Sehelai Benang Tenun dari Tarakan, Perjalanan Yohanes Jaga Warisan Kaltara hingga Tembus Mancanegara
Cornel Dimas Satrio August 26, 2026 09:35 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Benang putih terbentang dalam rajutan tangan kreatif pria paruh baya asal Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara). Sepintas, bentangan benang itu tampak biasa saja, seolah tak bermakna. Namun jika disimak lebih dekat, tersimpan suatu cerita tentang ketelitian dan makna mendalam. Deretan motif yang dihitung penuh presisi, serta warna-warna alam yang diracik berulang kali hingga meresap sempurna, adalah sebuah mahakarya berjiwa dari Yohanes Suyanto (53).

Rumah di Gang Timur, Kelurahan Kampung Satu Skip, Kota Tarakan, Kaltara inilah mimpi Yohanes dimulai. Dibantu belasan penenun yang setia mendampingi, ia menemani denting alat tenun saban hari, merwat agar helai-helai Tenun Pakis khas Kalimantan Utara tak padam ditelan zaman. Rumah tersebut kini menjadi Rumah Produksi Tenun Pakis Kaltara. Nama Pakis sendiri bukan sekadar nama usaha.

Motif pakis merupakan salah satu motif yang dikembangkan Yohanes dari kekayaan budaya dan alam Kaltara. Selain pakis, ada motif tameng, tadu galung, belah ketupat, tabur bintang, burung enggang hingga motif Borneo. Setiap motif tidak dibuat begitu saja.

Sebelum diwujudkan menjadi kain, Yohanes terlebih dahulu membuat desain dan memikirkan filosofi yang ingin dibawa. Menurutnya, sebuah motif harus memiliki gagasan. Setelah filosofi ditemukan, barulah motif dituangkan dalam rancangan kain.

"Jadi sebelum kita membuat suatu motif, kita harus mempunyai gagasan untuk membentuk motif dan filosofi," kata Yohanes membuka cerita saat diwawancarai TribunKaltara.com di kediamannya pada Sabtu (22/8/2026).

26082026 karya Rumah Produksi Tenun Pakis Kaltara 01
TENUN PAKIS- Aktivitas proses pembuatan kain tenun di Rumah Produksi Tenun Pakis Kaltara milik Yohanes Suyanto, berlamat di Jalan Sesanip, Gang Timur, Kelurahan Kampung Satu Skip, Kota Tarakan, Kaltara, Sabtu (22/8/2026).

Baca juga: Kementerian UMKM Ingin Produk Kaltara Masuk ke Ritel Modern, Gubernur Diminta Terbitkan Regulasi

Rumah Produksi Tenun Pakis Kaltara secara resmi mulai berkembang pada 2018. Awalnya, Yohanes tidak membayangkan usaha tersebut akan berkembang hingga pasar luar negeri. Tenun dibuat untuk kebutuhan keluarga.

Ketika itu Yohanes masih bekerja di salah satu perusahaan di Tarakan. Ia kemudian kerap menggunakan pakaian berbahan tenun. Teman-teman kerjanya melihat kain tersebut dan mulai tertarik. Ketertarikan itu bahkan datang dari teman yang berasal dari Malaysia. Dari sanalah muncul pemikiran untuk mengembangkan tenun menjadi sebuah usaha.

Yohanes kemudian membentuk kelompok produksi. Pada awalnya, sekitar 20 orang terlibat dan bekerja pada sore hari, mulai pukul 13.00 hingga 17.00 WITA. Namun pandemi Covid-19 kemudian mengubah semuanya.

Jumlah pekerja berkurang dan sebagian aktivitas produksi harus dilakukan dari rumah masing-masing. Yohanes mengambil alih sejumlah tahapan awal produksi, kemudian bahan yang sudah siap diberikan kepada para penenun.

Dari kondisi tersebut, ia justru semakin memahami tentang ketelitian dan kesabaran dalam merajut tenun. Tak ada jalan pintas untuk mempercepat proses. Satu kesalahan pada susunan benang dapat mengubah motif yang sudah dirancang.

Manfaatkan Ulat Sutera Lokal

Proses pembuatan dimulai dari bahan paling dasar, yakni benang. Benang katun yang digunakan Rumah Produksi Tenun Pakis Kaltara sebagian didatangkan dari Surabaya. Namun Yohanes juga memanfaatkan bahan lokal.

Di Nunukan, terdapat kelompok budidaya ulat sutera binaan Dinas Kehutanan Provinsi Kaltara yang sudah mampu menghasilkan benang dari ulat sutera. Benang yang datang kemudian masuk ke tahap pertama, yakni penggulungan.

