15 Contoh Laporan Perjalanan ke Papua Barat Daya, Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 4 SD dan MI
Nolpitos Hendri August 26, 2026 07:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Berikut 15 contoh laporan perjalanan ke tempat wisata di Papua Barat Daya - Sorong yang menarik dalam bentuk narasi menggunakan kalimat efektif dan majas metafora untuk kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 4 SD dan MI halaman 146 147 soal Menulis Bab 6 Satu Titik dalam buku paket Kurikulum Merdeka terbitan Kemendibudristek edisi revisi 2023 .

Baca juga: 15 Contoh Laporan Perjalanan ke Papua Pegunungan, Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 4 SD dan MI

Bab 6 Satu Titik

Soal : 

Bahas Bahasa

Majas Metafora

Majas adalah kiasan. Majas metafora adalah kiasan yang menggunakan kata atau kelompok kata yang bukan arti sebenarnya untuk menggambarkan sesuatu. Kata atau kelompok kata tersebut memiliki persamaan atau perbandingan dengan kata yang diwakilinya.

Berikut ini kalimat yang menggunakan majas metafora dalam teks “Anak Anak Merapi”.

1. Beberapa tahun lalu, wedhus gembel menjadi buah bibir orang-orang di Indonesia.
Arti buah bibir sebenarnya : bahan pembicaraan

2. Wedhus gembel membabi buta, menghanguskan apa saja yang dilaluinya.
Arti membabi buta sebenarnya : menerjang tanpa memilih

3. “Abu dan lava yang dikeluarkan itu baik untuk menyuburkan tanah,” Ratna angkat bicara.
Arti angkat bicara sebenarnya : mulai berbicara atau memberi pendapat

4. Mereka meminta Panji berlapang dada menerima kenyataan itu.
Arti berlapang dada sebenarnya : sabar

5. Mendung menyelimuti wajah Panji ketika dia teringat sapi kesayangannya.
Arti mendung sebenarnya : sedih

Menulis

Apa
Siapa
Mengapa
Dimana
Kapan
Bagaimana

Laporan Perjalanan

Kamu tentu pernah melakukan perjalanan ke suatu tempat untuk berwisata atau keperluan lainnya. Kegiatan itu dapat kamu tuangkan dalam bentuk laporan perjalanan.

Apakah laporan perjalanan itu? Laporan perjalanan adalah tulisan yang berisi hasil dari kunjungan atau perjalanan ke suatu tempat. Laporan perjalanan berisi fakta atau informasi berdasarkan pengamatan atau pengalaman orang yang melakukan perjalanan. Laporan perjalanan harus ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Laporan perjalanan dapat dituliskan dalam bentuk narasi . Kamu tentu masih ingat ADiKSiMBa (apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, bagaimana). Unsur-unsur di dalam laporan perjalanan harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Sekarang, ingat-ingatlah perjalanan menarik yang pernah kamu lakukan. Lalu, buatlah laporan perjalanan dalam bentuk narasi . Tuliskan karanganmu dengan memulai dari bagian awal yang menarik, diikuti bagian tengah yang seru, ditutup dengan bagian akhir yang juga menarik. Jangan lupa gunakan kalimat efektif dan majas metafora yang telah kalian pelajari.

Gunakan kerangka karangan berikut untuk memudahkan kamu bekerja.

Judul : 

Awal (1 paragraf)

Ceritakan nama dan waktu perjalanan yang dilakukan (apa dan kapan), orang yang ikut dalam perjalanan (siapa), dan untuk apa perjalanan itu dilakukan (mengapa).

Tengah (2—3 paragraf)

Ceritakan proses perjalanannya (bagaimana). Kamu dapat menceritakan kendaraan yang digunakan, berapa lama waktu yang diperlukan, dan suasana perjalanannya. Kalau kamu mengetahui biaya-biaya dalam perjalanan tersebut, kamu dapat mencantumkannya. Ceritakan suka duka yang dialami selama perjalanan atau saat sampai di tujuan. Ceritakan pula hal-hal yang dijumpai atau dilakukan di tempat tujuan.

Akhir (1 paragraf)

Sampaikan kesan yang kamu dapat dari perjalanan ini. Kamu juga dapat menyampaikan rencana atau saran untuk perjalanan selanjutnya. Misalnya, “Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya membawa payung.”

Kunci jawaban : 

Berikut contoh jawaban menulis laporan perjalanan menarik yakni 15 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata di Papua Barat Daya - Sorong dalam bentuk narasi menggunakan kalimat efektif dan majas metafora : 

1. Laporan Perjalanan ke Pulau Batanta
Judul: Pulau Permata Hijau Yang Terhampar Di Tengah Laut Biru Bagai Zamrud Terindah Yang Dihadiahkan Tuhan Di Perairan Sorong Yang Kaya

Pada awal bulan Juni, saat ombak berhembus lembut menyapa pantai-pantai Sorong, aku bersama kedua orang tuaku menyeberang menuju Pulau Batanta, pulau yang masih alami dengan hutan hijau rimbun dan pantai berpasir putih yang memukau. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati keindahan alam yang masih asri sekaligus menghayati betapa pentingnya menjaga kelestarian pulau-pulau kecil sebagai harta tak ternilai bagi generasi mendatang.

Kami menempuh perjalanan menggunakan perahu cepat yang membelah air jernih berwarna biru cerah. Perjalanan laut memakan waktu sekitar satu jam dari Pelabuhan Sorong dengan biaya sewa perahu sebesar Rp250.000 untuk sekali perjalanan. Di sepanjang perjalanan, air laut yang bening bagai kaca memperlihatkan dasar laut yang kaya akan kehidupan, seakan pulau itu sudah membukakan keindahannya menyambut kedatangan kami dari kejauhan.

