TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Berikut 15 contoh laporan perjalanan ke tempat wisata di Papua Tengah - Nabire yang menarik dalam bentuk narasi menggunakan kalimat efektif dan majas metafora untuk kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 4 SD dan MI halaman 146 147 soal Menulis Bab 6 Satu Titik dalam buku paket Kurikulum Merdeka terbitan Kemendibudristek edisi revisi 2023 .
Baca juga: 15 Contoh Laporan Perjalanan Wisata ke Papua Selatan, Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 4 SD
Bab 6 Satu Titik
Soal :
Bahas Bahasa
Majas Metafora
Majas adalah kiasan. Majas metafora adalah kiasan yang menggunakan kata atau kelompok kata yang bukan arti sebenarnya untuk menggambarkan sesuatu. Kata atau kelompok kata tersebut memiliki persamaan atau perbandingan dengan kata yang diwakilinya.
Berikut ini kalimat yang menggunakan majas metafora dalam teks “Anak Anak Merapi”.
1. Beberapa tahun lalu, wedhus gembel menjadi buah bibir orang-orang di Indonesia.
Arti buah bibir sebenarnya : bahan pembicaraan
2. Wedhus gembel membabi buta, menghanguskan apa saja yang dilaluinya.
Arti membabi buta sebenarnya : menerjang tanpa memilih
3. “Abu dan lava yang dikeluarkan itu baik untuk menyuburkan tanah,” Ratna angkat bicara.
Arti angkat bicara sebenarnya : mulai berbicara atau memberi pendapat
4. Mereka meminta Panji berlapang dada menerima kenyataan itu.
Arti berlapang dada sebenarnya : sabar
5. Mendung menyelimuti wajah Panji ketika dia teringat sapi kesayangannya.
Arti mendung sebenarnya : sedih
Menulis
Apa
Siapa
Mengapa
Dimana
Kapan
Bagaimana
Laporan Perjalanan
Kamu tentu pernah melakukan perjalanan ke suatu tempat untuk berwisata atau keperluan lainnya. Kegiatan itu dapat kamu tuangkan dalam bentuk laporan perjalanan.
Apakah laporan perjalanan itu? Laporan perjalanan adalah tulisan yang berisi hasil dari kunjungan atau perjalanan ke suatu tempat. Laporan perjalanan berisi fakta atau informasi berdasarkan pengamatan atau pengalaman orang yang melakukan perjalanan. Laporan perjalanan harus ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Laporan perjalanan dapat dituliskan dalam bentuk narasi . Kamu tentu masih ingat ADiKSiMBa (apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, bagaimana). Unsur-unsur di dalam laporan perjalanan harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Sekarang, ingat-ingatlah perjalanan menarik yang pernah kamu lakukan. Lalu, buatlah laporan perjalanan dalam bentuk narasi . Tuliskan karanganmu dengan memulai dari bagian awal yang menarik, diikuti bagian tengah yang seru, ditutup dengan bagian akhir yang juga menarik. Jangan lupa gunakan kalimat efektif dan majas metafora yang telah kalian pelajari.
Gunakan kerangka karangan berikut untuk memudahkan kamu bekerja.
Judul :
Awal (1 paragraf)
Ceritakan nama dan waktu perjalanan yang dilakukan (apa dan kapan), orang yang ikut dalam perjalanan (siapa), dan untuk apa perjalanan itu dilakukan (mengapa).
Tengah (2—3 paragraf)
Ceritakan proses perjalanannya (bagaimana). Kamu dapat menceritakan kendaraan yang digunakan, berapa lama waktu yang diperlukan, dan suasana perjalanannya. Kalau kamu mengetahui biaya-biaya dalam perjalanan tersebut, kamu dapat mencantumkannya. Ceritakan suka duka yang dialami selama perjalanan atau saat sampai di tujuan. Ceritakan pula hal-hal yang dijumpai atau dilakukan di tempat tujuan.
Akhir (1 paragraf)
Sampaikan kesan yang kamu dapat dari perjalanan ini. Kamu juga dapat menyampaikan rencana atau saran untuk perjalanan selanjutnya. Misalnya, “Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya membawa payung.”
Kunci jawaban :
Berikut contoh jawaban menulis laporan perjalanan menarik yakni 15 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata di Papua Tengah - Nabire dalam bentuk narasi menggunakan kalimat efektif dan majas metafora :
1. Laporan Perjalanan ke Pantai Nabire
Judul: Pantai Berpasir Putih Halus Yang Membentang Bagai Permadani Perak Di Tepian Teluk Cenderawasih Yang Luas Dan Damai
Pada awal bulan Juni, saat angin laut berhembus lembut menyapa kota Nabire, aku bersama kedua orang tuaku berkunjung ke Pantai Nabire, pantai andalan yang menghadap Teluk Cenderawasih dengan air jernih berwarna biru cerah. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati ketenangan tepian laut yang indah sekaligus menghirup udara segar yang menenangkan jiwa dari hiruk-pikuk kesibukan sehari-hari.
Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga yang melaju tenang menyusuri jalan tepian yang terbuka dan tertata rapi. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit dari pusat kota Nabire dengan biaya tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang. Di sepanjang perjalanan, hamparan air laut yang luas dan biru tampak menyapa kami dari sisi jalan, seakan teluk yang luas itu sudah membukakan pelukannya menyambut kedatangan kami dengan penuh keramahan dan kesejukan.
