Tribunlampung.co.id, Lampung Utara - Keriuhan mendadak melanda dunia maya menyusul beredarnya rekaman video seorang tenaga pendidik yang memperlihatkan benda asing menyerupai amunisi di tengah jam makan siang muridnya.
Baca juga: Heboh Anggaran MBG Rp480 Triliun di APBN 2027, Menkeu Purbaya Langsung Bereaksi
Benda berukuran kecil yang diduga kuat sebagai peluru senapan angin tersebut ditemukan terselip di balik potongan daging yang disajikan dalam paket makanan bergizi untuk anak sekolah.
Peristiwa yang sontak memicu tanda tanya besar terkait standar keamanan pangan ini langsung menuai reaksi keras dari berbagai pihak.
Menanggapi viralnya temuan tersebut, otoritas terkait bergerak cepat dengan menghentikan sementara operasional dapur penyedia makanan demi melakukan investigasi mendalam.
Pihak berwenang memastikan bahwa sampel makanan kini telah diamankan untuk menjalani uji laboratorium guna mengungkap fakta sebenarnya di balik insiden mengejutkan ini.
Video seorang guru yang menunjukkan benda menyerupai peluru senapan angin dari potongan daging menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) viral di media sosial.
Benda tersebut disebut ditemukan seorang siswa kelas 5 SD Negeri 3 Sindangsari, Kecamatan Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara, saat menyantap makanan yang dibagikan dalam program MBG.
Dalam video yang beredar, guru tersebut tampak menunjukkan benda menyerupai peluru sambil mempertanyakan pengawasan terhadap makanan yang diproduksi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sindangsari.
"Ini murid saya kelas 5, Ardi, menemukan satu buah peluru senapan angin di dalam daging," ujar guru tersebut dalam rekaman video, dilansir kompas.com.
Ia juga meminta pihak pengelola dapur MBG bertanggung jawab dan mempertanyakan bagaimana benda tersebut bisa berada di dalam makanan yang diberikan kepada siswa.
"Ini peluru senapan angin di dalam daging dari dapur MBG Sindangsari. Saya minta pertanggungjawaban yang punya dapur MBG," katanya.
Kepala Bagian Tata Usaha Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Lampung, Fitra Alfarisi, membenarkan adanya laporan mengenai temuan benda asing tersebut.
Fitra mengatakan, SPPG Sindangsari untuk sementara dihentikan operasionalnya atau di-suspend. Penghentian dilakukan sembari tim melakukan penelusuran untuk memastikan asal benda yang ditemukan di dalam daging tersebut.
"Sudah monitor, itu dapurnya sudah di-suspend. Saat ini, tim kami masih mencari tahu peluru senapan angin itu berasal dari mana," kata Fitra kepada Kompas.com, Rabu (26/8/2026).
Menurut Fitra, kejadian tersebut sebenarnya telah dilaporkan sebelumnya.
Peristiwa disebut terjadi pada rentang 14-16 Agustus 2026.
"Peristiwa itu terjadi antara tanggal 14-16 Agustus, itu laporannya sudah masuk ke kami. Kami sudah cek, tetapi video viralnya juga sudah kami monitor," ujarnya.
Untuk memastikan temuan tersebut, daging yang diduga berisi benda menyerupai peluru kini telah diserahkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Utara.
Pemeriksaan dan uji laboratorium dilakukan untuk mendapatkan kepastian mengenai benda yang ditemukan sekaligus menelusuri kemungkinan sumbernya.
Fitra menegaskan, pihaknya belum dapat menyimpulkan bagaimana benda tersebut bisa masuk ke dalam makanan sebelum hasil pemeriksaan keluar.
"Kami masih menunggu hasil penelusuran mengenai asal-usul benda tersebut serta memastikan bagaimana benda itu bisa masuk ke dalam makanan," katanya.
Fitra pun meminta seluruh SPPG di wilayah Lampung dan Bengkulu memperketat pengawasan, mulai dari proses pengolahan hingga makanan didistribusikan kepada penerima manfaat.
"Kami mengimbau seluruh SPPG di wilayah Lampung dan Bengkulu untuk berkomitmen menyajikan menu yang higienis, memenuhi kecukupan gizi, dan lezat," ujarnya.
Ia mengatakan laporan masyarakat akan menjadi bahan evaluasi bagi pelaksanaan program MBG.
"Kami sangat terbuka terhadap masukan dan kritik. Ini menjadi vitamin buat kami untuk perbaikan," kata Fitra.
Masyarakat yang menemukan persoalan dalam pelaksanaan MBG juga dapat menyampaikan pengaduan melalui saluran resmi Badan Gizi Nasional (BGN), termasuk PO Box 4500 dan Siaga 127.
Hingga kini, KPPG Lampung dan Bengkulu masih menunggu hasil pemeriksaan untuk mengungkap asal benda menyerupai peluru tersebut dan bagaimana benda itu dapat berada di dalam makanan yang disajikan kepada siswa.