Setara Jarak Gedung Sate-Masjid Agung Sumedang, 42 KM Ditempuh Balita Gizi Buruk Ciamis ke RSUD
Muhamad Syarif Abdussalam August 26, 2026 10:46 PM

TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS - Di balik perjuangan Tedi Kurnia dalam merawat putranya yang mengidap gejala gizi buruk, Aef Heryadi, terdapat kisah keluarga yang hidup sederhana.

Tedi bersama istri dan dua anaknya tinggal di sebuah rumah panggung sederhana di Desa Kaso, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Tedi sehari-hari bekerja sebagai buruh atau kuli angkut kayu gelondongan dengan penghasilan harian.

Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk merawat Aef yang kini tengah menjalani pemeriksaan terkait kondisi berat badannya yang tak kunjung bertambah secara signifikan.

"Kalau cukup ya, dicukup-cukupin aja," kata Tedi saat ditemui di RSUD Ciamis, Rabu (26/8/2026).

Meski kondisi ekonominya terbatas, Tedi mengaku akan tetap berupaya membawa Aef menjalani pemeriksaan secara rutin. Baginya, kesehatan anak menjadi prioritas.

"Kalau demi anak, apa sih yang enggak dilakukan orang tua demi anak," ujarnya.

Hal yang harus diperhatikan untuk memastikan kesehatan Aef di antaranya adalah perawatan di pusat kesehatan. Perjalanan panjang dan melelahkan ke pusat kesehatan menjadi catatan penting.

Dari rumahnya di Dusun Mekarjaya, Aef harus menempuh perjalanan sejauh 5,2 kilometer ke Puskesmas Tambaksari atau sekitar 15 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Sedangkan untuk mencapai RSUD Ciamis dari rumahnya, Aef harus menempuh perjalanan 42 kilometer, atau sekitar 1 jam 15 menit menggunakan kendaraan bermotor.

Sebagai perbandingan, perjalanan untuk berobat tersebut hampir setara dengan perjalanan dari Gedung Sate di Kota Bandung ke Masjid Agung Sumedang yang berjarak 43 kilometer. 

PERIKSA - Balita yang mengalami gizi buruk di Ciamis, Jawa Barat, mengikuti pemeriksaan di RSUD Ciamis. Petugas Gizi Puskesmas Tambaksari, Reihan Amwaliyah, mengatakan sejak ditemukan mengalami gizi kurang, balita tersebut sudah mendapat sejumlah intervensi dan pemantauan gizi sejak 2025.
PERIKSA - Balita yang mengalami gizi buruk di Ciamis, Jawa Barat, mengikuti pemeriksaan di RSUD Ciamis. Petugas Gizi Puskesmas Tambaksari, Reihan Amwaliyah, mengatakan sejak ditemukan mengalami gizi kurang, balita tersebut sudah mendapat sejumlah intervensi dan pemantauan gizi sejak 2025. (Tribun Jabar/Ai Sani Nuraini)

Berdasarkan standar pertumbuhan World Health Organization (WHO), berat badan anak laki-laki usia 3 tahun berada pada kisaran sekitar 11,3 hingga 18,3 kilogram. 

Sementara itu, untuk anak perempuan usia yang sama berkisar antara 10,8 hingga 18,1 kilogram.

Dengan berat badan hanya 9 kilogram, berat badan Aef berada di bawah kisaran tersebut. 

Perjuangan Tedi membawa Aef mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut juga mendapat dukungan dari Puskesmas Tambaksari.

Untuk perjalanan dari Kecamatan Tambaksari menuju RSUD Ciamis, seluruh kebutuhan akomodasi ditanggung pihak Puskesmas.

Aef dibawa menggunakan ambulans Puskesmas menuju ke RSUD Ciamis hingga pulang kembali ke rumahnya.

Langkah tersebut dilakukan agar Aef bisa mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut tanpa keluarga harus terbebani persoalan biaya transportasi.

Sebelumnya, Tedi sempat mengalami kendala administrasi BPJS. Ia mengaku sejak lama ingin membawa Aef ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi kesehatan anaknya, tetapi proses administrasi BPJS membutuhkan waktu.

Kini Aef telah didaftarkan untuk mendapatkan BPJS yang akan aktif pada 1 September mendatang. Meski belum menggunakan BPJS, hari ini Aef menjalani pemeriksaan di RSUD Ciamis secara gratis yang diberikan oleh RSUD Ciamis.

Kepala Puskesmas Tambaksari, Asep Wahyudin, mengatakan pihaknya akan terus mengawal proses penanganan Aef.

Menurut Asep, pendampingan tidak berhenti pada pemeriksaan awal di RSUD Ciamis.

Puskesmas akan memantau perkembangan kondisi Aef dan memastikan pengobatan serta pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan.

Asep mengatakan pihaknya akan mengawal pengobatan Aef hingga kondisi kesehatannya stabil dan berat badannya dapat mencapai standar sesuai usianya.

"Pengobatannya akan kami kawal sampai kondisinya stabil dan berat badannya sesuai dengan standar usianya," kata Asep.

Sebelumnya, Aef juga telah mendapatkan intervensi gizi dari Puskesmas Tambaksari.

Menurut Asep, pihak puskesmas telah rutin memberikan makanan tambahan dan Aef juga rajin dibawa ke Posyandu untuk mengikuti pemantauan pertumbuhan.

Namun, meski sudah mendapatkan makanan tambahan, berat badan Aef disebut masih cenderung naik turun.

Tedi mengatakan Aef tetap makan seperti anak pada umumnya. Menu sehari-hari antara lain nasi, susu, singkong, dan pisang. Aef juga disebut tetap aktif dalam kesehariannya.

Di tengah kondisi tersebut, Tedi mengungkapkan keluarganya belum menerima bantuan sosial dari pemerintah.

Tedi tinggal satu rumah bersama orang tuanya. Dalam rumah tersebut terdapat dua kepala keluarga.

Orang tua Tedi yang sudah lanjut usia memang mendapatkan bantuan berupa beras.

Namun, bantuan tersebut diperuntukkan bagi orang tuanya, sedangkan keluarga Tedi yang menurut informasi masuk ke Desil 3 belum mendapatkan bantuan sosial.

"Kalau Ayah sih sudah, cuma saya enggak," ujarnya.

Tedi berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi keluarganya, terutama dalam mendukung pemenuhan kebutuhan Aef selama menjalani pemeriksaan dan pemulihan.

Ia juga mengapresiasi bantuan Puskesmas dan RSUD Ciamis yang telah memberikan pelayanan kepada anaknya.

"Untuk Puskesmas dan RSUD, saya berterima kasih banget. Sekarang biaya pemeriksaan saat ini gratis," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.