Sesampainya di tepian pantai, pasir putih halus bagai tepung dan air yang jernih bergradasi biru tampak menyambut kedatangan kami bagai lukisan indah ciptaan Tuhan Yang Maha Agung. Ombak lembut yang menyapu pasir seakan berirama menenangkan hati, mengajarkan kami bahwa ketenangan alam adalah obat terbaik bagi jiwa yang lelah. Kami berjalan menyusuri tepian sambil menikmati suara deburan ombak yang terdengar bagai musik alam yang menyejukkan segenap raga dan jiwa.
Kami juga duduk bersantai di bawah rindangnya pohon kelapa sambil menikmati segarnya kelapa muda yang airnya manis dan dingin. Pohon-pohon kelapa yang berjejer rapi seakan menjadi penjaga setia yang meneduhkan pantai, mengajarkan kami untuk senantiasa melindungi dan menjaga kelestarian alam sebagai sumber kehidupan dan keindahan yang tak ternilai. Kami menyaksikan pula perahu-perahu nelayan yang berlabuh tenang di tepian bagai burung laut yang sedang beristirahat dengan damai.
Menjelang sore, saat matahari terbenam memancarkan cahaya keemasan yang berkilauan di permukaan air, kami berpamitan pulang membawa kedamaian yang meresap hingga ke dalam hati. Pantai Nabire tetap membentang indah bagai pelukan hangat teluk yang tak pernah lelah menyapa, mengingatkan kami untuk menjaga kebersihan dan kelestariannya. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya datanglah menjelang sore agar menikmati matahari terbenam yang memukau, cobalah kelapa muda dan ikan bakar segar, serta jangan membuang sampah agar pantai tetap bersih dan nyaman.
2. Laporan Perjalanan ke Taman Nasional Teluk Cenderawasih
Judul: Perairan Jernih Yang Menyimpan Kehidupan Laut Bagai Taman Indah Di Bawah Permukaan Air Yang Luas Dan Damai
Pada pertengahan bulan Juni, aku bersama ayah dan ibu menyeberang menuju kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih, taman laut terluas di Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati laut yang luar biasa. Perjalanan ini kami lakukan untuk menyaksikan keindahan terumbu karang dan ikan-ikan berwarna-warni sekaligus menyadari betapa pentingnya menjaga kelestarian laut sebagai warisan yang tak ternilai harganya.
Kami menempuh perjalanan menggunakan perahu cepat yang melaju tenang membelah air jernih berwarna biru muda. Perjalanan laut memakan waktu sekitar satu jam dari pelabuhan Nabire dengan biaya sewa perahu sebesar Rp300.000 untuk sekali perjalanan. Di sepanjang perjalanan, air laut yang jernih hingga tampak dasarnya tampak menyapa kami dengan warna biru yang bergradasi indah, seakan keindahan di bawah permukaan sudah membukakan dirinya menyambut kedatangan kami.
Sesampainya di lokasi, air yang bening bagai kaca memperlihatkan hamparan terumbu karang yang indah dan ikan-ikan berwarna-warni yang berenang bebas bagai bintang-bintang yang berpindah di dalam samudera biru. Kehidupan yang berjalan harmonis di dalam air seakan mengajarkan kami bahwa keindahan sejati lahir dari keseimbangan dan keselarasan antar sesama makhluk hidup. Kami menyelam sebentar menyaksikan keindahan bawah laut yang memukau hati dan pikiran.
Kami juga berenang dan berfoto bersama ikan-ikan yang berenang bebas di sekitar kami. Pengalaman luar biasa ini seakan membuka wawasan kami bahwa menjaga kebersihan laut dan tidak merusak terumbu karang adalah tanggung jawab kita semua agar keindahan ini tetap terjaga bagi generasi mendatang. Kami juga berjanji dalam hati untuk senantiasa menjaga kelestarian lingkungan laut dan menyebarkan kesadaran kepada orang lain.
Menjelang siang, kami berpamitan pulang membawa kekaguman dan rasa syukur yang mendalam di dalam hati. Taman Nasional Teluk Cenderawasih tetap tampak indah dan kaya bagai permata biru yang tak ternilai harganya, mengingatkan kami untuk senantiasa menjaga kelestarian laut. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya gunakan pelampung keselamatan, jangan menyentuh atau menginjak terumbu karang, jangan membuang sampah ke air, dan patuhi peraturan agar keindahan alam tetap terjaga.
3. Laporan Perjalanan ke Gunung Botak
Judul: Bukit Yang Menjulang Anggun Bagai Menara Pengawas Yang Memandang Luas Teluk Cenderawasih Dari Ketinggian Yang Damai
Pada awal bulan Juli, aku beserta keluarga besar mendaki ke Gunung Botak yang menjadi ikon wisata alam Nabire dengan pemandangan teluk dan kota yang luar biasa indah dari ketinggian. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati pemandangan luas sekaligus menghayati keagungan ciptaan Tuhan Yang Maha Agung yang tampak semakin nyata dari ketinggian pandangan yang luas.
Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga hingga ke kaki bukit, lalu melanjutkan berjalan kaki menyusuri jalur setapak yang menanjak dan rimbun. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dari pusat kota Nabire dengan biaya tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang. Di sepanjang jalan, udara perlahan menjadi sejuk dan segar, seakan puncak bukit sudah membukakan pandangannya menyambut kedatangan kami.
Sesampainya di puncak, hamparan Teluk Cenderawasih yang luas biru dan kota yang tertata rapi tampak terbentang di hadapan mata bagai lukisan alam yang terhampar luas di bawah langit cerah. Dari ketinggian, segala sesuatu tampak teratur dan indah, mengajarkan kami bahwa dari ketinggian pandangan dan kebijaksanaan, segala urusan akan tampak lebih jelas dan penuh makna. Langit yang luas dan biru seakan menjadi bukti kebesaran Tuhan Yang Maha Agung yang menciptakan segala sesuatu dengan indah dan sempurna.
