Penanganan Stroke Santosa Hospital Bandung Central Raih Angels Award Diamond
Siti Fatimah August 26, 2026 10:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Santosa Hospital Bandung Central meraih status Diamond dalam Angels Award dari World Stroke Organization (WSO). 

Penghargaan tersebut menjadi apresiasi atas kinerja rumah sakit dalam menangani pasien stroke, terutama dari sisi kecepatan, ketepatan diagnosis, hingga tata laksana pasien.

Direktur Utama Santosa Hospital Bandung Central, dr. Luke Lompoliu, MM, mengatakan status Diamond merupakan tingkatan tertinggi dalam Angels Award.

Hal tersebut sejalan dengan komitmen Santosa Hospital Bandung Central dalam service excellent guna memberikan pelayanan terbaik kepada pasien. 

“Kami memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni, teknologi yang canggih juga dan komitmen dari Santosa sendiri. Kami melayani pasien BPJS untuk layanan neurologi ini dan tidak membeda-bedakan,” kata dr. Luke, kepada Tribun Jabar di Santosa Hospital Bandung Central, Rabu (26/8/2026). 

dr. Luke menjelaskan dalam penanganan stroke, Santosa Hospital Bandung Central menetapkan alur pelayanan dengan target waktu yang ketat. 

"Salah satunya adalah door to needle time, yakni waktu sejak pasien tiba di IGD hingga pemberian terapi trombolisis, yang ditargetkan tidak lebih dari 45 menit," imbuhnya. 

Adapun untuk pasien yang membutuhkan mechanical thrombectomy, waktu sejak pasien datang hingga tindakan di area pembuluh darah atau door to groin time ditargetkan kurang dari 120 menit.

“Ketika pasien datang ke IGD, anamnesisnya sudah betul, pemeriksaannya pun berjalan seiring dengan administrasi sehingga selesainya itu kurang dari 45 menit,” ujar dr. Luke.

Kecepatan tersebut ditunjang oleh tim stroke yang disiapkan secara khusus.

Data penanganan pasien juga dicatat secara rinci sebagai bagian dari evaluasi kinerja layanan.

Dari sisi teknologi, Santosa Hospital Bandung Central juga memiliki CT Scan 128 slice dan MRI 3 Tesla.

dr. Luke mengatakan MRI 3 Tesla yang baru tersedia memungkinkan pemeriksaan dilakukan lebih cepat dan memberikan hasil yang lebih jelas dibandingkan MRI 1,5 Tesla.

“Pemeriksaan yang tadinya biasanya dilakukan dalam waktu 20 menit, dengan mesin yang baru ini insyaallah bisa selesai dalam waktu 10 menit,” katanya.

dr. Luke berharap penghargaan Diamond tersebut tidak hanya menjadi pencapaian sesaat, tetapi dapat dipertahankan pada penilaian berikutnya.

“Prestasi ini tetap akan kami jaga karena memang kami komitmen dalam pelayanannya. Mudah-mudahan di kuartal nanti peringkatnya tidak akan turun,” ujarnya.

Penghargaan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penanganan stroke tidak bisa menunggu. 

Dokter spesialis saraf konsultan intervensi Santosa Hospital Bandung Central, dr. Condrad MP Pasaribu, Sp.N (K), FINS, mengatakan masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa stroke dapat ditangani apabila pasien segera dibawa ke rumah sakit.

“Target kita tetap harus melakukan edukasi kepada masyarakat bahwa stroke itu bisa diobati, bisa sembuh,” ujar dr. Condrad.

Menurut dia, rendahnya kesadaran masyarakat menjadi salah satu persoalan dalam penanganan stroke.

Gejala stroke tidak selalu muncul dalam kondisi berat. Sebagian pasien justru mengalami gejala ringan sehingga menganggap kondisinya tidak serius.

Akibatnya, pasien yang rumahnya dekat dengan rumah sakit pun terkadang baru datang pada hari kedua atau ketiga setelah gejala muncul.

Padahal, waktu menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan penanganan stroke.

“Paling banyak itu adalah stroke ringan. Sehingga mereka tidak aware, tidak waspada, diacuhkan. Begitu keadaannya berat, baru buru-buru datang. Padahal pada saat buru-buru datang itu window period-nya sudah lewat,” katanya.

dr. Condrad menjelaskan, dalam penanganan stroke sumbatan, terdapat batas waktu untuk memberikan terapi tertentu. 

"Trombolisis intravena harus dilakukan dalam jangka waktu 4,5 jam dan bukan sekadar baru dimulai dalam rentang waktu tersebut," ucapnya. 

Sementara untuk tindakan mechanical thrombectomy atau pengambilan sumbatan pembuluh darah, secara klinis tindakan masih dapat dilakukan hingga sekitar 24 jam pada kondisi tertentu. 

dr. Condrad menjelaskan, semakin cepat terapi diberikan, semakin besar peluang pasien mendapatkan hasil yang baik.

Ia mengatakan jumlah pasien stroke yang ditangani Santosa Hospital Bandung Central juga cukup tinggi. 

"Di bagian neurologi, terdapat lima dokter yang bertugas dari pagi hingga sore. Rata-rata setiap dokter menangani sekitar 10 hingga 15 pasien stroke, termasuk pasien kontrol, pasien di IGD, maupun pasien rawat inap," katanya. 

Jumlah tersebut dinilai berpotensi terus meningkat karena faktor risiko stroke juga semakin banyak ditemukan di masyarakat, seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi dan gangguan jantung.

Oleh karena itu, pasien yang mengalami gejala stroke dapat memeriksakan diri ke poli saraf Santosa Hospital Bandung Central.
 
"Bagi peserta BPJS, pasien dapat menggunakan layanan tersebut melalui mekanisme rujukan sesuai ketentuan yang berlaku," katanya. 

Dalam kesempatan yang sama, Perwakilan Angels, Jidin Abdullah mengatakan Angels Initiative memang berfokus pada pengembangan rumah sakit yang siap menangani stroke atau stroke ready hospital.

"Penilaian dilakukan setiap kuartal untuk melihat kinerja rumah sakit dalam manajemen stroke akut, baik stroke akibat sumbatan maupun perdarahan," imbuhnya. 

Jidin menjelaskan, untuk mendapatkan status Diamond, terdapat sejumlah indikator yang harus dipenuhi. 

"Salah satunya adalah angka rekanalisasi, yakni perbandingan jumlah pasien yang mendapatkan trombolisis atau mechanical thrombectomy dengan seluruh pasien stroke iskemik akut," jelasnya. 

Dikatakannya, untuk status Diamond, angka rekanalisasi harus lebih dari 25 persen.

Sementara Platinum di atas 15 persen dan Gold di atas 5 persen.

Penilaian juga mencakup pemberian antikoagulan bagi pasien stroke dengan atrial fibrilasi, pemberian antithrombotic bagi pasien stroke iskemik akut, skrining kemampuan menelan atau disfagia, serta perawatan pasien di stroke unit atau ICU.

Ia mengatakan di Indonesia saat ini terdapat sekitar 24 rumah sakit yang telah mendapatkan status Diamond. 

Jidin berharap Santosa Hospital Bandung Central dapat mempertahankan status Diamond pada penilaian kuartal berikutnya.

Sebab, status tersebut dapat berubah menjadi Platinum atau Gold apabila ada indikator yang tidak lagi memenuhi kriteria Diamond. 

Dia menambahkan, penghargaan tersebut bukan hanya bentuk apresiasi terhadap rumah sakit, tetapi juga bagian dari upaya mendorong peningkatan kesadaran masyarakat mengenai stroke

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.