TRIBUNSTYLE.COM - Serangan drone dan rudal Iran memicu kerugian besar di pihak Amerika Serikat sampai-sampai Pentagon kelabakan cari dana darurat perbaiki kerusakan fasilitas militer di Asia Barat.
Dikutip Tribun Style dari Al Mayadeen pada Rabu (26/8/2026), NBC News melaporkan kerusakan perangkat keras dan pos intelijen AS di Asia Barat lebih luas dari kerusakan apa pun yang pernah dialami militer AS.
NBC News mengutip pernyataan empat orang yang mengetahui masalah ini, AS harus mengeluarkan uang miliaran dolar untuk memperbaiki kerusakan.
Serangkaian serangan tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas yang menjadi sasaran, tetapi juga membuat Kongres Amerika Serikat harus mempertimbangkan tambahan anggaran untuk pemulihan. Pada saat yang sama, para pejabat AS mulai mengevaluasi kemungkinan penempatan kembali personel serta aset intelijen di kawasan Asia Barat, menurut keterangan dua sumber yang dikutip NBC.
Serangan itu turut memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan Pentagon, komunitas intelijen AS, dan Departemen Luar Negeri dalam melindungi fasilitas pemerintah dari ancaman drone dan rudal.
Baca juga: Diancam dengan Sanksi Ekonomi, Iran Justru Ejek Amerika Serikat: 47 Juta Warganya Hadapi Kelaparan
Sejumlah pakar militer serta mantan pejabat Amerika menilai perlindungan terhadap fasilitas seharusnya dapat dipersiapkan dengan lebih baik.
Temuan terbaru ini melanjutkan laporan NBC pada April yang sebelumnya mengungkap skala serangan Iran setelah operasi militer AS dimulai pada 28 Februari 2026.
Berdasarkan laporan itu, lebih dari 100 sasaran di sedikitnya 11 instalasi militer Amerika yang tersebar di tujuh negara telah terkena serangan. Negara-negara yang terdampak meliputi Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Yordania, Kuwait, Irak, dan Arab Saudi.
American Enterprise Institute memperkirakan kebutuhan untuk memperbaiki infrastruktur yang mengalami kerusakan saja dapat mencapai lebih dari $5 miliar.
Perkiraan ini belum memasukkan nilai peralatan maupun sistem persenjataan yang turut mengalami kerusakan.
Namun, Pentagon belum bersedia mengungkapkan secara terbuka rincian mengenai tingkat kerusakan yang dialami fasilitas dan asetnya. Departemen Pertahanan AS menyatakan bahwa informasi tersebut berkaitan dengan keamanan operasional.
Kebutuhan penggantian persenjataan juga menjadi perhatian Pentagon. Pada penghujung Juli, Departemen Pertahanan AS mengajukan permintaan dana darurat senilai $67 miliar untuk tahun fiskal berjalan. Dari jumlah tersebut, sekitar $18,2 miliar disiapkan untuk mengisi kembali stok sejumlah sistem rudal, termasuk Patriot, Tomahawk milik Angkatan Laut, serta pencegat ketinggian tinggi THAAD milik Angkatan Darat. Rincian dana ini tercantum dalam dokumen yang disampaikan kepada komite pertahanan Kongres.
Dokumen itu menguraikan sejumlah alokasi yang sebelumnya belum dipublikasikan. Sekitar $5,75 miliar diperuntukkan bagi pencegat THAAD, sementara $5,57 miliar dialokasikan untuk varian Patriot Missile Segment Enhancement.
Baca juga: Ahli Strategi Nilai Sanksi Ekonomi AS ke Iran Tak Berguna, Teheran Sudah Mahir Hadapi Tekanan
Selain itu, Pentagon menganggarkan $1,9 miliar untuk rudal SM-6 dan $3,28 miliar untuk tiga varian keluarga Standard Missile milik Angkatan Laut yang diproduksi RTX Corp.
Permintaan anggaran tersebut juga mencantumkan $100 juta untuk pengadaan senjata udara-ke-udara rahasia Lockheed Martin yang dikenal sebagai Joint Advanced Tactical Missile, meskipun sistem itu hingga kini belum digunakan.
Menurut Bloomberg, militer Amerika telah meluncurkan 13.629 amunisi terhadap berbagai sasaran di Iran sejak perang dimulai pada 28 Februari hingga tercapainya gencatan senjata pada April.
Di tengah tingginya penggunaan persenjataan tersebut, Ketua Kepala Staf Gabungan AS Dan Caine disebut telah menyampaikan peringatan secara pribadi bahwa dimulainya kembali operasi tempur berskala besar terhadap Iran berpotensi memangkas persediaan pencegat Komando Pusat AS ke tingkat yang berbahaya. (Tribun Style)