Tolak Alat Politik Praktis! Gus Kikin Maju Caketum PBNU Bawa Visi Kemanusiaan dan Hati Nurani
Budi Sam Law Malau August 27, 2026 12:21 AM

WARTAKOTALIVE.COM, JOMBANG – Menjelang suksesi kepemimpinan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), arah jarum jam pergerakan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini kembali diuji.

Di tengah godaan kekuasaan dan pusaran kepentingan pragmatis, Calon Ketua Umum PBNU, KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin, hadir menawarkan sebuah oase pemikiran: mengembalikan NU pada fondasi adab, persaudaraan, dan nilai kemanusiaan yang murni.

Bagi Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ini, kursi kepemimpinan bukanlah piala yang harus direbut dengan syahwat kekuasaan.

Pencalonannya sebagai nakhoda baru PBNU lahir dari dorongan moral dan amanah organisasi, sebuah panggilan pengabdian yang jauh dari motif ambisi pribadi.

"Jabatan itu amanah. Tidak boleh terlalu ambisi terhadap jabatan," tegas Gus Kikin, mencerminkan ketenangan dan kedalaman spiritual seorang kiai, Rabu (26/8/2026).

Baca juga: Lima Hari Menjelang Muktamar PBNU Ke-35, Gus Salam Optimis Raih 60 Persen Pemilik Suara

Menjaga Jarak dari Pusaran Politik Praktis

Lebih dari sekadar pergantian pengurus, tantangan terbesar NU hari ini adalah menjaga marwahnya di tengah polarisasi politik.

Gus Kikin menyadari betul bahwa magnet NU selalu menarik bagi para petualang politik.

Namun, ia mengingatkan agar organisasi ini tetap teguh berpijak pada Qanun Asasi—pedoman luhur yang menempatkan kemanusiaan (humanitarian) di atas segalanya.

Bagi Gus Kikin, ruang ganti NU bukanlah panggung kampanye politik praktis.

Sebagai pilar civil society (masyarakat sipil) yang kuat, NU memang tidak akan pernah bisa lepas sepenuhnya dari urusan negara, namun arah kompasnya harus jelas.

"NU tidak bisa lepas dari politik, namun agendanya adalah politik kebangsaan dan kemanusiaan. Hal itu harus melampaui segala kepentingan praktis," ujar Gus Kikin.

Sebuah penegasan lugas yang seolah menjadi perisai pelindung bagi warga nahdliyin dari eksploitasi politik jangka pendek.

Membangun NU yang "Punya Hati"

Menghadapi tantangan global lima tahun ke depan, Gus Kikin memproyeksikan NU bukan sekadar raksasa secara kelembagaan dan intelektual, melainkan sebagai sebuah "rumah besar" yang hangat dan mengayomi.

Pembangunan manusia di tubuh NU, menurutnya, tidak boleh hanya berfokus pada kecerdasan rasional.

Aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik harus berjalan beriringan.

Di era di mana disrupsi sosial dan krisis moral mengintai, resiliensi umat sangat bergantung pada kekuatan mental dan kepekaan sosial.

"NU harus mempunyai hati. Kita harus memperkuat dan mengasah hati kita," tuturnya dengan nada naratif yang menggugah emosi.

Generasi Pembelajar dalam Bingkai Adab

Visi besar lainnya yang dibawa Gus Kikin adalah mencetak generasi muta'allim, sebuah generasi pembelajar abadi yang siap berhadapan dengan ganasnya kompetisi global.

Namun, ia memberikan sebuah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar: kecerdasan dan profesionalisme tersebut tidak akan berarti apa-apa tanpa etika.

"Kita harus mempunyai intelegensia, tetapi intelektual itu harus dibungkus dengan adab," tutup Gus Kikin.

Melalui gagasan ini, Gus Kikin seolah sedang mengetuk pintu kesadaran seluruh warga nahdliyin.

Ia menempatkan adab sebagai fondasi, ilmu sebagai senjata, persaudaraan sebagai perekat, dan politik kebangsaan sebagai ruang pengabdian tertinggi bagi Indonesia.

Visi politik kebangsaan murni ini menurutnya akan membentengi Nahdlatul Ulama dari godaan manuver politik praktis di masa depan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.