Wali Kota Tarakan Dorong Satu Pelajar Satu Rekening, Khairul: Untuk Kebiasaan Menabung
Amiruddin August 26, 2026 06:36 PM

 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Wali Kota Tarakan, Khairul, mendorong gerakan Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) terus diperkuat di Kota Tarakan, Kalimantan Utara. 

Menurut Khairul, kebiasaan menabung sejak usia sekolah bukan sekadar untuk mengumpulkan uang.

Lebih dari itu, menabung menjadi bagian dari pendidikan karakter, agar anak terbiasa disiplin, hemat, bertanggung jawab dan mampu mengatur keuangan sejak dini.

Hal tersebut disampaikan Khairul, saat menghadiri kegiatan Edukasi Hari Indonesia Menabung bagi Pelajar dan Sosialisasi Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) Kota Tarakan, di SMP Negeri 2 Tarakan, Selasa (18/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Khairul didampingi Bunda PAUD Kota Tarakan, Sitti Rujiah.

Khairul mengatakan, kebiasaan menabung tidak harus dimulai dengan nominal besar.

“Tentu belajar menabung ini penting.

Tidak mesti besar, yang penting banyak.

Itu maksudnya banyak berkali-kali begitu. 

Jadi tidak perlu besar, tadi bisa Rp1.000 satu hari boleh,” kata Khairul.

Baca juga: Wali Kota Tarakan Khairul Terima Penghargaan Capaian Terbaik Indeks Reformasi Hukum 2026

Pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 3 Juni 1964 itu menegaskan, inti dari gerakan tersebut bukan melihat seberapa besar uang yang berhasil dikumpulkan pelajar.

Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah membentuk kebiasaan menyisihkan uang secara rutin.

Khairul kemudian menekankan peran kepala sekolah dan guru dalam membentuk karakter anak sejak usia dini.

“Tapi sebenarnya paling penting bahwa, ini terutama untuk para kepala sekolah, para guru, membiasakan ini saya selalu menyampaikan kalau ingin membangun karakter itu mulai dari kecil,” ujar Wali Kota Tarakan berlatar dokter tersebut.

Ia menyebut sejumlah karakter yang perlu dibentuk sejak dini, mulai dari disiplin, hemat, rajin, bersih, jujur hingga memiliki etos kerja.

Khairul juga menilai masa perkembangan anak menjadi periode penting dalam pembentukan karakter.

“Saya selalu menyampaikan ini.

Jadi perkembangan psikologi itu maksimal itu sampai usia 14 tahun. 

Mulai dari kecil, mulai dari sebenarnyakalau dalam teori psikologi mulai dari dalam kandungan, sampai usia 14 itu sudah maksimal.

Lewat itu, tak bisa apa-apa kita.

Tak banyak lagi yang bisa dilakukan,” kata jebolan Universitas Hasanuddin Makassar itu.

Karena itu, ia menilai kebiasaan menabung perlu ditanamkan sejak anak masih berada di bangku sekolah.

“Jadi, gerakan menabung ini sebenarnya, atau kejar Satu Pelajar Satu Tabungan, itu sebenarnya bukan pada persoalan seberapa besar anak-anak kita ini memberi tabungan

Tapi membiasakan kebiasaan menabung itu adalah membangun karakter dia sejak kecil, supaya bisa hidup berhemat, hidup disiplin, hidup punya perhitungan,” sambungnya.

Khairul mengatakan literasi mengenai pentingnya menabung, juga harus dibarengi dengan pemahaman untuk mempersiapkan masa depan.

“Seperti tadi yang disampaikan oleh Kepala OJK dan juga dari BPD Kaltimtara.

Memberi literasi pentingnya menabung dan melihat bahwa mempersiapkan masa depan itu ya tentu juga harus dimulai dari diri sendiri,” tuturnya.

Menurutnya, orang tua memang memiliki tanggung jawab penuh terhadap anak.

Namun, anak juga harus mulai dibiasakan memiliki kesadaran untuk mempersiapkan masa depan.

“Tentu orang tua bertanggung jawab secara penuh, tetapi juga anak-anak juga harus mempersiapkan.

Dan ini sebenarnya yang ingin dicapai dengan gerakan menabung itu,” ujarnya.

Khairul juga menyinggung capaian rekening tabungan pelajar di BPD Kaltimtara.

“Walaupun tadi saya lihat sekitar 25.000 tabungan atau akun tabungan di BPD Kaltimtara dengan jumlah tadi sekitar 35,8 M.

Luar biasa itu. Cukup besar,” katanya.

Ia menggambarkan bagaimana nominal kecil jika dilakukan secara rutin oleh banyak pelajar dapat menghasilkan jumlah yang besar.

“Tadi tabungannya 1.000, 1.000, 1.000, tapi 25.000 jadinya 35,8 M juga.

Besar, cukup besar, ya.

Apalagi kalau nabungnya 10.000, ah bisa-bisa 100 M,” ujarnya.

Khairul kemudian melontarkan candaan yang disambut tawa peserta.

“Sudah cukup dipakai untuk Pilkada.

Pinjam dulu 1.000, bilang begitu,” katanya.

Baca juga: Wali Kota Tarakan Khairul Sebut Ketua RT Garda Terdepan, Jaga Keamanan dan Kebersihan Kota  

Hadiah Pelajar Disarankan Berupa Tabungan

Khairul juga meminta instansi pemerintah maupun swasta ikut mendorong budaya menabung melalui bentuk pemberian penghargaan kepada pelajar.

Ia menyarankan hadiah berupa uang, misalnya dari kegiatan perlombaan, dapat diberikan dalam bentuk tabungan.

Sekolah juga  harus ikut mendorong agar sebanyak mungkin pelajar memiliki rekening tabungan.

Ia kembali menekankan bahwa program tersebut bukan bertujuan melihat nominal tabungan pelajar. 

Menurutnya, kemampuan mengatur keuangan harus dibentuk sejak dini.

“Membangun kedisiplinan, menghemat, mengatur keuangan, itu perlu diatur sejak dini.

Kalau ini sudah dibiasakan sejak kecil, insya Allah nanti kalau besar dia akan disiplin dalam mengatur keuangan,” tuturnya.

Khairul optimistis kebiasaan tersebut akan berdampak terhadap kualitas literasi keuangan anak ketika mereka dewasa.

“Dan pasti literasi keuangannya akan bagus, ya. Literasi keuangannya akan bagus karena dia sudah dari kecil sudah terpapar dengan bagaimana cara mengelola keuangan yang baik,” ujar suami Sitti Rujiah tersebut.

Lebih jauh, Khairul mengaitkan pentingnya kebiasaan menabung dengan kemampuan masyarakat menghindari investasi bodong.

Ia memberikan gambaran mengenai tawaran keuntungan yang tidak masuk akal.

Karena itu, menurut Khairul, literasi keuangan harus diberikan sejak dini agar anak-anak memiliki pemahaman dalam mengelola uang dan tidak mudah tergiur tawaran yang tidak masuk akal.

Ia melanjutkan, dalam kegiatan yang sama disampaikan bahwa program Hari Indonesia Menabung merupakan bagian dari implementasi Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) di Kota Tarakan.

Hingga Triwulan II 2026, tercatat 9.633 rekening tabungan pelajar di BPD Kaltimtara. Capaian tersebut disebut sebagai hasil kolaborasi pemerintah daerah, OJK, perbankan, sekolah, guru dan orang tua dalam memperluas akses serta meningkatkan literasi keuangan pelajar.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.