Berat Badan Balita di Ciamis yang Diduga Gizi Buruk Tak Naik Meski Dapat MBG
Dedy Herdiana August 26, 2026 05:35 PM

 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS - Berbagai upaya pemenuhan gizi telah diberikan kepada Aef Heryadi, balita berumur tiga tahun asal Desa Kaso, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis.

Selain rutin mendapat makanan tambahan dari Puskesmas, Aef juga disebut telah mendapatkan Makanan Bergizi Gratis (MBG) sejak program itu berjalan di Tambaksari.

Namun, berat badan balita berusia tiga tahun itu tak kunjung mengalami peningkatan yang signifikan.

Ayah Aef, Tedi Kurnia, mengatakan kondisi anaknya sejak lahir sebenarnya normal. Pertumbuhan Aef juga sempat berjalan baik hingga berusia sekitar satu tahun.

Namun, ketika memasuki usia sekitar dua hingga tiga tahun, berat badan Aef mulai sulit bertambah. 

Hasil penimbangan disebut cenderung naik turun meski asupan makanan tetap diberikan.

"Perbedaan timbangannya gitu-gitu saja, turun naik, turun naik. Tapi makan enggak kurang. Bingung," kata Tedi saat ditemui di RSUD Ciamis, Rabu (26/8/2026).

Baca juga: Breaking News - Bayi 3 Tahun Asal Tambaksari Diduga Gizi Buruk Dibawa ke RSUD Ciamis

Menurut Tedi, Aef sehari-hari tetap makan seperti anak pada umumnya. Ia biasa mengonsumsi nasi, susu, serta makanan seperti singkong dan pisang.

Aef juga rutin dibawa ke Posyandu dan mendapat makanan tambahan dari Puskesmas. 

Namun, pemberian makanan tambahan tersebut belum membuat berat badan Aef menunjukkan perkembangan yang diharapkan.

"Kalau dari Puskesmas dikasih makanan-makanan bergizi juga rutin," ujar Tedi.

Meski mengalami persoalan berat badan, Tedi menyebut kondisi Aef sehari-hari tetap aktif. Anak tersebut juga tidak memiliki riwayat penyakit serius.

"Anaknya sih normal saja, aktif," katanya.

Kini Aef menjalani pemeriksaan lebih lanjut di RSUD Ciamis untuk mengetahui penyebab berat badannya sulit bertambah.

Tedi mengaku sebelumnya sempat terkendala persoalan administrasi karena belum memiliki BPJS untuk Aef. 

Padahal, ia ingin segera membawa anaknya ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi kesehatannya.

"Katanya mungkin ada prosesnya, prosesnya lama," ujar Tedi.

Kini Aef sudah didaftarkan untuk mendapatkan BPJS. Tedi pun mengaku siap mengikuti pemeriksaan rutin, meski harus membawa anaknya dari Tambaksari ke RSUD Ciamis.

Baginya, jarak bukan menjadi persoalan selama pemeriksaan tersebut dapat membantu mengetahui kondisi kesehatan Aef dan membuat anaknya kembali sehat.

"Kalau demi anak, apa sih yang enggak dilakukan orang tua demi anak," ucapnya.

Di tengah kondisi tersebut, Tedi juga mengungkapkan bahwa keluarganya selama ini belum menerima bantuan sosial dari pemerintah.

Tedi diketahui tinggal satu rumah bersama orang tuanya. Dalam rumah tersebut terdapat dua kepala keluarga (KK), yakni keluarga Tedi dan keluarga orang tuanya.

Orang tua Tedi yang sudah lanjut usia memang menerima bantuan berupa beras. Namun, bantuan tersebut diperuntukkan bagi orang tuanya dan bukan untuk keluarga Tedi.

"Kalau Ayah sih sudah (dapat bantuan), cuma saya enggak," katanya.

Tedi sendiri sehari-hari bekerja sebagai buruh dengan penghasilan harian. Sementara istrinya merupakan ibu rumah tangga yang fokus mengurus anak.

Meski kondisi ekonomi terbatas, Tedi mengatakan akan tetap berupaya memenuhi kebutuhan pemeriksaan dan pengobatan Aef.

"Kalau enggak (ada bantuan), saya akan usahain biayanya. Ya demi anak," ujarnya.

