih menetap memberikan perubahan positif bagi aktivitas usahanya. Sebelumnya, ia harus berjualan secara keliling dengan mengikuti pameran, pengajian, maupun kegiatan masyarakat lainnya.
"Alhamdulillah saat ini sudah bisa menetap di area sini," ujarnya.
Di sektor perdagangan, tantangan yang dihadapi pemerintah tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik. Perkembangan penjualan secara daring juga membuat pasar rakyat harus beradaptasi agar tetap mampu menarik konsumen.
Tutik mengatakan pihaknya mendorong pedagang pasar untuk mulai memanfaatkan penjualan online. Selain itu, pemerintah juga terus melakukan pendampingan terhadap pelaku ekspor dan industri kreatif agar produk lokal Kediri mampu memperluas pasar.
Hingga 2026, terdapat sekitar 21 pelaku ekspor di Kabupaten Kediri yang terus didorong untuk mengembangkan pasar. Pemerintah juga berupaya mencetak pelaku usaha baru yang mampu masuk ke pasar ekspor.
Untuk sektor industri kreatif, produk khas Kediri seperti kerajinan dan batik juga menjadi perhatian. Pemerintah mendorong pelaku usaha lokal agar mampu bersaing dengan produk dari luar daerah.
Tutik menegaskan, pembangunan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan penguatan sektor ekonomi. Pesan yang terus ditekankan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana adalah pentingnya mencintai dan membeli produk lokal agar perputaran ekonomi tetap terjadi di daerah.
"Jadi cintai dan beli produk lokal," kata Tutik.
(Isya Anshori/TribunMataraman.com)