Kami berjalan menyusuri puncak sambil menikmati angin sejuk yang berhembus lembut dan menyegarkan jiwa. Angin sejuk seakan menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju keindahan dan kemajuan tidak selalu mudah, namun dengan tekad yang kuat bagai bukit yang kokoh, kita akan mampu mencapai puncak dan menikmati hasil yang luar biasa indah. Kami juga berhenti sejenak merenungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Agung yang terlihat dari keindahan ciptaan-Nya yang menyejukkan hati.
Menjelang sore, saat cahaya matahari mulai meredup dan menyinari hamparan teluk dengan keemasan yang lembut, kami berpamitan turun membawa semangat dan tekad yang semakin membara di dalam hati. Gunung Botak tetap berdiri anggun bagai menara kebijaksanaan yang tak pernah pudar, mengingatkan kami untuk memperluas pandangan hidup dengan kebijaksanaan. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya kenakan alas kaki yang nyaman dan anti selip, bawalah jaket tipis karena udara sejuk di puncak, serta jangan membuang sampah dan jangan merusak tanaman agar keindahan tetap terjaga.
4. Laporan Perjalanan ke Air Terjun Sembilang
Judul: Air Terjun Yang Turun Dari Tebing Hijau Rimbun Bagai Tirai Perak Yang Dijatuhkan Langit Sebagai Anugerah Kesegaran Abadi Bumi Nabire
Pada pertengahan bulan Juli, aku beserta paman dan sepupu berkunjung ke Air Terjun Sembilang yang tersembunyi di kawasan pegunungan yang asri dan sejuk tak jauh dari kota Nabire. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati kesegaran air terjun yang jernih sekaligus menghayati makna kesabaran dan ketekunan yang tercermin dari aliran air yang terus mengalir tanpa henti sepanjang masa.
Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga hingga ke kawasan hutan, lalu berjalan kaki menyusuri jalur setapak yang berbatu dan menurun menuju lokasi. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dari kota Nabire dengan biaya tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang. Di sepanjang jalan, udara semakin sejuk dan suara gemuruh air mulai terdengar samar, seakan menyambut kedatangan kami dengan penuh keramahan alam.
Sesampainya di lokasi, air terjun yang turun dari ketinggian tebing hijau rimbun tampak bagai tirai perak yang jatuh lembut menyentuh bumi, menciptakan kabut air yang sejuk dan menyegarkan wajah serta jiwa. Tebing yang hijau dan rimbun mengelilingi air terjun seakan menjadi dinding pelindung yang menjaga kesucian dan kesegaran sumber air yang tak pernah kering sepanjang masa.
Kami berjalan mendekati kolam di bawah air terjun sambil menikmati sejuknya udara dan butiran air yang berhamburan lembut menyegarkan segenap raga. Perjalanan yang sedikit melelahkan sebanding dengan kesegaran yang kami temukan, mengajarkan kami bahwa usaha tulus dan ketekunan akan selalu membuahkan hasil yang manis dan menyegarkan hati. Kami juga duduk bersantai sejenak menikmati suasana tenang yang menyelimuti tempat ini.
Menjelang siang, kami berpamitan meninggalkan air terjun yang terus mengalir tanpa henti bagai kesabaran yang tak pernah putus. Kami pulang membawa kesegaran yang meresap hingga ke tulang dan pesan luhur bahwa kesabaran serta keselarasan dengan alam adalah harta paling berharga. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya kenakan alas kaki yang kuat dan anti selip, bawalah baju ganti dan handuk, serta jangan membuang sampah atau mencemari air agar tetap jernih dan lingkungan tetap asri.
5. Laporan Perjalanan ke Pulau Biak Nabire
Judul: Pulau Kecil Yang Terhampar Di Tengah Teluk Bagai Permata Zamrud Yang Mengapung Di Atas Kain Sutra Biru Yang Luas
Pada awal bulan Agustus, aku beserta adik dan sepupu menyeberang menuju pulau kecil yang terletak di perairan Nabire dengan pantai yang masih alami dan air laut yang jernih memukau. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati keindahan pulau yang tenang sekaligus menghayati betapa indahnya ciptaan Tuhan Yang Maha Agung yang tersembunyi di tempat-tempat yang sederhana namun penuh keagungan.
Kami menempuh perjalanan menggunakan perahu nelayan yang melaju perlahan membelah air jernih berwarna biru muda. Perjalanan laut memakan waktu sekitar empat puluh lima menit dari pelabuhan Nabire dengan biaya sewa perahu sebesar Rp150.000 untuk sekali perjalanan. Di sepanjang perjalanan, air yang jernih hingga tampak dasarnya tampak menyapa kami dengan warna biru bergradasi indah, seakan pulau itu sudah membukakan keindahannya menyambut kedatangan kami dari kejauhan.
Sesampainya di tepian, pasir putih halus dan air jernih tampak menyambut kedatangan kami bagai pelukan lembut alam yang murni dan bersih. Bukit hijau yang menjulang di pulau seakan menjadi mahkota indah yang menghiasi permukaan laut, mengajarkan kami bahwa keindahan sejati tidak memerlukan kemewahan, melainkan kemurnian dan kesederhanaan yang lahir dari alam itu sendiri.
Kami berjalan menyusuri tepian pantai yang kecil namun indah sambil menikmati kesegaran udara dan kejernihan air yang memukau hati. Keindahan murni dan alami seakan mengingatkan kami bahwa keindahan sejati lahir dari kemurnian dan kesederhanaan, bukan dari kemewahan yang sesaat. Kami juga berenang sejenak menikmati kesegaran air yang jernih dan sejuk menyentuh kulit dengan lembut.