Tedi berharap pemerintah dapat terus memberikan perhatian terhadap kondisi anaknya, termasuk apabila ada bantuan yang bisa diberikan kepada keluarganya.

"Kalau mungkin ada bantuan, ya terima kasih kalau ada bantuan dari pemerintah. Harapan saya begitu. Untuk anaknya semoga enggak ada apa-apa," katanya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Puskesmas dan RSUD Ciamis yang telah membantu pemeriksaan Aef.

"Puskesmas dan RSUD berterima kasih banget. Sekarang biaya yang sekarang itu gratis," ujar Tedi.

Begitu mendapat rujukan dari Puskesmas, anak tersebut langsung mendapat pemeriksaan awal di RSUD Ciamis, Rabu (26/8/2026).

Direktur RSUD Ciamis, dr. Bayu Yudiawan, mengatakan kasus tersebut sebelumnya ditemukan melalui penjaringan yang dilakukan Puskesmas. 

Dari hasil pemeriksaan awal, berat badan anak berada di bawah garis merah pada Kartu Menuju Sehat (KMS).

Meski demikian, kondisi umum anak saat tiba di rumah sakit disebut cukup baik. Anak masih aktif dan memiliki pola makan yang dinilai bagus.

Baca juga: DPRD Ciamis Soroti Kasus Gizi Buruk Balita di Tambaksari

"Keadaan umum secara umum baik, anaknya aktif, pola makan juga bagus. Aktivitas sehari-harinya juga tidak terlalu mengkhawatirkan. Cuma memang saat penimbangan ada underweight, di KMS berada di bawah garis merah," kata Bayu saat ditemui di RSUD Ciamis.

Menurut Bayu, RSUD Ciamis langsung menjadikan anak tersebut sebagai pasien prioritas. 

Pemeriksaan dilakukan untuk mencari tahu penyebab berat badan anak berada di bawah standar.

Ia menegaskan, keluarga tidak perlu memikirkan persoalan biaya selama proses penanganan.

"Untuk perhatian pembiayaan dan sebagainya itu sudah kita tangani. Keluarga tidak usah memikirkan lagi proses dan sebagainya," ujarnya.

Bayu mengatakan, pihak rumah sakit masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis. 

Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh untuk mengetahui kemungkinan adanya gangguan pada sistem organ maupun kelainan bawaan yang dapat memengaruhi pertumbuhan anak.

"Kita masih menunggu hasil pemeriksaan karena memang harus holistik supaya nanti diagnosisnya tepat, sehingga tindakan terapi dan selanjutnya bisa lebih baik," katanya.

Ia menambahkan, penanganan cepat tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan anak mendapatkan penanganan sesuai kondisi medisnya.

Bayu juga menekankan pentingnya deteksi dini. Menurutnya, kasus gangguan pertumbuhan anak tidak semestinya hanya mengandalkan fasilitas kesehatan.

Peran Posyandu dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk melakukan pemantauan berat badan serta tumbuh kembang anak secara rutin.

"Yang mesti kita utamakan adalah deteksi dini. Deteksi dini ini tidak hanya harus mengandalkan pihak kesehatan. Diharapkan masyarakat juga ikut aktif memperhatikan hal ini," katanya.

Kondisi tersebut mendapat perhatian setelah pihak Puskesmas Tambaksari menemukan adanya kasus gizi buruk yang dialami balita tersebut.

Aef Heryadi, putra kedua pasangan Tedi Kurnia dan Susilawati, itu tinggal di Dusun Mekarjaya, RT 04/RW 02, Desa Kaso, Kecamatan Tambaksari.

Berdasarkan standar pertumbuhan World Health Organization (WHO), berat badan anak laki-laki usia 3 tahun berada pada kisaran sekitar 11,3 hingga 18,3 kilogram. 

Sementara itu, untuk anak perempuan usia yang sama berkisar antara 10,8 hingga 18,1 kilogram.

Dengan berat badan hanya 9 kilogram, berat badan Aef berada di bawah kisaran tersebut. 

Kondisi ini kemudian mendapat perhatian dari pihak Puskesmas Tambaksari yang melakukan penanganan dan menyarankan agar Aef mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut di RSUD Ciamis. (*)

 

 



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.