Benang yang masih dalam bentuk gulungan besar harus diolah agar siap masuk ke proses berikutnya. Setelah itu, benang dibentangkan pada bingkai.

Pada tahap inilah ketelitian mulai benar-benar diuji. Benang dibentangkan dengan panjang dan lebar sesuai ukuran kain. Satu per satu helai benang disusun, jaraknya pun harus diperhatikan.

Kemudian motif mulai dibuat menggunakan tali rafia yang diikat sedemikian rupa, menyerupai proses menganyam. Kesalahan pada tahap ini dapat membuat motif tidak sesuai dengan desain.

Karena itu, pekerja harus benar-benar fokus. Ratusan helai benang yang tersusun itulah yang nantinya membentuk gambar atau pola pada kain.

26082026 karya Rumah Produksi Tenun Pakis Kaltara 03
RUMAH PRODUKSI - Yohanes Suyanto, pemilik Rumah Produksi Tenun Pakis Kaltara yang berlamat di Jalan Sesanip, Gang Timur, Kelurahan Kampung Satu Skip, Kota Tarakan, Kaltara, Sabtu (22/8/2026).

Angkat Identitas Kaltara

Yohanes tidak ingin tenun yang diproduksinya kehilangan identitas daerah. Motif khas Kaltara menjadi salah satu kekuatan yang terus dikembangkan.

Ada pakis yang terinspirasi dari tumbuhan pakis. Lalu tameng, burung enggangm hingga belah ketupat. Adapula tadu galung dan tabur bintang. Motif tersebut pada awalnya dibuat secara dominan dalam satu kain. Namun seiring perkembangan pasar, Yohanes mulai menggabungkan beberapa motif.

Begitu pula dengan warna. Jika dahulu satu kain cenderung menggunakan satu warna, kini satu lembar kain bisa memiliki beberapa warna. Bahkan bisa mencapai lima warna dalam satu kain. Pengembangan itu dilakukan agar produk tidak monoton.

"Kami mulai berkolaborasi untuk menggugah para peminat, para konsumen, agar tidak monoton. Akhirnya kita mulai berkolaborasi," ujarnya.

Setelah motif selesai, benang masuk ke tahap pewarnaan. Di sinilah salah satu keunikan Rumah Produksi Tenun Pakis Kaltara terlihat. Yohanes memilih menggunakan bahan-bahan alami. Kulit kayu, akar, kulit buah, buah-buahan hingga daun dimanfaatkan untuk menghasilkan warna.

Teknik pengolahannya pun tidak sama. Setiap warna membutuhkan perlakuan berbeda. Biru dan hijau, misalnya, diperoleh dari dedaunan ndan diproses melalui fermentasi. Warna kuning dapat diperoleh dari kulit aneka buah-buahan. Namun umum digunakan adalah warna kuning dan oranye pada kunyit. Warna merah bata bisa berasal dari kulit pohon. Sementara ungu dapat diperoleh dari buah naga maupun ubi ungu.

Sedangkan untuk warna hitam, Yohanes bahkan melakukan berbagai percobaan hingga menemukan formulasi yang sesuai. Pada proses pewarnaannya, ada rahasia dapur yang tak bisa disebutkan. 

Namun dari proses pewarnaan tidak cukup dilakukan sekali. Benang dapat direndam berkali-kali hingga mendapatkan warna yang diinginkan. Dalam satu proses, pewarnaan bisa dilakukan tiga hingga 10 kali.

Benang direndam dalam air yang sudah diberi warna, kemudian dianginkan hingga lembap sebelum kembali direndam. Proses tersebut terus dilakukan untuk mendapatkan warna yang dianggap paling sesuai.

Setelah warna diperoleh, benang kemudian dikeringkan. Barulah motif yang sebelumnya tertutup dibuka. Tahap tersebut kembali membutuhkan ketelitian karena bentuk motif mulai terlihat setelah ikatan dibuka.

Setelah motif dibuka, benang kembali dibentangkan. Kali ini bukan lagi untuk membuat motif, melainkan menyusun kembali posisi benang sebelum masuk ke proses penenunan. Pada tahap tersebut dibuat pula benang sisipan.

Benang bermotif disusun bersama benang yang tidak memiliki motif sehingga menghasilkan pola keseluruhan kain. Setelah semuanya siap, barulah benang masuk ke alat tenun. Tahap penenunan menjadi salah satu proses paling lama.