Menjelang siang, kami berpamitan pulang membawa kekaguman dan kedamaian yang meresap hingga ke dalam hati. Pulau kecil itu tetap tampak indah dan murni bagai permata yang tak ternilai harganya, mengingatkan kami untuk menjaga kemurnian hati dan kelestarian alam. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya bawalah bekal makanan dan air minum yang cukup, bawa kembali semua sampah agar pulau tetap bersih, serta berhati-hatilah saat berenang dan naik perahu demi keselamatan.
6. Laporan Perjalanan ke Masjid Agung Nabire
Judul: Bangunan Suci Yang Berdiri Megah Bagai Perahu Iman Yang Melaju Tenang Menuju Pantai Keselamatan Dan Kedamaian Abadi
Pada pertengahan bulan Agustus, aku bersama ayah dan ibu berkunjung ke Masjid Agung Nabire yang berdiri megah di tepian Teluk Cenderawasih sebagai pusat ibadah dan lambang kerukunan umat beragama di tanah Nabire. Perjalanan ini kami lakukan untuk beribadah sekaligus mengagumi keindahan bangunan yang menjadi bukti kerukunan hidup masyarakat Nabire yang saling menghormati dan mencintai sesama.
Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum yang melaju tenang menyusuri jalan tepian teluk yang lebar dan tertata rapi menuju pusat kota. Perjalanan memakan waktu sekitar sepuluh menit dari pusat kota Nabire dan dapat dikunjungi secara bebas tanpa biaya tiket masuk. Di sepanjang perjalanan, hati merasa tenang dan penuh harap, seakan cahaya keagungan masjid itu sudah menyapa hati kami dari kejauhan.
Sesampainya di lokasi, bangunan masjid dengan kubah besar berwarna putih bersih dan menara yang menjulang tinggi tampak menyambut kedatangan kami bagai pelukan hangat penuh berkah dan kedamaian. Arsitektur yang kokoh dan indah seakan menjadi bukti bahwa keimanan tulus dan kerukunan yang kokoh adalah fondasi terkuat yang membangun kedamaian dan kemakmuran. Cahaya lembut yang masuk melalui jendela tampak memancarkan kehangatan yang menenangkan hati setiap orang yang beribadah dengan tulus ikhlas.
Kami melangkah masuk ke halaman yang luas dan bersih, lalu memasuki ruang utama yang lapang dan sejuk. Suasana damai dan khusyuk seakan menyelimuti segenap jiwa, menghapus segala kegelisahan seketika. Kami juga berdoa bersama memohon berkah dan kedamaian bagi keluarga, bangsa, dan kerukunan antarumat beragama di tanah Nabire yang damai ini.
Menjelang sore, saat suara azan berkumandang merdu dari menara dan memantul lembut ke segenap penjuru kota dan permukaan teluk, kami berpamitan pulang membawa kedamaian mendalam di dalam hati. Masjid Agung tetap berdiri indah bagai perahu iman yang tak pernah terombang-ambing, mengingatkan kami untuk menjaga kesucian hati dan menebarkan kasih sayang serta kerukunan. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya kenakan pakaian sopan dan menutup aurat, bicaralah dengan suara pelan agar tidak mengganggu, serta datanglah menjelang sore agar mendengar azan berkumandang dan menikmati pemandangan yang indah.
7. Laporan Perjalanan ke Pasar Sentral Nabire
Judul: Pasar Yang Ramai Dan Penuh Warna Bagai Lautan Kehidupan Yang Menyimpan Kekayaan Alam Dan Keramahan Masyarakat Nabire Yang Mulia
Pada awal bulan September, aku beserta ibu berkunjung ke Pasar Sentral Nabire yang menjadi pusat perdagangan dan tempat pertemuan warga yang paling ramai di kota Nabire. Perjalanan ini kami lakukan untuk melihat kekayaan alam tanah Nabire sekaligus menyaksikan keramahan dan kesederhanaan masyarakat yang penuh sukacita dalam bekerja dan berdagang.
Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum yang melaju tenang menyusuri jalan yang ramai namun tertib menuju pusat kota. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit dari pusat kota Nabire dan dapat dikunjungi secara bebas tanpa biaya tiket masuk. Di sepanjang perjalanan, suasana perlahan terasa semakin hidup dan penuh warna, seakan pasar yang ramai itu sudah membukakan pintunya menyambut kedatangan kami.
Sesampainya di lokasi, deretan lapak berisi buah-buahan segar, sayuran hijau, ikan laut segar, dan kerajinan tangan khas Papua tampak menyambut kedatangan kami bagai lautan kekayaan alam yang melimpah ruah sebagai berkah Tuhan Yang Maha Agung. Setiap barang yang ditata rapi dan berwarna-warni seakan menjadi bukti kesuburan tanah dan kekayaan laut yang tak pernah berhenti memberi manfaat bagi masyarakat yang menjaganya dengan penuh syukur. Suara tawar-menawar yang ramah berpadu dengan tawa para pedagang seakan menjadi irama kehidupan yang menyejukkan jiwa.
Kami berjalan menyusuri lorong pasar sambil melihat berbagai kekayaan alam yang ditawarkan dengan harga terjangkau. Keramahan para pedagang yang menyapa dengan senyum tulus seakan mengajarkan kami bahwa kemakmuran sejati lahir dari kerja keras, kejujuran, dan keramahan hati. Kami juga membeli beberapa buah tangan dan berkenalan dengan para pedagang yang sopan menyambut kedatangan kami.