Sesampainya di pantai, pasir putih halus bagai tepung dan air yang bergradasi biru tampak menyambut kedatangan kami bagai pelukan hangat alam yang murni dan bersih. Hutan hijau yang menutupi pulau seakan menjadi mahkota indah yang melindungi kesucian pulau, mengajarkan kami bahwa kemewahan sejati lahir dari kesederhanaan dan kelestarian alam yang terjaga. Kami berjalan menyusuri pantai sambil menikmati suara deburan ombak yang menenangkan jiwa dan melihat ikan-ikan kecil berenang bebas di tepian air.

Kami juga berjalan menyusuri jalur setapak di pinggir hutan yang rimbun dan sejuk. Pepohonan besar yang berakar kuat seakan menjadi penjaga setia yang menjaga kesuburan dan keasrian pulau, mengingatkan kami untuk senantiasa menjaga kelestarian hutan sebagai sumber kehidupan dan keseimbangan alam. Kami juga berkesempatan menyaksikan burung-burung cantik yang terbang bebas di antara dahan pohon bagai bunga hidup yang berwarna-warni menghiasi permata hijau ini.

Menjelang sore, saat matahari terbenam memancarkan cahaya keemasan yang berkilauan di permukaan air yang tenang, kami berpamitan pulang membawa kedamaian dan rasa syukur yang mendalam di dalam hati. Pulau Batanta tetap tampak indah dan murni bagai zamrud yang tak ternilai harganya, mengingatkan kami untuk menjaga kebersihan laut dan kelestarian hutan. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya bawalah bekal makanan dan air minum yang cukup, bawa kembali semua sampah agar pulau tetap bersih, serta jangan merusak terumbu karang dan tanaman saat berada di sana.

2. Laporan Perjalanan ke Taman Laut Raja Ampat — Sorong
Judul: Kehidupan Bawah Air Yang Indah Bagai Taman Permata Yang Tersembunyi Di Dalam Samudera Biru Yang Luas Dan Penuh Keajaiban

Pada pertengahan bulan Juni, aku bersama ayah dan ibu menuju kawasan perairan yang menjadi gerbang menuju keindahan bawah laut Raja Ampat yang mendunia. Perjalanan ini kami lakukan untuk menyaksikan langsung kekayaan terumbu karang dan ikan-ikan berwarna-warni sekaligus menyadari betapa pentingnya menjaga kelestarian laut sebagai warisan yang tak ternilai harganya.

Kami menempuh perjalanan menggunakan perahu cepat yang melaju tenang membelah air jernih berwarna biru muda. Perjalanan laut memakan waktu sekitar dua jam dari Pelabuhan Sorong dengan biaya sewa perahu sebesar Rp500.000 untuk sekali perjalanan. Di sepanjang perjalanan, air laut yang jernih hingga tampak dasarnya tampak menyapa kami dengan warna biru yang bergradasi indah, seakan keindahan di bawah permukaan sudah membukakan dirinya menyambut kedatangan kami.

Sesampainya di lokasi, air yang bening bagai kaca memperlihatkan hamparan terumbu karang yang indah dan ikan-ikan berwarna-warni yang berenang bebas bagai bintang-bintang yang berpindah di dalam samudera biru. Kehidupan yang berjalan harmonis di dalam air seakan mengajarkan kami bahwa keindahan sejati lahir dari keseimbangan dan keselarasan antar sesama makhluk hidup. Kami menyelam sebentar menyaksikan keindahan bawah laut yang memukau hati dan pikiran.

Kami juga berenang dan berfoto bersama ikan-ikan yang berenang bebas di sekitar kami. Pengalaman luar biasa ini seakan membuka wawasan kami bahwa menjaga kebersihan laut dan tidak merusak terumbu karang adalah tanggung jawab kita semua agar keindahan ini tetap terjaga bagi generasi mendatang. Kami juga berjanji dalam hati untuk senantiasa menjaga kelestarian lingkungan laut dan menyebarkan kesadaran kepada orang lain.

Menjelang siang, kami berpamitan pulang membawa kekaguman dan rasa syukur yang mendalam di dalam hati. Perairan Raja Ampat tetap tampak indah dan kaya bagai permata biru yang tak ternilai harganya, mengingatkan kami untuk senantiasa menjaga kelestarian laut. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya gunakan pelampung keselamatan, jangan menyentuh atau menginjak terumbu karang, jangan membuang sampah ke air, dan patuhi peraturan agar keindahan alam tetap terjaga.

3. Laporan Perjalanan ke Pantai Sorong
Judul: Pantai Berpasir Putih Halus Yang Membentang Bagai Permadani Perak Di Tepian Laut Yang Menyapa Kota Sorong Dengan Lembut Dan Damai

Pada awal bulan Juli, saat angin laut berhembus sejuk menyapa kota Sorong, aku beserta keluarga besar berkunjung ke Pantai Sorong yang menjadi tempat warga bersantai menikmati deburan ombak dan pemandangan matahari terbenam yang indah. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati ketenangan tepian laut sekaligus menghayati makna kedamaian yang lahir dari keselarasan antara daratan dan lautan yang saling melengkapi.

Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga yang melaju tenang menyusuri jalan tepian yang terbuka dan tertata rapi. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit dari pusat kota Sorong dengan biaya tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang. Di sepanjang perjalanan, hamparan air laut yang luas dan biru tampak menyapa kami dari sisi jalan, seakan pantai yang indah itu sudah membukakan pelukannya menyambut kedatangan kami dengan penuh keramahan dan kesejukan.

Sesampainya di tepian pantai, pasir putih halus bagai tepung dan air yang jernih bergradasi biru tampak menyambut kedatangan kami bagai lukisan indah ciptaan Tuhan Yang Maha Agung. Ombak lembut yang menyapu pasir seakan berirama menenangkan hati, mengajarkan kami bahwa ketenangan alam adalah obat terbaik bagi jiwa yang lelah. Kami berjalan menyusuri tepian sambil menikmati suara deburan ombak yang terdengar bagai musik alam yang menyejukkan segenap raga dan jiwa.

