TRIBUNJAMBI.COM, BANGKO - Kualitas udara di Kabupaten Merangin, Jambi, memburuk akibat kabut asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Berdasarkan data yang diperoleh TribunJambi.com, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kabupaten Merangin pada Rabu (26/8/2026) mencapai 184.
Angka tersebut masuk kategori tidak sehat, karena berada di atas ambang batas 100.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Merangin, Syafrani, membenarkan kondisi kualitas udara tersebut.
"Kabut asap di Kabupaten Merangin ini salah satu penyebabnya terjadi karhutla. Terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi tentunya menyebabkan munculnya asap yang mencemari kualitas udara," kata Syafrani kepada TribunJambi.com, Rabu (26/8/2026).
Syafrani menjelaskan, kualitas udara dikategorikan baik dan sehat apabila nilai ISPU berada di bawah 100.
Menurutnya, berdasarkan data alat pemantau kualitas udara dari Kementerian Lingkungan Hidup, ISPU Merangin sehari sebelumnya berada di angka 164.
"Untuk mengetahui ISPU di Merangin ada alat ujinya dari Kementerian Lingkungan Hidup. Hari kemarin dari data yang kami dapat, ISPU-nya 164 kategori tidak sehat. Hari Rabu (26/8/2026) ini ISPU di Kabupaten Merangin menjadi 184, termasuk kategori udara yang tidak sehat," ungkapnya.
Syafrani menyebut kabut asap yang menyelimuti Merangin tidak seluruhnya berasal dari wilayah kabupaten tersebut.
Menurutnya, beberapa titik panas memang terdeteksi oleh satelit BMKG di Merangin, tetapi kabut asap juga dapat berasal dari daerah lain, termasuk kabupaten atau provinsi tetangga.
"Kabut asap ini berasal dari karhutla. Kita memang di Merangin ada beberapa titik panas yang terdeteksi oleh satelit BMKG, namun sebagian besar kabut asap ini berasal dari kabupaten atau provinsi tetangga," jelasnya.
Ia mengatakan kondisi kabut asap sangat dipengaruhi arah angin.
Jika angin bergerak menuju Merangin, wilayah tersebut akan terdampak asap dari kebakaran yang terjadi di daerah lain.
"Kondisi kabut asap ini berubah-ubah tergantung arah angin," ujarnya.
Syafrani mengungkapkan, kabut asap mulai dirasakan masyarakat Merangin sejak sekitar sepekan terakhir.
Ia menyebut kondisi geografis Merangin yang tidak memiliki wilayah gambut menjadi salah satu alasan pihaknya menduga sumber asap berasal dari daerah lain.
"Dapat saya jelaskan Kabupaten Merangin ini tidak ada wilayah gambut. Wilayah gambut dari kabupaten tetangga yang terbakar ini menurut saya sebagai penyumbang terbesar terjadinya kabut asap di wilayah Merangin," katanya.
DLH Siapkan Imbauan ke Sekolah
Seiring meningkatnya angka ISPU, DLH Merangin berencana menyurati Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merangin.
Surat tersebut berisi saran agar sekolah tingkat TK dan SD mempertimbangkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar secara daring dari rumah jika kualitas udara terus memburuk.
"Karena anak-anak seusia TK dan SD ini sangat rentan terkena penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang diakibatkan oleh kabut asap," jelas Syafrani.
Selain itu, DLH mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kabut asap masih menyelimuti wilayah Merangin.
Masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan diminta menggunakan masker sebagai langkah perlindungan dari paparan asap.
Syafrani juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan secara sembarangan selama musim kemarau.
"Jangan membakar hutan dan lahan sembarangan karena dapat menyebabkan munculnya kabut asap di wilayah Kabupaten Merangin," pungkasnya. (TribunJambi.com/Frengky Widarta)
Baca juga: Breaking News Kebakaran di Talang Bakung Jambi, Gudang Kopra Terbakar
Baca juga: Peringatan Dini Cuaca Jambi Sore Ini untuk Kerinci Merangin Sungai Penuh, Hujan Lebat Angin Kencang