Menjelang siang, kami berpamitan pulang membawa belanjaan dan kesan mendalam tentang keramahan serta kesederhanaan masyarakat Nabire. Pasar Sentral tetap tampak ramai dan hidup bagai jantung kehidupan yang tak pernah berhenti berdetak, mengingatkan kami untuk bersyukur atas kekayaan alam dan hidup dengan kerja keras serta keramahan hati. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya datanglah pagi hari agar barang masih segar, bicaralah dengan ramah saat bertransaksi, serta jaga kesopanan dan kebersihan agar kenyamanan bersama tetap terjaga.
8. Laporan Perjalanan ke Bukit Panorama Nabire
Judul: Bukit Yang Menjulang Indah Bagai Panggung Pandang Yang Menampakkan Keindahan Teluk Dan Kota Nabire Dari Ketinggian Yang Menakjubkan
Pada pertengahan bulan September, aku beserta keluarga besar berkunjung ke Bukit Panorama yang menjadi tempat wisata andalan untuk menikmati pemandangan Teluk Cenderawasih dan kota Nabire secara menyeluruh dari ketinggian. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati keindahan pemandangan luas sekaligus menghayati makna keagungan ciptaan Tuhan yang tampak semakin sempurna dari ketinggian pandangan yang terbuka lebar.
Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga hingga ke puncak bukit yang tertata rapi. Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh lima menit dari kota Nabire dengan biaya tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang. Di sepanjang jalan menanjak, udara perlahan menjadi sejuk dan segar, seakan puncak bukit sudah membukakan pandangannya menyambut kedatangan kami.
Sesampainya di puncak, hamparan Teluk Cenderawasih yang luas biru dan kota yang tertata rapi di tepian tampak terbentang luas di hadapan mata bagai lukisan alam yang terhampar di bawah langit cerah. Dari ketinggian, semuanya tampak teratur dan indah, mengajarkan kami bahwa dari ketinggian pandangan dan kebijaksanaan, segala urusan akan tampak lebih jelas dan penuh makna. Laut biru yang tenang dan pulau-pulau kecil di kejauhan seakan menjadi bukti kebesaran Tuhan Yang Maha Agung yang menciptakan segala sesuatu dengan indah dan sempurna.
Kami berjalan menyusuri jalur puncak sambil menikmati angin sejuk yang berhembus lembut dan menyegarkan jiwa. Angin sejuk seakan menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju kemajuan tidak selalu tenang, namun dengan tekad kuat bagai bukit yang kokoh, kita akan mampu terus melaju menuju tujuan mulia. Kami juga berhenti sejenak merenungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Agung yang terlihat dari keindahan ciptaan-Nya.
Menjelang sore, saat cahaya matahari menyinari hamparan teluk dengan keemasan yang lembut, kami berpamitan turun membawa semangat dan tekad yang semakin membara. Bukit Panorama tetap berdiri anggun bagai panggung keindahan yang tak pernah pudar, mengingatkan kami untuk memperluas pandangan hidup dengan kebijaksanaan. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya kenakan alas kaki yang nyaman, bawalah jaket tipis karena udara sejuk di puncak, serta jangan membuang sampah dan jangan merusak tanaman agar keindahan tetap terjaga.
9. Laporan Perjalanan ke Sungai Nabire
Judul: Sungai Yang Mengalir Tenang Dari Pegunungan Menuju Teluk Bagai Urat Nadi Kehidupan Yang Tak Pernah Berhenti Memberi Berkah Bumi Nabire
Pada awal bulan Oktober, aku beserta adik dan sepupu berkunjung ke tepian Sungai Nabire yang mengalir tenang dari kawasan pegunungan menuju Teluk Cenderawasih menjadi sumber kehidupan masyarakat sejak lama. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati ketenangan sungai sekaligus menghayati makna kesinambungan kehidupan yang terus mengalir bagai air sungai yang tak pernah berhenti menuju tujuan.
Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga yang melaju tenang menyusuri jalan tepian sungai yang asri dan tertata rapi. Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit dari pusat kota Nabire dan dapat dinikmati secara bebas tanpa biaya tiket masuk. Di sepanjang perjalanan, air sungai yang jernih dan berwarna hijau kebiruan tampak menyapa kami dari kejauhan, seakan sungai yang tenang itu sudah membukakan keindahannya menyambut kedatangan kami.
Sesampainya di tepian, air yang tenang dan jernih berpadu dengan pepohonan hijau rimbun di tepian tampak menyambut kedatangan kami bagai lukisan alam yang terhampar luas. Air yang terus mengalir tenang seakan mengajarkan kami bahwa kehidupan yang berjalan tenang dan tulus akan senantiasa membawa kesuburan dan berkah bagi siapa saja yang hidup selaras dengan alam. Kami berjalan menyusuri tepian sambil menikmati kesegaran udara dan suara gemericik air yang menenangkan jiwa.
Kami juga melemparkan perahu kertas kecil ke aliran air sebagai tanda harapan agar kehidupan senantiasa mengalir tenang dan membawa kebaikan. Aliran air yang terus berjalan tanpa henti seakan mengingatkan kami bahwa waktu dan kehidupan terus berjalan, sehingga kita harus senantiasa berbuat baik dan bermanfaat selagi ada kesempatan. Kami juga berjanji untuk menjaga kebersihan air sungai agar tetap jernih dan bermanfaat bagi semua makhluk hidup.