Kami juga duduk bersantai di bawah rindangnya pohon kelapa sambil menikmati segarnya kelapa muda yang airnya manis dan dingin. Pohon-pohon kelapa yang berjejer rapi seakan menjadi penjaga setia yang meneduhkan pantai, mengajarkan kami untuk senantiasa melindungi dan menjaga kelestarian alam sebagai sumber kehidupan dan keindahan yang tak ternilai. Kami menyaksikan pula perahu-perahu nelayan yang berlabuh tenang di tepian bagai burung laut yang sedang beristirahat dengan damai.

Menjelang sore, saat matahari terbenam memancarkan cahaya keemasan yang berkilauan di permukaan air, kami berpamitan pulang membawa kedamaian yang meresap hingga ke dalam hati. Pantai Sorong tetap membentang indah bagai pelukan hangat laut yang tak pernah lelah menyapa, mengingatkan kami untuk menjaga kebersihan dan kelestariannya. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya datanglah menjelang sore agar menikmati matahari terbenam yang memukau, cobalah kelapa muda dan ikan bakar segar, serta jangan membuang sampah agar pantai tetap bersih dan nyaman.

4. Laporan Perjalanan ke Taman Kota Sorong
Judul: Ruang Hijau Di Tengah Kota Yang Menyegarkan Bagai Paru-Paru Kota Yang Memberi Kehidupan Dan Kesegaran Bagi Setiap Warga Yang Berkunjung Ke Sana

Pada pertengahan bulan Juli, aku beserta teman-teman sekelas berkunjung ke Taman Kota Sorong yang menjadi ruang terbuka hijau dan tempat berkumpul warga di pusat kota. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati kesegaran udara dan suasana tenang sekaligus menyadari pentingnya menjaga ruang hijau sebagai tempat yang menyegarkan tubuh, pikiran, dan jiwa setiap warga kota.

Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum yang melaju tenang menyusuri jalan yang ramai namun tertib menuju pusat kota. Perjalanan memakan waktu sekitar sepuluh menit dari pusat kota Sorong dan dapat dikunjungi secara bebas tanpa biaya tiket masuk. Di sepanjang perjalanan, suasana perlahan menjadi sejuk dan asri saat mendekati taman, seakan ruang hijau itu membukakan pelukan sejuknya menyambut kedatangan kami.

Sesampainya di taman, hamparan rumput hijau segar dan pepohonan rimbun yang menaungi jalan setapak menyambut kedatangan kami bagai pelukan sejuk alam yang menenangkan hati dan pikiran. Di sudut taman, pemandangan laut yang tampak dari kejauhan seakan menyatu dengan keindahan taman, menjadi bukti keselarasan antara pembangunan kota dan kelestarian alam.

Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang rindang sambil menikmati suara kicauan burung dan gemerisik dedaunan yang berpadu menjadi irama alam menenangkan jiwa. Setiap pohon yang tumbuh kokoh berakar kuat seakan mengajarkan kami bahwa fondasi kehidupan yang kuat dan keselarasan dengan alam adalah kunci agar kita tetap berdiri tegak dan memberi manfaat bagi sesama. Kami juga duduk bersantai sambil bercerita dan tertawa bersama dalam suasana yang damai.

Menjelang sore, saat lampu taman mulai menyala lembut dan memantulkan cahayanya di jalan setapak yang asri, kami berpamitan pulang dengan hati yang segar dan pikiran tenang. Taman Kota tetap tampak hijau dan damai bagai pelukan alam yang senantiasa menunggu kedatangan siapa saja yang mencari kesegaran. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya datanglah pagi atau sore hari agar udara sejuk, jaga kebersihan dan jangan membuang sampah, serta jangan merusak tanaman agar tetap nyaman bagi semua orang.

5. Laporan Perjalanan ke Pasar Sentral Sorong
Judul: Pasar Yang Ramai Dan Penuh Warna Bagai Lautan Kekayaan Alam Yang Melimpah Dari Hutan Dan Laut Sebagai Berkah Tuhan Bagi Tanah Sorong Yang Subur

Pada awal bulan Agustus, aku beserta ibu berkunjung ke Pasar Sentral Sorong yang menjadi pusat perdagangan dan tempat pertemuan warga dari berbagai penjuru kota dan pulau-pulau sekitar. Perjalanan ini kami lakukan untuk melihat kekayaan hasil bumi dan hasil laut sekaligus menyaksikan keramahan dan kesederhanaan masyarakat yang penuh sukacita dalam bekerja dan berdagang.

Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum yang melaju tenang menyusuri jalan yang ramai namun tertib menuju pusat kota. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit dari pusat kota Sorong dan dapat dikunjungi secara bebas tanpa biaya tiket masuk. Di sepanjang perjalanan, suasana perlahan terasa semakin hidup dan penuh warna, seakan pasar yang ramai itu sudah membukakan pintunya menyambut kedatangan kami.

Sesampainya di lokasi, deretan lapak berisi ikan laut segar yang baru didapat nelayan, buah-buahan tropis yang manis, sayuran segar, dan kerajinan tangan khas Papua tampak menyambut kedatangan kami bagai lautan kekayaan alam yang melimpah ruah sebagai berkah Tuhan Yang Maha Agung. Setiap barang yang ditata rapi dan berwarna-warni seakan menjadi bukti kesuburan tanah dan kekayaan laut yang tak pernah berhenti memberi manfaat bagi masyarakat yang menjaganya dengan penuh syukur. Suara tawar-menawar yang ramah berpadu dengan tawa para pedagang seakan menjadi irama kehidupan yang menyejukkan jiwa.

Kami berjalan menyusuri lorong pasar sambil melihat berbagai macam kekayaan alam yang ditawarkan dengan harga terjangkau. Keramahan para pedagang yang menyapa dengan senyum tulus seakan mengajarkan kami bahwa kemakmuran sejati lahir dari kerja keras, kejujuran, dan keramahan hati. Kami juga membeli beberapa buah tangan dan berkenalan dengan para pedagang yang sopan menyambut kedatangan kami.