Untuk satu lembar kain, penenunan saja dapat memakan waktu sekitar tujuh hari. Namun jika dihitung sejak tahap awal hingga kain selesai, keseluruhan proses bisa mencapai satu bulan.

Untuk kain berukuran sekitar 3 meter dengan lebar 80 sentimeter, waktu tersebut merupakan bagian dari harga yang harus dibayar untuk sebuah karya yang dikerjakan secara manual.

"Yang paling lama itu pada umumnya penenunan, itu tujuh hari. Sedangkan yang lain itu bisa memakan waktu lima hari, tiga hari, dua hari. Kalau semuanya sekaligus, untuk satu kain itu satu bulan," jelas Yohanes.

Bahkan dalam proses produksinya, satu rancangan motif dapat disiapkan untuk lima lembar kain sekaligus.

Tahapan awal dikerjakan bersama untuk lima kain. Barulah pada tahap akhir proses penenunan dilakukan satu per satu. Dengan cara tersebut, produksi bisa lebih efisien tanpa menghilangkan ketelitian.

Modifikasi Alat Sendiri

Tidak hanya motif dan warna yang dikembangkan. Yohanes juga membuat serta memodifikasi alat produksi sendiri.

Beberapa alat yang digunakan di rumah produksi dibuat berdasarkan gambar dan sketsa yang dirancangnya.

Ia terlebih dahulu menggambar bentuk yang diinginkan, kemudian membawanya kepada pengrajin mebel. Bahkan pengrajin sempat kebingungan karena bentuk alat yang diminta berbeda.

Namun Yohanes mengawal proses pembuatannya hingga alat tersebut dapat digunakan.

"Saya membuat gambar dulu, baru saya ke mebel. Para mebel pun mereka bingung untuk membuat ini. Jadi saya mengawal kegiatan tersebut," ucapnya.

Saat ini terdapat sekitar lima alat penenunan yang digunakan secara aktif, sementara perlengkapan lainnya disiapkan untuk pekerja yang melakukan proses penenunan dari rumah.

Keterbatasan tempat menjadi salah satu alasan sebagian pekerja membawa pekerjaan ke rumah.
Meski demikian, mereka tetap menjadi bagian dari Rumah Produksi Tenun Pakis Kaltara.

"Rumah tenun di sini halamannya kecil tidak luas, jadi sebagian produksi di rumah sendiri," urainya.

Harga Bersaing

Dengan proses sepanjang itu, harga kain tenun menjadi relatif tinggi. Untuk kain berbahan pewarna alam, harga tertinggi bisa mencapai sekitar Rp2 juta per lembar. Modal untuk menghasilkan satu lembar kain sendiri bisa mencapai sekitar Rp1,5 juta. Biaya tersebut mencakup benang, tenaga penggulungan, pembentangan, pembuatan motif, pewarnaan, pembukaan motif, penyusunan kembali hingga penenunan.

Artinya, harga kain bukan sekadar membayar selembar bahan. Di dalamnya ada waktu, tenaga dan keterampilan, yang tentu saja berupa pengetahuan yang diperoleh melalui proses panjang.

Rumah Produksi Tenun Pakis Kaltara juga mengembangkan kain menjadi produk lain seperti tas, pakaian, pouch, bantal, figura dan berbagai aksesori. Untuk tas hasil kolaborasi, misalnya, harganya dapat mencapai sekitar Rp800 ribu hingga Rp900 ribu.

Tembus Pasar Mancanegara

Perjalanan panjang tersebut perlahan membawa nama Tenun Pakis Kaltara keluar dari Tarakan. 
Produknya telah menjangkau pasar ASEAN, termasuk Malaysia dan Thailand. Produk juga telah sampai ke Amerika.

Di tingkat nasional, Yohanes pernah mengikuti ajang Spotlight di Jakarta dan sejumlah kegiatan promosi produk UMKM.

Ia juga beberapa kali menjadi narasumber terkait tenun dan memberikan pelatihan di berbagai wilayah.

"Kami juga mengikuti Karya Kreatif Benuanta (KKB) yang digelar di Tanjung Selor, sebagian yang mau dipamerkan sudah dikirim ke sana," akunya.

Di Kaltara, selain ajang seperti KKB, pelatihan telah dilakukan di sejumlah daerah seperti Malinau dan Nunukan. Ia bahkan pernah menjadi narasumber hingga ke Rote, Nusa Tenggara Timur. Baginya, berbagi ilmu sama pentingnya dengan menjual produk.

Sebab semakin banyak orang yang mampu menenun, semakin besar pula peluang warisan tersebut bertahan. Namun perjuangan UMKM tersebut saat ini menghadapi tantangan baru.