Menjelang sore, saat matahari mulai terbenam memancarkan cahaya keemasan yang berkilauan di permukaan air, kami berpamitan pulang membawa kedamaian dan rasa syukur yang mendalam. Sungai Nabire tetap mengalir tenang bagai urat nadi kehidupan yang tak pernah kering, mengingatkan kami untuk menjaga kebersihan air dan kelestarian lingkungan. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya datanglah pagi atau sore hari agar udara sejuk dan pemandangan indah, jangan membuang sampah ke air agar tetap jernih, serta berhati-hatilah saat berada di tepian sungai.
10. Laporan Perjalanan ke Air Terjun Wondama
Judul: Air Terjun Bertingkat Yang Mengalir Jernih Melalui Bebatuan Hijau Lumut Bagai Tangga Perak Yang Menuju Kedamaian Abadi Dan Kesegaran Abadi
Pada pertengahan bulan Oktober, aku beserta paman dan sepupu berkunjung ke Air Terjun Wondama yang mengalir bertingkat melalui bebatuan berlumut hijau segar di kawasan hutan yang asri dan sejuk. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati kesegaran air terjun yang alami sekaligus menghayati makna kesabaran dan ketekunan yang tercermin dari aliran air yang terus mengalir melewati segala rintangan tanpa henti.
Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga hingga ke kawasan hutan, lalu berjalan kaki menyusuri jalur setapak yang berbatu dan menurun menuju lokasi. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dari kota Nabire dengan biaya tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang. Di sepanjang jalan, udara semakin sejuk dan suara gemuruh air terdengar samar, seakan menyambut kedatangan kami dengan penuh keramahan alam.
Sesampainya di lokasi, air yang mengalir bertingkat melalui bebatuan hijau berlumut tampak bagai tangga perak yang turun perlahan menuju kolam jernih di bawahnya. Aliran air yang terus mengalir melewati bebatuan seakan mengajarkan kami bahwa kesabaran dan ketekunan adalah kunci mencapai tujuan mulia, sehingga langkah demi langkah yang ditempuh dengan sabar akhirnya membawa kita menuju kebahagiaan dan kesegaran.
Kami berjalan mendekati aliran air sambil menikmati sejuknya udara dan kesegaran air yang jernih dan dingin. Perjalanan yang sedikit melelahkan sebanding dengan kesegaran yang kami temukan, mengajarkan kami bahwa usaha tulus dan ketekunan akan selalu membuahkan hasil yang manis. Kami juga duduk bersantai sejenak menikmati suasana tenang yang menyelimuti tempat ini.
Menjelang siang, kami berpamitan pulang membawa kesegaran yang meresap hingga ke tulang dan pesan luhur tentang kesabaran. Air terjun tetap mengalir tanpa henti bagai kesabaran yang tak pernah putus, mengingatkan kami untuk menjaga kelestarian lingkungan. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya kenakan alas kaki yang kuat dan anti selip, bawalah baju ganti dan handuk, serta jangan membuang sampah atau mencemari air agar tetap jernih dan lingkungan asri.
11. Laporan Perjalanan ke Taman Kota Nabire
Judul: Ruang Hijau Di Tengah Kota Yang Menyegarkan Bagai Paru-Paru Kota Yang Memberi Kehidupan Dan Kesegaran Bagi Setiap Warga
Pada awal bulan November, aku beserta teman-teman sekelas berkunjung ke Taman Kota Nabire yang menjadi ruang terbuka hijau dan tempat berkumpul warga di tepian Teluk Cenderawasih. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati kesegaran udara dan suasana tenang sekaligus menyadari pentingnya menjaga ruang hijau sebagai tempat yang menyegarkan tubuh, pikiran, dan jiwa setiap warga kota.
Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum yang melaju tenang menyusuri jalan tepian teluk menuju pusat kota. Perjalanan memakan waktu sekitar sepuluh menit dari pusat kota Nabire dan dapat dikunjungi secara bebas tanpa biaya tiket masuk. Di sepanjang perjalanan, suasana perlahan menjadi sejuk dan asri saat mendekati taman, seakan ruang hijau itu membukakan pelukan sejuknya menyambut kedatangan kami.
Sesampainya di taman, hamparan rumput hijau segar dan pepohonan rimbun yang menaungi jalan setapak menyambut kedatangan kami bagai pelukan sejuk alam yang menenangkan hati dan pikiran. Di tepian taman, pemandangan teluk yang luas biru tampak menyatu dengan keindahan taman, seakan menjadi bukti keselarasan antara pembangunan kota dan kelestarian alam.
Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang rindang sambil menikmati suara kicauan burung dan gemerisik dedaunan yang berpadu menjadi irama alam menenangkan jiwa. Setiap pohon yang tumbuh kokoh berakar kuat seakan mengajarkan kami bahwa fondasi kehidupan yang kuat dan keselarasan dengan alam adalah kunci agar kita tetap berdiri tegak dan memberi manfaat bagi sesama. Kami juga duduk bersantai sambil bercerita dan tertawa bersama dalam suasana yang damai.
Menjelang sore, saat lampu taman mulai menyala lembut dan memantulkan cahayanya di permukaan air teluk, kami berpamitan pulang dengan hati yang segar dan pikiran tenang. Taman Kota tetap tampak hijau dan damai bagai pelukan alam yang senantiasa menunggu kedatangan siapa saja yang mencari kesegaran. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya datanglah pagi atau sore hari agar udara sejuk, jaga kebersihan dan jangan membuang sampah, serta jangan merusak tanaman agar tetap nyaman bagi semua orang.