Menjelang siang, kami berpamitan pulang membawa belanjaan dan kesan mendalam tentang keramahan serta kesederhanaan masyarakat Sorong. Pasar Sentral tetap tampak ramai dan hidup bagai jantung kehidupan yang tak pernah berhenti berdetak, mengingatkan kami untuk bersyukur atas kekayaan alam dan hidup dengan kerja keras serta keramahan hati. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya datanglah pagi hari agar barang masih segar, bicaralah dengan ramah saat bertransaksi, serta jaga kesopanan dan kebersihan agar kenyamanan bersama tetap terjaga.

6. Laporan Perjalanan ke Pulau Doom
Judul: Pulau Bersejarah Yang Menyimpan Jejak Masa Lalu Bagai Halaman Sejarah Yang Terbuka Memperlihatkan Kejayaan Masa Lampau Di Tengah Laut Biru Yang Tenang

Pada pertengahan bulan Agustus, aku bersama ayah dan ibu menyeberang menuju Pulau Doom yang terletak tak jauh dari pusat kota Sorong dan menyimpan banyak jejak sejarah masa lampau. Perjalanan ini kami lakukan untuk mengenal lebih dekat sejarah masa lalu sekaligus menghayati betapa pentingnya menjaga peninggalan sejarah sebagai pelajaran berharga bagi kehidupan di masa kini dan masa depan.

Kami menempuh perjalanan menggunakan perahu kecil yang melaju tenang membelah air yang tenang dan jernih. Perjalanan laut memakan waktu sekitar sepuluh menit dari Pelabuhan Sorong dengan biaya tiket perahu sebesar Rp15.000 per orang. Di sepanjang perjalanan, air laut yang tenang dan biru tampak menyapa kami dari sisi perahu, seakan pulau bersejarah itu sudah membukakan halaman sejarahnya menyambut kedatangan kami dengan penuh kebijaksanaan.

Sesampainya di pulau, bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kokoh dan jalan-jalan yang tertata rapi tampak menyambut kedatangan kami bagai saksi bisu kejayaan masa lampau yang tak pernah pudar oleh waktu. Setiap bangunan dan pohon besar yang tumbuh berakar kuat seakan bercerita tentang perjuangan dan kehidupan masa lalu, mengajarkan kami bahwa kemajuan masa kini lahir dari perjuangan dan pengalaman masa lalu yang harus dihargai dan dijadikan pelajaran. Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang sejuk sambil membaca penjelasan sejarah yang tertulis di papan informasi dengan penuh rasa hormat dan kekaguman.

Kami juga berhenti sejenak menikmati pemandangan laut yang tenang dan indah dari tepian pulau yang bersejarah itu. Pemandangan yang terbentang luas di hadapan mata seakan mengajarkan kami bahwa sejarah adalah cermin kehidupan yang memperlihatkan kebesaran dan perjuangan leluhur, sehingga kita harus senantiasa menghargai dan melestarikannya. Kami juga berjanji dalam hati untuk senantiasa mencintai dan menjaga peninggalan sejarah agar tetap terjaga bagi generasi mendatang.

Menjelang sore, saat matahari mulai terbenam memancarkan cahaya keemasan yang lembut menyinari bangunan-bangunan tua di pulau, kami berpamitan pulang membawa rasa hormat dan tekad yang semakin bulat di dalam hati. Pulau Doom tetap tampak tenang dan bermakna bagai halaman sejarah yang tak pernah usang, mengingatkan kami untuk belajar dari masa lalu demi membangun masa depan yang lebih baik. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya berjalanlah dengan tenang dan penuh rasa hormat, jangan merusak bangunan atau peninggalan sejarah, serta jaga kebersihan dan ketenangan pulau agar tetap terjaga keasriannya.

7. Laporan Perjalanan ke Air Terjun Tembuni
Judul: Air Terjun Yang Turun Dari Tebing Hijau Rimbun Bagai Tirai Perak Yang Dijatuhkan Langit Sebagai Anugerah Kesegaran Abadi Bumi Sorong Yang Panas Menjadi Sejuk

Pada awal bulan September, aku beserta paman dan sepupu berkunjung ke Air Terjun Tembuni yang tersembunyi di kawasan hutan yang asri dan sejuk tak jauh dari kota Sorong. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati kesegaran air terjun yang jernih sekaligus menghayati makna kesabaran dan ketekunan yang tercermin dari aliran air yang terus mengalir tanpa henti melewati segala rintangan hingga sampai ke bawah.

Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga hingga ke kawasan hutan, lalu berjalan kaki menyusuri jalur setapak yang berbatu dan menurun menuju lokasi air terjun. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dari kota Sorong dengan biaya tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang. Di sepanjang jalan, udara semakin sejuk dan suara gemuruh air mulai terdengar samar menyapa telinga, seakan air terjun yang sejuk itu sudah membukakan keindahannya menyambut kedatangan kami dari kejauhan dengan penuh keramahan dan kesegaran.

Sesampainya di lokasi, air terjun yang turun dari ketinggian tebing hijau rimbun tampak bagai tirai perak yang jatuh lembut menyentuh bumi, menciptakan kabut air yang sejuk dan menyegarkan wajah serta segenap jiwa yang lelah. Tebing yang hijau dan rimbun mengelilingi air terjun seakan menjadi dinding pelindung yang menjaga kesucian dan kesegaran sumber air yang tak pernah kering sepanjang masa sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Agung.

Kami berjalan mendekati kolam di bawah air terjun sambil menikmati sejuknya udara dan butiran air yang berhamburan lembut menyegarkan segenap raga dan jiwa. Perjalanan yang sedikit melelahkan sebanding dengan kesegaran yang kami temukan, mengajarkan kami bahwa usaha tulus dan ketekunan yang tak kenal lelah akan selalu membuahkan hasil yang manis dan menyegarkan hati bagi siapa saja yang menjalaninya dengan penuh kesabaran. Kami juga duduk bersantai sejenak menikmati suasana tenang yang menyelimuti tempat ini sambil bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Agung atas keindahan ciptaan-Nya.

