POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Dari banyaknya busana warna-warni dan miniatur yang tampil dalam Karnaval Damar Berkreasi, sebuah bangunan panggung setinggi tiga meter tampil begitu menyedot perhatian warga sepanjang rute parade pada Rabu (26/8/2026).
Bangunan tersebut tampak unik dan amat mencolok lantaran tampilannya yang sepenuhnya natural tanpa sentuhan cat warna sedikit pun.
Seluruh strukturnya tersusun rapat dari pilinan kayu-kayu yang kokoh, beratap kulit kayu, hingga memancarkan nuansa kehidupan pedalaman masa lampau.
Di bangunan kayu setinggi tiga meter tersebut, tampak seorang pria paruh baya mengenakan pakaian adat khas Melayu lengkap.
Sepanjang rute, pria tua itu selalu tersenyum sembari melambaikan tangan pada para penonton yang bersorak dari tepi jalan.
Ia adalah Harsidi (60), Tetua Adat Desa Mempaya yang turun langsung mewakili kontingen desanya.
Konstruksi yang berdiri di atas armada motor tiga roda tersebut mengusung visualisasi tradisi leluhur bernama Membarong.
"Kalau membarong itu sejarahnya tahun 60-an dulu kita tinggal di hutan, di ume (kebun/ladang). Jadi masyarakat kita berpindah-pindah tempat dan menanam padi ladang," ujar Harsidi kepada Posbelitung.co, Rabu (26/8/2026).
Harsidi menjelaskan bahwa demi menghadirkan miniatur membarong yang autentik, mereka sengaja tidak menggunakan bahan fabrikasi atau bahan modern lain.
Rangka bangunan dirakit mengandalkan kayu kiau yang merupakan kayu hutan berukuran kecil namun kuat, yang disusun secara presisi satu per satu.
Sementara pada bagian atap, mereka menggunakan bahan asli berupa kulit kayu gelam yang diambil langsung dari kawasan hutan setempat.
"Kalau rumah aslinya dulu, lantainya pakai kulit kayu belangeran, kalau kayunya pakai kayu betor. Nah yang kami buat untuk karnaval ini dasarnya dari kayu kiau dan atapnya kulit gelam asli, tidak ada yang dicat," jelasnya.
Adapun untuk pengerjaan miniatur membarong tersebut rupanya memakan energi serta waktu yang cukup panjang.
Harsidi mengungkapkan bahwa proses pengumpulan bahan kayu hingga proses perakitan membutuhkan waktu hampir dua minggu.
"Pengerjaannya memakan waktu kurang lebih 12 hari, dikerjakan bersama-sama secara gotong royong," ungkapnya.
Menariknya, kendaraan motor tiga roda yang menopang konstruksi berat tersebut sengaja dioperasikan tanpa menyalakan mesin.
Artinya, sepanjang rute karnaval yang menanjak dan berdebu, warga Desa Mempaya saling bergantian mendorong kendaraan hingga menyentuh garis finish.
Secara keseluruhan, kontingen Desa Mempaya menerjunkan sebanyak 43 warga desa yang tampil penuh semangat dari awal hingga akhir parade.
Kemudian yang tak kalah menarik, terdapat poster foto sosok legendaris bernama Kik Selan yang tertempel di sisi depan dan sisi belakang miniatur.
Saat ditanya, Harsidi menceritakan bahwa Kik Selan merupakan pahlawan lokal sekaligus tetua adat pertama yang memimpin pembukaan wilayah hulu Mempaya.
"Itu foto Kik Selan, datuk moyang kami sekaligus pendiri dan tetua adat pertama Kampung Mempaya. Beliau yang menebas hutan paya dan membuka lahan untuk dijadikan ume dan membarong tadi," ceritanya.
Dari cerita Kik Selan itulah lahir Desa Mempaya seperti yang dikenal hari ini.
Adapun kombinasi nilai sejarah, keaslian bahan, dan aksi warga Desa Mempaya membuahkan tepuk tangan dari para warga.
"Reaksi penonton luar biasa, lumayan heboh waktu kami lewat. Karena kelihatannya cuma kami yang tampil betul-betul natural memakai bahan kayu asli tanpa dicat," pungkasnya. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)