Terbantu Dukungan Bank Indonesia

Yohanes mengaku penjualan tahun ini mengalami penurunan cukup terasa. Efisiensi yang terjadi membuat daya beli dan pesanan ikut berkurang. Penurunan penjualan diperkirakan mencapai sekitar 50 persen dibandingkan kondisi sebelumnya.

Pesanan yang biasanya mencapai sekitar 10 lembar dalam satu kegiatan, kini bisa turun menjadi lima lembar. Dalam kondisi seperti itu, dukungan pemerintah dan Bank Indonesia menjadi salah satu hal yang sangat berarti bagi keberlangsungan usaha.

Rumah Produksi Tenun Pakis Kaltara juga mendapat pendampingan dan menjadi bagian dari binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltara.

Dukungan tersebut membuka kesempatan bagi produk tenun untuk mengikuti berbagai kegiatan promosi dan memperluas jaringan pasar.

Salah satu bentuk dukungan yang dirasakan Yohanes adalah ketika produk tenunnya dibawa dalam ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) gelaran Bank Indonesia yang berlangsung di Jakarta kemarin.

Bagi Yohanes, kesempatan seperti itu penting karena UMKM tidak selalu memiliki kemampuan untuk membuka akses pasar sendiri.

Baginya, ketika produk lokal dibawa ke ruang promosi yang lebih luas, ada peluang bertemu konsumen baru, pelaku usaha lain hingga calon pembeli dari luar daerah. Selain itu juga rumah produksinya mendapatkan bantuan alat pendukung produksi tenun.

Selain BI, dukungan juga datang dari Pemerintah Kota Tarakan, Pemerintah Provinsi Kaltara serta pemerintah pusat.

Pemkot Tarakan pernah memberikan bantuan berupa mesin jahit dan mesin obras. Pemprov Kaltara memberikan dukungan berupa etalase dan pelatihan. Sementara Kementerian Perdagangan dan Perindustrian juga memberikan pendampingan.

"Peran serta pemerintah luar biasa. Satu kesatuan tak bisa dipisahkan dari Pemkot, Pemprov dan pemerintah pusat," kata Yohanes.

Ia berharap dukungan terhadap UMKM seperti tenun dapat terus berlanjut, terutama ketika kondisi pasar sedang mengalami penurunan.

Menurutnya, UMKM tidak hanya membutuhkan tempat untuk menjual produk. Mereka juga membutuhkan pendampingan, akses promosi, pelatihan, serta kesempatan bertemu pasar yang lebih luas.

Di balik semua perjalanan itu, Yohanes masih menyimpan satu keinginan besar, memiliki rumah produksi sendiri.

Langkah kaki Yohanes kini terhenti di sudut rumah saudaranya, tempat yang selama ini menjadi suaka sementara bagi jemari-jemari penenun merajut asa. Di balik kesederhanaan dinding yang ia tumpangi, tersembunyi sebuah harapan besar untuk mewujudkan mimpinya.

Bukan lagi sekadar menganyam benang, Yohanes memimpikan sebuah rumah kebudayaan yang riuh dengan 50 pasang tangan pekerja baru.

"Kami belum memiliki rumah produksi yang paten. Seandainya sudah ada, pasti kami rekrut tenaga kerja lebih banyak. Target saya kalau bisa sampai 50 karyawan," tutur Yohanes.

Bagi Yohanes, angka 50 bukan sebatas kalkulasi bisnis atau deretan ratusan lembar kain yang siap dipasarkan.

Di dalam targetnya, ia ingin membuka pintu rezeki kepada sesama, mewariskan keterampilan leluhur, dan merawat kekhasan budaya Kaltara. Sebab baginya, selembar tenun adalah helaianh identitas yang berbisik tentang sejarah.

Di penghujung perbincangan, senyum hangat terkembang dari wajahnya. Nada bicaranya bergelombang penuh rasa syukur, mengiringi bait-bait terima kasih bagi tangan-tangan yang telah sudi menopang langkah kecilnya selama ini.

"Terima kasih kepada KPwBI Kaltara, terima kasih kepada Disperindagkop dan Dekranasda Kaltara yang sudah mensupport baik pikiran, tenaga, biaya, serta pelatihan-pelatihan selama ini... mendukung kami agar produk kami dikenal dan dipakai, baik di tingkat nasional maupun internasional," tutup Yohanes, menyisakan gema optimisme bahwa benang-benang rindu dari Tarakan kelak akan terus menenun cerita hingga ke penjuru dunia.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.