Menjelang siang, kami berpamitan meninggalkan air terjun yang terus mengalir tanpa henti bagai kesabaran yang tak pernah putus sepanjang masa. Kami pulang membawa kesegaran yang meresap hingga ke tulang dan pesan luhur bahwa kesabaran serta keselarasan dengan alam adalah harta paling berharga yang harus dijaga seumur hidup. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya kenakan alas kaki yang kuat dan anti selip karena jalannya licin dan berbatu, bawalah baju ganti dan handuk, serta jangan membuang sampah atau mencemari air agar tetap jernih dan lingkungan tetap asri.

8. Laporan Perjalanan ke Pelabuhan Sorong
Judul: Pelabuhan Yang Ramai Dan Penuh Harapan Bagai Pintu Gerbang Yang Menghubungkan Ribuan Pulau Menjadi Satu Dalam Kasih Sayang dan Persatuan

Pada pertengahan bulan September, aku bersama ayah dan ibu berkunjung ke Pelabuhan Sorong yang menjadi pintu gerbang utama menghubungkan kota Sorong dengan pulau-pulau lain dan daerah-daerah sekitarnya. Perjalanan ini kami lakukan untuk menyaksikan langsung kesibukan pelabuhan sekaligus menghayati makna persatuan dan hubungan yang erat antar sesama warga yang hidup di kepulauan yang luas ini.

Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum yang melaju tenang menyusuri jalan yang lebar dan tertata rapi menuju pelabuhan. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit dari pusat kota Sorong dan dapat dikunjungi secara bebas tanpa biaya tiket masuk. Di sepanjang perjalanan, suasana perlahan terasa semakin hidup dan ramai, seakan pelabuhan yang sibuk itu sudah membukakan pintunya menyambut kedatangan kami dengan penuh semangat dan harapan.

Sesampainya di pelabuhan, kapal-kapal yang berlabuh rapi dan orang-orang yang berjalan tertib membawa barang dan berpenumpang tampak menyambut kedatangan kami bagai lautan kehidupan yang terus bergerak maju tanpa henti. Setiap kapal yang datang dan pergi seakan menjadi jembatan persatuan yang menghubungkan pulau-pulau yang terpisah oleh laut menjadi satu kesatuan yang utuh dan kuat, mengajarkan kami bahwa meskipun terpisah oleh laut, hati dan jiwa tetap menyatu sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa yang besar.

Kami berjalan menyusuri tepian pelabuhan sambil menyaksikan kapal-kapal yang berangkat dan tiba dengan tertib.
Kami juga berhenti sejenak memandang luasnya laut biru yang tampak membentang tak berujung di hadapan mata. Pemandangan laut yang luas dan kapal-kapal yang melaju menembus ombak seakan mengajarkan kami bahwa tidak ada jarak yang dapat memisahkan kasih sayang dan persatuan yang tulus di antara sesama anak bangsa. Kami juga berdoa sejenak memohon keselamatan dan berkah bagi setiap orang yang bepergian melintasi lautan demi keluarga dan kehidupan.

Menjelang sore, saat matahari mulai terbenam memancarkan cahaya keemasan yang berkilauan indah di permukaan air pelabuhan yang tenang, kami berpamitan pulang membawa semangat dan harapan yang semakin membara di dalam hati. Pelabuhan Sorong tetap tampak sibuk dan penuh harapan bagai pintu gerbang persatuan yang tak pernah tertutup, mengingatkan kami untuk senantiasa menjaga persatuan dan hubungan baik antar sesama. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya berjalanlah di tempat yang aman dan tertib, patuhi peraturan keselamatan pelabuhan, serta jangan membuang sampah ke laut agar perairan pelabuhan tetap bersih dan aman.

9. Laporan Perjalanan ke Hutan Kota Sorong
Judul: Hutan Hijau Di Tengah Kota Yang Menyimpan Kesegaran Dan Kehidupan Bagai Hati Yang Selalu Bersih Dan Suci Menjaga Keseimbangan Tubuh Dan Jiwa

Pada awal bulan Oktober, aku beserta guru dan teman-teman sekelas berkunjung ke Hutan Kota Sorong yang menjadi kawasan hijau dan tempat pelestarian tanaman serta satwa di tengah kota. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati kesegaran udara sekaligus menyadari betapa pentingnya menjaga hutan sebagai paru-paru kota yang menghasilkan udara bersih dan menyeimbangkan suhu lingkungan.

Kami menempuh perjalanan menggunakan bus sekolah yang melaju tenang menyusuri jalan yang tertata rapi menuju kawasan hutan kota. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit dari pusat kota Sorong dengan biaya tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang. Di sepanjang perjalanan, udara perlahan menjadi semakin sejuk dan segar saat mendekati kawasan hutan, seakan hutan yang kaya kehidupan itu sudah membukakan pintunya menyambut kedatangan kami dengan penuh kesegaran dan keramahan alam.

Sesampainya di dalam kawasan, hamparan pepohonan hijau yang menjulang tinggi dan rimbun menyambut kedatangan kami bagai pelukan sejuk alam yang murni dan asri. Setiap pohon yang berakar kuat di tanah seakan menjadi rumah bagi ribuan makhluk hidup yang hidup berdampingan rukun dan damai, mengajarkan kami bahwa keragaman adalah kekayaan yang patut disyukuri dan dijaga dengan kasih sayang. Kami berjalan menyusuri jalur setapak yang rindang sambil mendengarkan suara kicauan burung dan gemerisik dedaunan yang berpadu menjadi irama alam menenangkan jiwa.