12. Laporan Perjalanan ke Pantai Karang Nabire
Judul: Pantai Berbatu Karang Yang Unik Bagai Lukisan Alam Yang Dihiasi Permata Karang Di Tepian Teluk Cenderawasih Yang Luas
Pada pertengahan bulan November, aku beserta keluarga besar berkunjung ke Pantai Karang yang memiliki pemandangan unik dengan bebatuan dan terumbu karang yang tampak indah saat air surut. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati keindahan pantai yang berbeda sekaligus menyaksikan kekayaan alam yang unik dan menakjubkan ciptaan Tuhan Yang Maha Agung.
Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga yang melaju tenang menyusuri jalan tepian yang terbuka. Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh menit dari pusat kota Nabire dengan biaya tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang. Di sepanjang perjalanan, pemandangan laut yang luas biru tampak menyapa kami dari kejauhan, seakan pantai yang unik itu sudah membukakan keindahannya menyambut kedatangan kami.
Sesampainya di pantai, hamparan bebatuan dan terumbu karang yang berwarna-warni tampak menyambut kedatangan kami bagai lukisan alam yang dihiasi permata karang. Setiap bentuk karang yang unik dan indah seakan mengajarkan kami bahwa perbedaan dan keunikan adalah kekayaan yang patut disyukuri dan dijaga dengan penuh kasih sayang. Kami berjalan hati-hati di antara bebatuan sambil menyaksikan keindahan terumbu karang dan ikan-ikan kecil yang berenang di sela-selanya.
Kami juga mengamati beragam jenis makhluk laut yang hidup di sela-sela bebatuan saat air surut. Keunikan dan keindahan yang kami temukan seakan mengingatkan kami bahwa setiap makhluk hidup memiliki peran dan keindahannya masing-masing, sehingga semuanya harus dijaga dan dihormati agar keseimbangan alam tetap terjaga. Kami juga berjanji untuk tidak merusak atau mengambil karang agar keindahan ini tetap terjaga.
Menjelang sore, saat matahari mulai terbenam memancarkan cahaya keemasan yang berkilauan di permukaan air dan bebatuan, kami berpamitan pulang membawa kekaguman dan rasa syukur yang mendalam. Pantai Karang tetap tampak unik dan indah bagai lukisan alam yang tak ternilai harganya, mengingatkan kami untuk menjaga kelestarian alam. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya perhatikan waktu air surut agar dapat melihat terumbu karang, kenakan alas kaki yang kuat dan anti selip, serta jangan mengambil atau merusak karang agar tetap indah.
13. Laporan Perjalanan ke Gereja Katedral Nabire
Judul: Bangunan Ibadah Yang Berdiri Kokoh Dan Anggun Bagai Saksi Iman Yang Tak Pernah Luntur Dihantam Angin Dan Hujan Di Tanah Nabire Yang Damai
Pada awal bulan Desember, aku beserta keluarga berkunjung ke Gereja Katedral Nabire yang berdiri kokoh dan anggun di tengah kota sebagai pusat ibadah dan tempat penuh kedamaian bagi umat Kristiani. Perjalanan ini kami lakukan untuk mengenal lebih dekat tempat ibadah bersejarah sekaligus menghayati makna kesetiaan, kasih sayang, dan kerukunan yang menjadi ajaran luhur yang senantiasa dijunjung tinggi masyarakat Nabire.
Kami menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum yang melaju tenang menyusuri jalan tertata rapi menuju pusat kota. Perjalanan memakan waktu sekitar sepuluh menit dari pusat kota Nabire dan dapat dikunjungi secara bebas tanpa biaya tiket masuk. Di sepanjang perjalanan, hati merasa tenang dan penuh penghormatan, seakan bangunan gereja yang anggun itu sudah menyapa hati kami dari kejauhan.
Sesampainya di lokasi, bangunan dengan gaya arsitektur yang anggun dan kokoh tampak menyambut kedatangan kami bagai pelukan hangat iman dan kesetiaan. Dinding yang masih berdiri tegak dan terawat baik seakan mengajarkan kami bahwa iman tulus dan kesetiaan teguh adalah fondasi terkuat yang tak akan pernah runtuh meskipun dihantam badai zaman. Cahaya lembut dari jendela kaca berwarna tampak memancarkan kedamaian yang menenangkan hati setiap orang yang berdoa dengan tulus ikhlas.
Kami melangkah masuk ke ruangan yang luas dan sejuk, duduk sejenak menikmati suasana khusyuk dan damai. Kesederhanaan dan keagungan yang tampak seakan mengingatkan kami bahwa kemuliaan sejati lahir dari kesederhanaan hati dan kesetiaan tulus. Kami juga berdoa bersama memohon kasih sayang dan berkah bagi seluruh keluarga dan bangsa yang hidup rukun dan damai.
Menjelang sore, saat cahaya matahari meredup dan menyinari dinding gereja dengan keemasan lembut, kami berpamitan pulang membawa kesucian hati dan tekad hidup dalam kasih sayang dan kerukunan. Gereja Katedral tetap berdiri anggun bagai pelita iman yang tak pernah padam, mengingatkan kami untuk menjaga iman, kasih sayang, dan kerukunan. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya kenakan pakaian sopan dan tertutup, bicaralah dengan suara pelan, serta jangan merusak atau mengambil benda-benda peninggalan agar tetap terjaga.
14. Laporan Perjalanan ke Hutan Wisata Nabire
Judul: Hutan Hijau Rimbun Yang Menyimpan Kehidupan Bagai Rumah Besar Bagi Ribuan Makhluk Hidup Yang Hidup Rukun Dan Damai
Pada pertengahan bulan Desember, aku beserta rombongan keluarga berkunjung ke Hutan Wisata Nabire yang terletak tak jauh dari kota dengan kekayaan hayati dan keasrian alam yang luar biasa. Perjalanan ini kami lakukan untuk menikmati kesegaran udara hutan yang murni sekaligus menghayati betapa pentingnya menjaga kelestarian hutan sebagai sumber kehidupan dan keseimbangan alam yang tak ternilai harganya.
Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga hingga ke kawasan hutan, lalu berjalan kaki menyusuri jalur setapak yang tertata rapi di antara pepohonan rimbun. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dari Nabire dengan biaya tiket masuk sebesar Rp15.000 per orang. Di sepanjang jalan, udara perlahan menjadi sejuk dan segar, seakan hutan yang kaya kehidupan itu sudah membukakan pintunya menyambut kedatangan kami.
Sesampainya di dalam kawasan, hamparan pepohonan hijau yang menjulang tinggi dan rimbun menyambut kedatangan kami bagai pelukan sejuk alam yang murni dan asri. Setiap pohon yang berakar kuat di tanah seakan menjadi rumah bagi ribuan makhluk hidup yang hidup berdampingan rukun dan damai, mengajarkan kami bahwa keragaman adalah kekayaan yang patut disyukuri dan dijaga dengan kasih sayang.
Kami berjalan menyusuri jalur setapak yang rindang sambil mendengarkan suara kicauan burung dan gemerisik dedaunan yang berpadu menjadi irama alam menenangkan jiwa. Penjelasan tentang kekayaan hayati seakan membuka wawasan kami bahwa menjaga hutan adalah tanggung jawab semua orang agar kekayaan alam tetap terjaga bagi generasi mendatang. Kami juga berjanji dalam hati untuk senantiasa menjaga kelestarian alam dan menyebarkan kesadaran kepada orang lain.
Menjelang siang, kami berpamitan pulang dengan hati yang segar dan pikiran penuh wawasan baru. Hutan Wisata tetap tampak hijau dan rimbun bagai paru-paru kehidupan yang tak pernah berhenti memberi manfaat, mengingatkan kami untuk menjaga kelestarian hutan. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya ikuti jalur yang telah ditetapkan, bawalah air minum dan pakaian nyaman, serta jangan memetik tanaman, menangkap hewan, atau membuang sampah agar hutan tetap lestari.
15. Laporan Perjalanan ke Tugu Perbatasan Nabire
Judul: Tugu Yang Berdiri Tegak Dan Megah Bagai Saksi Persatuan Yang Menyatu Dalam Kasih Sayang Di Tanah Papua Yang Damai Dan Subur
Pada akhir bulan Desember, aku beserta keluarga besar berkunjung ke Tugu Perbatasan Nabire yang berdiri megah sebagai tanda wilayah dan persatuan di tanah Papua Tengah. Perjalanan ini kami lakukan untuk mengenal lebih dekat batas wilayah sekaligus menghayati makna persatuan dan keutuhan yang menjadi kekayaan terindah bangsa Indonesia dari ujung barat hingga ujung timur.
Kami menempuh perjalanan menggunakan mobil keluarga yang melaju tenang menyusuri jalan yang lebar dan tertata rapi menuju lokasi tugu. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dari kota Nabire dan dapat dikunjungi secara bebas tanpa biaya tiket masuk. Di sepanjang perjalanan, hati merasa bangga dan penuh harap, seakan tugu yang megah itu sudah menyapa hati kami dari kejauhan dengan keagungan dan kebanggaan sebagai anak bangsa.
Sesampainya di lokasi, bangunan tugu yang tinggi dan kokoh tampak menyambut kedatangan kami bagai pelukan hangat persatuan yang menyapa dengan penuh keagungan dan kasih sayang. Setiap bagian tugu seakan bercerita tentang persatuan dan keutuhan yang menjadi kekuatan terbesar bangsa Indonesia, mengajarkan kami bahwa meskipun berbeda-beda, kita tetap menyatu sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa yang besar dan mulia. Kami berjalan perlahan mengelilingi tugu sambil membaca tulisan dan penjelasan dengan penuh rasa hormat dan bangga.
Dari halaman tugu, pemandangan tanah yang luas dan subur tampak terbentang di hadapan mata bagai simbol kebesaran dan keutuhan negeri yang membentang luas dari Sabang sampai Merauke. Pemandangan itu seakan mengajarkan kami bahwa persatuan adalah fondasi terkuat yang membangun kebesaran bangsa, sehingga di mana pun kita berada, hati dan jiwa tetap menyatu dalam kasih sayang dan persatuan. Kami juga berdoa sejenak memohon berkah dan kedamaian bagi seluruh bangsa Indonesia yang hidup bersatu dan rukun.
Menjelang siang, saat cahaya matahari menyinari bangunan tugu dengan keemasan lembut, kami berpamitan pulang membawa rasa bangga dan tekad yang semakin bulat di dalam hati. Tugu Perbatasan tetap berdiri tegak bagai pelita persatuan yang tak pernah padam, mengingatkan kami untuk menjaga persatuan dan keutuhan sebagai warisan terindah. Kalau berkunjung ke tempat ini, sebaiknya berjalanlah dengan tenang dan penuh rasa hormat, bicaralah dengan suara pelan, serta jangan merusak atau mengotori bangunan tugu agar tetap terjaga keagungannya.
Demikian 15 contoh laporan perjalanan menarik ke tempat wisata di Papua Tengah - Nabire dalam bentuk narasi menggunakan kalimat efektif dan majas metafora untuk kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 4 SD dan MI halaman 146 147 soal Menulis Bab 6 Satu Titik dalam buku paket Kurikulum Merdeka terbitan Kemendibudristek edisi revisi 2023 .
( Tribunpekanbaru.com / Pitos Punjadi )