Jelang Muktamar Ke-35 Besok, NU Diingatkan Tak Tergoda Pragmatisme Politik
Dewi Agustina August 27, 2026 12:23 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua DPD PDI Perjuangan (PDIP) Jawa Timur, Said Abdullah, mengingatkan Nahdlatul Ulama (NU) agar tidak tergoda dalam hingar-bingar politik dan menghindari suksesi kepemimpinan yang berwatak pragmatis-transaksional menjelang Muktamar ke-35.

Muktamar ke-35 NU rencananya akan diselenggarakan pada Kamis (27/8/2026) hingga Senin (31/8/2026) mendatang di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur.

Baca juga: Idrus Marham: Muktamar ke-35 NU Harus Jadi Momentum Persatuan dan Kebangkitan

Said menekankan, NU memiliki modal sosial yang sangat besar sebagai kekuatan moral dan kultural yang harus terus dijaga keramatnya. 

"Oleh sebab itu, jangan sampai NU tergoda dalam hingar bingar politik. Termasuk jangan pula membawa suksesi kepemimpinan NU seperti layaknya suksesi pemimpin politik yang berwatak pragmatis-transaksional," kata Said kepada wartawan, Rabu (26/8/2026).

 

 

Menurut Said, usia NU yang sudah lebih dari satu abad bisa bertahan dan membesar karena ditopang oleh peran para kiai dan komunitas pesantren sebagai kekuatan subkultur. 

Di ruang budaya inilah, kata dia, nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, toleransi, dan kearifan lokal berproses secara organik. 

Hal tersebut menjadikan NU sebagai wajah Islam moderat Indonesia yang menjadi kiblat dunia.

Lebih lanjut, Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI ini memaparkan bahwa keteladanan para pemimpin NU selalu bersumber dari moral dan jalan spiritual yang ditanamkan oleh para muasis (pendiri). 

Bahkan, dalam urusan kepemimpinan, para kiai NU memiliki tradisi tawaduk (rendah hati) dengan merasa diri tidak pantas, meskipun kapasitas mereka sudah sangat melampaui kelayakan. 

"Para kiai takut kualat kepada para muasis, apalagi jika sampai memimpin NU ada kekeliruan. Inilah sumber keteladanan yang harus terus dihidupkan oleh para peserta muktamar," ujar Said.

Sebagai bagian dari jemaah NU, Said berharap energi pada Muktamar di Jombang nanti tidak dihabiskan semata-mata untuk perebutan posisi pucuk pimpinan. 

Ia mengingatkan bahwa ada banyak problem besar di akar rumput yang membutuhkan intervensi dan pemikiran dari NU. Mulai dari masalah kemiskinan, pengangguran, krisis pertanian dan lingkungan, merosotnya demokrasi, hingga dampak ekonomi akibat konflik global.

NU saat ini, lanjut Said, bukan lagi sekadar komunitas desa, melainkan kekuatan diasporik dengan ratusan ribu sarjana yang menimba ilmu di seluruh penjuru dunia. 

"NU harus belajar, kejayaan Islam pada masa Dinasti Abbasiyah tidak terletak dari kekuatan politiknya, melainkan sebagai sumber peradaban ilmu pengetahuan. Bahkan kehancuran Islam terjadi karena banyaknya pertikaian politik," tegas Said.

Oleh karena itu, ia mendorong agar forum musyawarah keilmuan seperti Bahtsul Masail menjadi agenda yang paling mengemuka dalam muktamar nanti. 

Kemampuan para ulama dan intelektual NU dalam menjawab tantangan zaman melalui hasil pemikiran dinilai akan menempatkan NU selalu relevan dari masa ke masa.

Persiapan Sudah 100 Persen

Sementara itu Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, memastikan kesiapan penuh untuk menggelar perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang rencananya digelar 27-30 Agustus 2026.

Seluruh persiapan teknis maupun sarana pendukung penyelenggaraan forum tertinggi NU tersebut telah mencapai 100 persen.

Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq, menegaskan bahwa kesiapan fisik maupun fasilitas di pesantrennya tidak lagi menjadi kendala. 

"Persiapan sudah 100 persen. Kami siap melaksanakan Muktamar," kata Gus Rozaq, Selasa (25/8/2026).

Menurut Gus Rozaq, berbagai kebutuhan penyelenggaraan telah dipersiapkan sejak jauh hari. 

Dengan rampungnya seluruh fasilitas, pihak Bahrul Ulum kini berada dalam posisi siap menyambut para peserta dan menunggu pelaksanaan Muktamar yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat.

Kendati kesiapan di Tambakberas telah paripurna, Gus Rozaq mengungkapkan bahwa koordinasi dari panitia pusat PBNU, baik Steering Committee (SC) maupun Organizing Committee (OC), belum kembali dilakukan setelah tanggal 20 Agustus 2026.

Di tengah kesiapan matang pihak Tambakberas, dinamika mengenai lokasi pelaksanaan justru mengemuka menjelang H-2 agenda akbar tersebut. 

Pada Selasa (25/8/2026) siang, Ketua Organizing Committee (OC) sekaligus Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), disebut menggelar pertemuan di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, yang memunculkan wacana penjajakan alternatif pemindahan venue.

Namun, PBNU belum memberikan pernyataan resmi mengenai hasil pertemuan di Asrama Haji Sukolilo maupun kepastian akhir terkait lokasi Muktamar. 

Meski dinamika lokasi terus bergulir, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas menegaskan tetap berdiri pada posisi siap sepenuhnya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.