Kami juga berhenti sejenak mendengarkan penjelasan tentang pentingnya menjaga hutan agar udara tetap bersih dan segar bagi semua orang. Penjelasan yang kami dengar seakan membuka wawasan kami bahwa menjaga hutan adalah tanggung jawab semua orang agar generasi mendatang tetap dapat menikmati udara bersih dan keindahan alam yang asri. Kami juga berjanji dalam hati untuk senantiasa menanam dan merawat pohon di lingkungan rumah dan sekolah kami.

Menjelang siang, kami berpamitan pulang dengan hati yang segar dan pikiran penuh wawasan baru. Hutan Kota tetap tampak hijau dan rimbun bagai paru-paru kehidupan yang tak pernah berhenti memberi manfaat, mengingatkan kami untuk menjaga kelestarian hutan dan lingkungan. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya ikuti jalur yang telah ditetapkan, bawalah air minum dan pakaian nyaman, serta jangan memetik tanaman, menangkap hewan, atau membuang sampah agar hutan tetap lestari.

10. Laporan Perjalanan ke Masjid Raya Sorong
Judul: Bangunan Suci Yang Berdiri Megah Di Tengah Kota Bagai Perahu Iman Yang Melaju Tenang Menuju Pantai Keselamatan Dan Kedamaian Abadi

Pada pertengahan bulan Oktober, aku bersama ayah dan ibu berkunjung ke Masjid Raya Sorong yang berdiri megah dan indah di pusat kota sebagai pusat ibadah dan lambang kerukunan umat beragama di tanah Sorong yang berkembang pesat. Perjalanan ini kami lakukan untuk beribadah sekaligus mengagumi keindahan bangunan yang menjadi bukti kerukunan hidup masyarakat Sorong yang saling menghormati dan mencintai sesama.

Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum yang melaju tenang menyusuri jalan yang lebar dan tertata rapi menuju pusat kota. Perjalanan memakan waktu sekitar sepuluh menit dari pusat kota Sorong dan dapat dikunjungi secara bebas tanpa biaya tiket masuk. Di sepanjang perjalanan, hati merasa tenang dan penuh harap, seakan cahaya keagungan masjid itu sudah menyapa hati kami dari kejauhan.

Sesampainya di lokasi, bangunan masjid dengan kubah besar berwarna putih bersih dan menara-menara yang menjulang tinggi tampak menyambut kedatangan kami bagai pelukan hangat penuh berkah dan kedamaian. Arsitektur yang kokoh dan indah seakan menjadi bukti bahwa keimanan tulus dan kerukunan yang kokoh adalah fondasi terkuat yang membangun kedamaian dan kemakmuran. Cahaya lembut yang masuk melalui jendela tampak memancarkan kehangatan yang menenangkan hati setiap orang yang beribadah dengan tulus ikhlas.

Kami melangkah masuk ke halaman yang luas dan bersih, lalu memasuki ruang utama yang lapang dan sejuk. Suasana damai dan khusyuk seakan menyelimuti segenap jiwa, menghapus segala kegelisahan seketika. Kami juga berdoa bersama memohon berkah dan kedamaian bagi keluarga, bangsa, dan kerukunan antarumat beragama di tanah Sorong yang berkembang pesat ini.

Menjelang sore, saat suara azan berkumandang merdu dari menara dan memantul lembut ke segenap penjuru kota, kami berpamitan pulang membawa kedamaian mendalam di dalam hati. Masjid Raya tetap berdiri indah bagai perahu iman yang tak pernah terombang-ambing, mengingatkan kami untuk menjaga kesucian hati dan menebarkan kasih sayang serta kerukunan. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya kenakan pakaian sopan dan menutup aurat, bicaralah dengan suara pelan agar tidak mengganggu, serta datanglah menjelang sore agar mendengar azan berkumandang dengan suasana yang damai.

11. Laporan Perjalanan ke Tugu Perbatasan Sorong
Judul: Tugu Yang Berdiri Tegak Dan Megah Bagai Saksi Persatuan Yang Menyatu Dalam Kasih Sayang Di Tanah Papua Yang Menjadi Gerbang Timur Indonesia Yang Mulia

Pada awal bulan November, aku beserta keluarga besar berkunjung ke Tugu Perbatasan yang berdiri megah di kawasan Sorong sebagai tanda wilayah dan gerbang menuju tanah Papua yang kaya akan keindahan dan keanekaragaman. Perjalanan ini kami lakukan untuk mengenal lebih dekat makna wilayah sekaligus menghayati makna persatuan dan keutuhan yang menjadi kekayaan terindah bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga yang melaju tenang menyusuri jalan yang lebar dan tertata rapi menuju lokasi tugu. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dari kota Sorong dan dapat dikunjungi secara bebas tanpa biaya tiket masuk. Di sepanjang perjalanan, hati merasa bangga dan penuh harap, seakan tugu yang megah itu sudah menyapa hati kami dari kejauhan dengan keagungan dan kebanggaan sebagai anak bangsa.

Sesampainya di lokasi, bangunan tugu yang tinggi dan kokoh tampak menyambut kedatangan kami bagai pelukan hangat persatuan yang menyapa dengan penuh keagungan dan kasih sayang. Setiap bagian tugu seakan bercerita tentang persatuan dan keutuhan yang menjadi kekuatan terbesar bangsa Indonesia, mengajarkan kami bahwa meskipun berbeda-beda, kita tetap menyatu sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa yang besar dan mulia. Kami berjalan perlahan mengelilingi tugu sambil membaca tulisan dan penjelasan dengan penuh rasa hormat dan bangga.

Dari halaman tugu, pemandangan tanah yang luas dan subur tampak terbentang di hadapan mata bagai simbol kebesaran dan keutuhan negeri yang membentang luas dari ujung barat hingga ujung timur. Pemandangan itu seakan mengajarkan kami bahwa persatuan adalah fondasi terkuat yang membangun kebesaran bangsa, sehingga di mana pun kita berada, hati dan jiwa tetap menyatu dalam kasih sayang dan persatuan. Kami juga berdoa sejenak memohon berkah dan kedamaian bagi seluruh bangsa Indonesia yang hidup bersatu dan rukun.

