Sebelum Dirujuk ke RSUD, Puskesmas Tambaksari Beri Makanan Bergizi untuk Aef yang Diduga Gizi Buruk
Dedy Herdiana August 26, 2026 11:35 PM

 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS - Penanganan terhadap Aef Heryadi, balita asal Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, yang mengalami masalah gizi buruk terus dilakukan secara bertahap. 

Selain menjalani pemeriksaan kesehatan, Aef juga mendapatkan dukungan asupan nutrisi berupa makanan tambahan dan susu untuk membantu meningkatkan berat badannya sejak ia dinyatakan gizi kurang pada tahun 2025.

Petugas Gizi Puskesmas Tambaksari, Reihan Amwaliyah, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap kondisi Aef, termasuk memberikan makanan tambahan (PMT) lokal yang disesuaikan dengan kebutuhan gizi balita usia 12-59 bulan.

“Untuk makanan tambahannya kita berikan PMT lokal. Menunya dibuat beragam dan mengandung sumber energi serta protein yang dibutuhkan anak,” ujar Reihan, Rabu (26/8/2026).

Baca juga: Kisah Perjuangan Tedi Rawat Anak Balita yang Diduga Gizi Buruk di Ciamis

Berdasarkan siklus menu PMT lokal yang diberikan, makanan tersebut antara lain siomay ayam dengan jeruk manis, bola-bola ubi isi keju dengan telur puyuh rebus, roti goreng isi ragout dengan anggur, barongko pisang roti dengan telur puyuh, kroket isi daging sapi dengan pisang, pempek ikan lele dengan jeruk manis, serta nasi dengan garang asem ayam dan jeruk manis.

Selain PMT lokal dari Puskesmas, Aef juga mendapatkan bantuan susu dari pemerintah desa. Susu yang diberikan berupa SGM sebagai tambahan asupan nutrisi bagi Aef.

“Selain PMT lokal, ada juga bantuan susu dari desa, yaitu SGM. Jadi asupan Aef terus kita upayakan agar kebutuhan gizinya bisa terpenuhi,” kata Reihan.

Penanganan Aef kemudian berlanjut dengan pemeriksaan di RSUD Ciamis. Setelah menjalani pemeriksaan, Aef mendapatkan susu PKMK (Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus) berupa SGM Optigrow.

Pemberian susu PKMK tersebut menjadi bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan nutrisi Aef, terutama karena berat badannya membutuhkan perhatian dan pemantauan lebih lanjut.

Reihan menambahkan, pemberian makanan tambahan dan susu harus dibarengi dengan pemantauan perkembangan anak secara berkala. 

Puskesmas akan terus memantau berat badan dan kondisi kesehatan Aef untuk melihat perkembangan setelah mendapatkan intervensi gizi.

“Yang paling penting kita pantau terus perkembangannya, terutama berat badan dan kondisi kesehatannya. Intervensinya tidak hanya dari satu sisi, tetapi juga melalui makanan tambahan, susu dan pemeriksaan kesehatan,” ujarnya.

Sementara itu, setelah pemeriksaan di RSUD Ciamis, penanganan Aef akan terus dikoordinasikan dengan Puskesmas Tambaksari. 

Upaya tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan berat badan Aef secara bertahap hingga mencapai kondisi pertumbuhan yang sesuai dengan usianya.

Puskesmas Tambaksari juga memastikan pemantauan terhadap Aef tidak berhenti setelah pemeriksaan di rumah sakit. 

Intervensi gizi akan terus dilakukan dengan melibatkan keluarga dan pemerintah desa agar kebutuhan nutrisi Aef dapat terpenuhi secara berkelanjutan.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.