Puncak Kemarau Picu Risiko Karhutla, Kemenkes Khawatirkan Dampaknya pada Kelompok Ini
Muhammad Zulfikar August 27, 2026 02:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Puncak musim kemarau  diprediksi terjadi pada Juli hingga September 2026. 

Kondisi ini bisa meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta memburuknya kualitas udara.

Baca juga: IKN Terdampak Karhutla, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, mengatakan paparan PM2,5 menjadi salah satu ancaman utama dari kabut asap karhutla.

Kelompok yang paling dikhawatirkan adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta. Mereka dinilai lebih rentan mengalami gangguan kesehatan ketika kualitas udara memburuk.

“Anak-anak adalah kelompok yang paling berisiko karena paru-paru dan sistem kognitif mereka masih dalam tahap perkembangan,” ujar dia dalam temu media via daring di Jakarta, Rabu (26/8).

Risiko juga meningkat pada kelompok lansia, khususnya mereka yang sudah memiliki gangguan kesehatan. Paparan polusi dalam konsentrasi tinggi dapat memperburuk penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), memicu gangguan kardiovaskular, meningkatkan tekanan darah, hingga menyebabkan iritasi mata dan kulit.

Baca juga: Karhutla di Kalteng, 3 Helikopter Water Bombing Tambahan Dikerahkan dan 500 Pompa Air Dikirim

Kasus ISPA Meningkat

Ditambahkan Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, Kalimantan Barat mencatat 165.747 kasus ISPA sejak 1 Januari hingga awal Agustus 2026.

Kalimantan Selatan mencatat 18.423 kasus, sedangkan di Kalimantan Tengah terdapat lebih dari 3.000 kasus hanya dalam periode 10-16 Agustus.

“Ketika asap membuat kualitas udara menurun, dampaknya dapat langsung dirasakan masyarakat, terutama mereka yang sudah memiliki masalah pernapasan,” tutur Agus.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Kemenkes menambah 321 tenaga kesehatan di sejumlah wilayah terdampak. Dukungan juga diberikan dalam bentuk logistik kesehatan, termasuk 262.000 masker medis dan N95, 119 oksigen konsentrator, 40.000 pasang sarung tangan medis, serta 4.900 set APD.

Kemenkes mengimbau, masyarakat di wilayah terdampak menyesuaikan aktivitas dengan mengurangi kegiatan di luar ruangan.

Penggunaan masker respirator seperti N95 juga dianjurkan ketika masyarakat harus beraktivitas di luar rumah.

Sementara di dalam ruangan, sirkulasi udara dari luar dapat diminimalkan dan penyaring udara digunakan jika tersedia.

Masyarakat juga perlu mengenali gejala yang muncul. Batuk, sesak napas, nyeri dada, iritasi mata, atau keluhan kesehatan lain yang memburuk setelah terpapar asap sebaiknya tidak diabaikan dan perlu diperiksakan ke fasilitas kesehatan.

Kemenkes sendiri telah menyiapkan Rumah Oksigen di sejumlah titik. Fasilitas tersebut dirancang sebagai ruang yang terlindung dari asap dan dilengkapi penyaring udara serta oksigen konsentrator untuk membantu warga yang mengalami gangguan pernapasan.

Risiko kesehatan akibat karhutla diperkirakan masih perlu diwaspadai selama periode kemarau. Dengan kondisi tersebut, kualitas udara menjadi salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan masyarakat, selain perkembangan titik api dan sebaran asap.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.