Menjelang siang, saat cahaya matahari menyinari bangunan tugu dengan keemasan lembut, kami berpamitan pulang membawa rasa bangga dan tekad yang semakin bulat di dalam hati. Tugu Perbatasan tetap berdiri tegak bagai pelita persatuan yang tak pernah padam, mengingatkan kami untuk menjaga persatuan dan keutuhan sebagai warisan terindah. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya berjalanlah dengan tenang dan penuh rasa hormat, bicaralah dengan suara pelan, serta jangan merusak atau mengotori bangunan tugu agar tetap terjaga keagungannya.

12. Laporan Perjalanan ke Pulau Ayau
Judul: Pulau Kecil Yang Terhampar Di Tengah Laut Biru Bagai Permata Zamrud Yang Mengapung Di Atas Kain Sutra Biru Yang Luas Dan Tenang

Pada pertengahan bulan November, aku beserta ayah dan ibu menyeberang menuju Pulau Ayau yang terletak di perairan Sorong dengan pantai yang masih alami dan air laut yang jernih memukau. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati keindahan pulau yang tenang sekaligus menghayati betapa indahnya ciptaan Tuhan Yang Maha Agung yang tersembunyi di tempat-tempat yang sederhana namun penuh keagungan.

Kami menempuh perjalanan menggunakan perahu nelayan yang melaju perlahan membelah air jernih berwarna biru muda. Perjalanan laut memakan waktu sekitar empat puluh lima menit dari Pelabuhan Sorong dengan biaya sewa perahu sebesar Rp200.000 untuk sekali perjalanan. Di sepanjang perjalanan, air yang jernih hingga tampak dasarnya tampak menyapa kami dengan warna biru bergradasi indah, seakan pulau itu sudah membukakan keindahannya menyambut kedatangan kami dari kejauhan.

Sesampainya di tepian, pasir putih halus dan air jernih tampak menyambut kedatangan kami bagai pelukan lembut alam yang murni dan bersih. Pepohonan hijau yang tumbuh subur di pulau seakan menjadi mahkota indah yang menghiasi permukaan laut, mengajarkan kami bahwa keindahan sejati tidak memerlukan kemewahan, melainkan kemurnian dan kesederhanaan yang lahir dari alam itu sendiri.

Kami berjalan menyusuri tepian pantai yang kecil namun indah sambil menikmati kesegaran udara dan kejernihan air yang memukau hati. Keindahan murni dan alami seakan mengingatkan kami bahwa keindahan sejati lahir dari kemurnian dan kesederhanaan, bukan dari kemewahan yang sesaat. Kami juga berenang sejenak menikmati kesegaran air yang jernih dan sejuk menyentuh kulit dengan lembut.

Menjelang siang, kami berpamitan pulang membawa kekaguman dan kedamaian yang meresap hingga ke dalam hati. Pulau Ayau tetap tampak indah dan murni bagai permata yang tak ternilai harganya, mengingatkan kami untuk menjaga kemurnian hati dan kelestarian alam. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya bawalah bekal makanan dan air minum yang cukup, bawa kembali semua sampah agar pulau tetap bersih, serta berhati-hatilah saat berenang dan naik perahu demi keselamatan.

13. Laporan Perjalanan ke Gereja Katedral Sorong
Judul: Bangunan Ibadah Yang Berdiri Kokoh Dan Anggun Bagai Saksi Iman Yang Tak Pernah Luntur Dihantam Angin Dan Hujan Di Tanah Papua Yang Damai

Pada awal bulan Desember, aku beserta keluarga berkunjung ke Gereja Katedral Sorong yang berdiri kokoh dan anggun di tengah kota sebagai pusat ibadah dan tempat penuh kedamaian bagi umat Kristiani. Perjalanan ini kami lakukan untuk mengenal lebih dekat tempat ibadah bersejarah sekaligus menghayati makna kesetiaan, kasih sayang, dan kerukunan yang menjadi ajaran luhur yang senantiasa dijunjung tinggi masyarakat Sorong.

Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum yang melaju tenang menyusuri jalan tertata rapi menuju pusat kota. Perjalanan memakan waktu sekitar sepuluh menit dari pusat kota Sorong dan dapat dikunjungi secara bebas tanpa biaya tiket masuk. Di sepanjang perjalanan, hati merasa tenang dan penuh penghormatan, seakan bangunan gereja yang anggun itu sudah menyapa hati kami dari kejauhan.

Sesampainya di lokasi, bangunan dengan gaya arsitektur yang anggun dan kokoh tampak menyambut kedatangan kami bagai pelukan hangat iman dan kesetiaan. Dinding yang masih berdiri tegak dan terawat baik seakan mengajarkan kami bahwa iman tulus dan kesetiaan teguh adalah fondasi terkuat yang tak akan pernah runtuh meskipun dihantam badai zaman. Cahaya lembut dari jendela kaca berwarna tampak memancarkan kedamaian yang menenangkan hati setiap orang yang berdoa dengan tulus ikhlas.

Kami melangkah masuk ke ruangan yang luas dan sejuk, duduk sejenak menikmati suasana khusyuk dan damai. Kesederhanaan dan keagungan yang tampak seakan mengingatkan kami bahwa kemuliaan sejati lahir dari kesederhanaan hati dan kesetiaan tulus. Kami juga berdoa bersama memohon kasih sayang dan berkah bagi seluruh keluarga dan bangsa yang hidup rukun dan damai.

Menjelang sore, saat cahaya matahari meredup dan menyinari dinding gereja dengan keemasan lembut, kami berpamitan pulang membawa kesucian hati dan tekad hidup dalam kasih sayang dan kerukunan. Gereja Katedral tetap berdiri anggun bagai pelita iman yang tak pernah padam, mengingatkan kami untuk menjaga iman, kasih sayang, dan kerukunan. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya kenakan pakaian sopan dan tertutup, bicaralah dengan suara pelan, serta jangan merusak atau mengambil benda-benda peninggalan agar tetap terjaga.

