- Kuali berdiameter satu meter berisi cairan kental berwarna cokelat kehitaman terus diaduk tanpa henti, Jumat (27/3/2026).
Di dalamnya, campuran terigu, gula merah, santan, dan kacang perlahan mengental.
Itulah jenang, hidangan tradisional yang selalu hadir menjelang hari puncak Lebaran Ketupat di Desa Reksonegoro.
Desa ini mayoritas dihuni oleh suku Jawa Tondano (Jaton), komunitas hasil akulturasi budaya Jawa dan Minahasa.
Mereka merupakan keturunan pengikut Kyai Modjo yang diasingkan Belanda ke Tondano, Sulawesi Utara, pada masa Perang Diponegoro (1825–1830).
Seiring waktu, sebagian masyarakat Jaton merantau ke Gorontalo pada awal 1900-an dan kemudian menetap hingga membentuk permukiman.
Dari sanalah tradisi Bakdo Kupat atau Lebaran Ketupat berkembang, dengan jenang yang kerap disalahartikan sebagai dodol menjadi salah satu sajian utama selain ketupat.
Sejak pagi buta, warga Jaton di Desa Reksonegoro sudah berkumpul di halaman belakang rumah.
Asap kayu bakar mengepul dari tungku besar, sementara suara kayu pengaduk beradu dengan dasar kuali menciptakan ritme khas.
Mengaduk jenang bukan perkara ringan. Butuh tenaga, kesabaran, dan kekompakan.
Selama kurang lebih delapan jam, adukan harus terus dijaga agar tidak gosong.
Jika lengah sedikit saja, bagian bawah jenang bisa mengeras dan merusak rasa.
“Harus terus diaduk, tidak boleh berhenti. Biasanya gantian,” ujar Yulia Bobihu sambil mengusap keringat di dahinya saat ditemui Jumat sore.
Bagi warga Desa Reksonegoro, proses panjang ini bukanlah beban.
Dalam bahasa Jaton, aktivitas mengaduk dikenal dengan sebutan “ba kayok”.
Kegiatan ini justru dijalani dengan penuh kebersamaan, terlebih karena hanya dilakukan setahun sekali.
Laki-laki, perempuan, hingga anak muda ikut ambil bagian.
Mereka bergantian memegang pengaduk kayu panjang sambil sesekali bercanda untuk mengusir lelah.
Aroma manis gula merah yang berpadu dengan santan semakin kuat seiring waktu. Warna jenang perlahan berubah menjadi lebih pekat, menandakan adonan mulai matang.
“Kami celupkan piring plastik ke dalam jenang. Kalau masih menempel, artinya belum matang,” katanya.
Menjelang sore, tekstur jenang mengental sempurna. Pengadukan pun semakin berat, namun semangat warga justru semakin terasa.
Ini menjadi penanda bahwa hidangan khas Lebaran Ketupat hampir siap disajikan.
Jenang yang telah matang kemudian didinginkan semalaman sebelum dipotong.
“Biasanya kami diamkan semalaman. Besoknya baru dipotong kecil-kecil lalu digulung dengan daun woka,” ujarnya.
Jenang dalam balutan woka berwarna kuning itu kemudian dibagikan kepada warga.
Hidangan ini menjadi pelengkap ketupat dan berbagai lauk saat hari puncak perayaan.
Di tengah arus modernisasi, tradisi mengaduk jenang selama berjam-jam ini tetap dipertahankan.
Bagi masyarakat Desa Reksonegoro, jenang bukan sekadar makanan, melainkan identitas yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Jika menelusuri wilayah Kecamatan Tibawa, nama Desa Reksonegoro mungkin tidak langsung mencolok di peta.
Namun dari citra udara, desa ini tampak membentang di antara hamparan hijau lahan pertanian, dengan permukiman yang mengikuti jalur-jalur jalan kecil.
Letaknya tidak jauh dari jalur utama Trans-Sulawesi dan berada di sekitar kawasan Bandara Djalaluddin.
Tak heran jika warga kerap menyebutnya sebagai “desa belakang bandara”.
Sesekali, suara pesawat yang melintas menjadi latar kontras dengan suasana desa yang tenang dan agraris.
Reksonegoro dikelilingi desa-desa lain di Kecamatan Tibawa, membentuk kawasan yang hidup dari pertanian dan aktivitas sederhana sehari-hari.
Lanskap kebun yang luas menjadi sumber penghidupan sekaligus ruang interaksi warga.
Meski secara geografis cukup strategis, ritme kehidupan di desa ini tetap berjalan pelan.
Tradisi masih dijaga, salah satunya terlihat menjelang Lebaran Ketupat. (*)
Program: To The Point
Editor: Magang/Chrysilla Cindy Aurellia
#tothepoint #kearifanlokal #jenang #tradisi #lebaranketupat #gorontalo #LebaranKetupat #BakdoKupat #JenangJaton #JawaTondano #DesaReksonegoro #Gorontalo #TradisiIndonesia #WarisanBudaya #KulinerTradisional #tothepoint #BudayaNusantara #ExploreGorontalo #IndonesiaCulture #TribunVideo #FYP