14. Laporan Perjalanan ke Taman Budaya Sorong
Judul: Tempat Yang Menyimpan Warisan Budaya Bagai Lembaran Sejarah Yang Terbuka Memperlihatkan Kekayaan Adat Dan Kearifan Leluhur Yang Mulia

Pada pertengahan bulan Desember, aku beserta rombongan keluarga berkunjung ke Taman Budaya Sorong yang menjadi tempat pelestarian budaya dan kesenian khas Papua. Perjalanan ini kami lakukan untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya sekaligus menghayati betapa berharganya warisan leluhur yang harus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga yang melaju tenang menyusuri jalan yang tertata rapi menuju lokasi. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit dari pusat kota Sorong dengan biaya tiket masuk sebesar Rp15.000 per orang. Di sepanjang perjalanan, suasana perlahan terasa semakin penuh makna dan keindahan, seakan taman budaya itu sudah membukakan pintunya menyambut kedatangan kami dengan penuh kebijaksanaan leluhur.

Sesampainya di lokasi, bangunan-bangunan tradisional dan karya seni yang tertata rapi tampak menyambut kedatangan kami bagai lembaran sejarah yang terbuka memperlihatkan kearifan dan keindahan budaya leluhur. Setiap bentuk bangunan dan karya seni seakan bercerita tentang kearifan leluhur dalam hidup selaras dengan alam, mengajarkan kami bahwa kearifan lama lahir dari keselarasan dengan alam dan kasih sayang sesama makhluk hidup. Kami berjalan menyusuri lorong-lorong yang asri sambil menikmati keindahan karya seni dan penjelasan tentang makna setiap benda yang dipamerkan.

Kami juga menyaksikan pertunjukan tarian dan nyanyian tradisional yang penuh keindahan dan makna. Gerakan tarian yang indah dan lirik nyanyian yang bermakna seakan mengajarkan kami bahwa keindahan budaya adalah jati diri bangsa yang harus senantiasa dijaga dan dilestarikan dengan penuh kasih sayang dan rasa bangga. Kami juga berjanji dalam hati untuk senantiasa mencintai dan melestarikan warisan budaya leluhur.

Menjelang siang, kami berpamitan pulang membawa rasa bangga dan kekayaan budaya yang meresap hingga ke dalam hati. Taman Budaya tetap tampak indah dan bermakna bagai lembaran sejarah yang tak pernah usang, mengingatkan kami untuk mencintai dan melestarikan warisan budaya. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya hormati adat istiadat dan aturan yang berlaku, jangan menyentuh benda-benda pameran tanpa izin, serta jaga kesopanan dan keramahan sebagai tanda penghormatan kepada budaya leluhur.

15. Laporan Perjalanan ke Pantai Pasir Putih Sorong
Judul: Pantai Pasir Putih Yang Bersih Dan Terang Bagai Cahaya Harapan Yang Menyinari Masa Depan Yang Cerah Bagi Seluruh Anak Negeri Di Tanah Papua

Pada akhir bulan Desember, aku beserta keluarga besar berkunjung ke Pantai Pasir Putih yang menjadi tempat wisata favorit warga dengan pasir putih bersih dan air laut yang jernih. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati keindahan pantai sekaligus menghayati makna kebersihan dan kesucian yang tercermin dari pasir putih dan air jernih yang menyatu dengan indah.

Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga yang melaju tenang menyusuri jalan tepian yang terbuka dan tertata rapi. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit dari pusat kota Sorong dengan biaya tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang. Di sepanjang perjalanan, hamparan air laut yang luas dan biru tampak menyapa kami dari kejauhan, seakan pantai yang indah itu sudah membukakan pelukannya menyambut kedatangan kami dengan penuh kelembutan dan kesucian.

Sesampainya di tepian pantai, pasir putih bersih dan air jernih bergradasi biru tampak menyambut kedatangan kami bagai cahaya harapan yang terang dan murni. Pasir yang bersih dan air yang jernih seakan mengajarkan kami bahwa kebersihan dan kesucian hati adalah hal yang paling berharga dan harus senantiasa dijaga agar kehidupan tetap indah dan menyenangkan. Kami berjalan menyusuri tepian sambil menikmati suara deburan ombak yang menenangkan jiwa dan melihat ikan-ikan kecil berenang bebas di tepian air yang jernih.

Kami juga duduk bersantai sambil menikmati pemandangan laut yang luas dan indah di hadapan mata. Pemandangan yang terbentang luas seakan mengajarkan kami bahwa masa depan yang cerah terbuka lebar bagi siapa saja yang menjaga kebersihan, kesucian, dan keharmonisan hidup bersama alam. Kami juga berjanji dalam hati untuk senantiasa menjaga kebersihan pantai dan lingkungan sekitar agar tetap indah bagi semua orang.

Menjelang sore, saat matahari terbenam memancarkan cahaya keemasan yang berkilauan indah di permukaan air yang tenang, kami berpamitan pulang membawa harapan dan kesucian hati yang semakin membara. Pantai Pasir Putih tetap bersih dan indah bagai cahaya harapan yang tak pernah redup, mengingatkan kami untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alam. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya jangan membuang sampah di pantai atau ke dalam air, berhati-hatilah saat berenang, serta bawalah bekal makanan dan air minum yang cukup agar nyaman selama berkunjung.

Demikian 15 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata di Papua Barat Daya - Sorong dalam bentuk narasi menggunakan kalimat efektif dan majas metafora untuk kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 4 SD dan MI halaman 146 147 soal Menulis Bab 6 Satu Titik dalam buku paket Kurikulum Merdeka terbitan Kemendibudristek edisi revisi 2023 .

( Tribunpekanbaru.com / Pitos Punjadi )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.