TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Masyarakat Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat tengah mengeluhkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi Pertalite yang melonjak naik.
Kondisi ini disebut dipicu karena kelangkaan BBM Pertalite.
Warga Desa Nanga Mau, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang menyebut harga Pertalite di sejumlah kios atau pengecer mencapai Rp25 ribu per liter.
Sementara harga di SPBU masih tetap yakni Rp10 ribu per liter.
Tidak hanya di Kayan, harga Pertalite tingkat eceran di Kota Sintang juga naik Rp14-15 ribu perliternya.
Warga Nanga Mau, Bambang, mengatakan kondisi tersebut telah terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Menurutnya, harga Pertalite di kios terus mengalami kenaikan.
• Warga Keluhkan BBM Langka! Harga Pertalite Eceran Tembus Rp25 Ribu per Liter di Sintang
“Kemarin masih Rp20 ribu, hari ini sudah Rp25 ribu,” kata Bambang saat ditemui di kediamannya, Rabu 26 Agustus 2026.
Bambang juga menyoroti panjangnya antrean di SPBU.
Ia menduga sebagian warga membeli Pertalite di SPBU untuk kemudian menjualnya kembali di kios-kios.
Kondisi tersebut, menurutnya, membuat masyarakat yang membutuhkan BBM untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari kesulitan mendapatkan Pertalite dengan harga normal.
Keluhan serupa disampaikan Kepala Suku Sub Suku Dayak Kebahan, Sakundus.
Ia berharap pemerintah dan instansi terkait segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan kelangkaan dan tingginya harga BBM di wilayah Kayan Hilir.
Salah satu langkah yang dinilai dapat dipertimbangkan adalah penerbitan surat edaran resmi mengenai Harga Eceran Tertinggi (HET) BBM di tingkat kios.
“Kalau harga di kios-kios sudah mulai di batas kewajaran, kami berharap pemerintah atau instansi terkait bisa mengeluarkan surat edaran resmi tentang HET. Misalnya maksimal Rp15.000 per liter, sehingga masyarakat punya pilihan dan antrean di SPBU juga bisa terurai,” ujar Sakundus, Rabu 26 Agustus 2026.
Selain persoalan harga, Sakundus juga meminta pengawasan terhadap aktivitas di SPBU ditingkatkan.
Ia menilai keterlibatan Forkopimcam, termasuk TNI dan Polri, diperlukan untuk menjaga ketertiban sekaligus memastikan penyaluran BBM subsidi berjalan baik dan tepat sasaran.
Menurut Sakundus, kondisi masyarakat saat ini semakin berat karena kelangkaan BBM terjadi bersamaan dengan kemarau dan kabut asap. Sebagian masyarakat juga menghadapi keterbatasan air.
“Ditambah lagi, saat ini masyarakat sedang menghadapi kabut asap dan musim kemarau yang menyebabkan kelangkaan air. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan kelangkaan BBM,” katanya.
• Daftar Harga BBM Pertamina di Kalbar Per 1 September 2026! Pertamax dan Turbo Resmi Turun
Ia berharap persoalan tersebut segera ditangani secara serius agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar di tengah masyarakat.
Sakundus menegaskan, keluhan tersebut bukan ditujukan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan BBM untuk bekerja, menjalankan usaha, mengangkut hasil pertanian, serta memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia berharap pemerintah segera melakukan evaluasi dan mengambil langkah konkret untuk memastikan ketersediaan BBM sekaligus menjaga harga tetap wajar. Masyarakat juga diimbau tetap tertib dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan agar distribusi BBM dapat berjalan secara adil.
Nanga Mau adalah desa yang menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.
Lokasinya berada di tepi Sungai Kayan dan berfungsi sebagai sentra aktivitas masyarakat, termasuk pemerintahan, perdagangan, dan layanan publik.
Desa ini juga dikenal sebagai salah satu titik penting jalur sungai di pedalaman Sintang.
Dari pusat Kota Sintang ke Nanga Mau jaraknya sekitar ±70–80 kilometer melalui jalur darat.
Waktu tempuh rata-rata 2,5 hingga 3 jam menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua, tergantung kondisi jalan dan cuaca.
Jalur menuju Nanga Mau melewati kawasan pedalaman dengan akses jalan kabupaten, sehingga perjalanan bisa lebih lama saat musim hujan.
Berikut daftar harga BBM di seluruh SPBU Kalbar per 1 September 2026:
1. Pertalite = Rp10.000/liter (tetap)
2. Biosolar = Rp6.800/liter (tetap)
3. Pertamax = Rp15.950/liter (turun Rp300)
4. Pertamax Green 95 = Rp16.600/liter (turun Rp400)
5. Pertamax Turbo = Rp18.300/liter (turun Rp1.000)
6. Dexlite = Rp19.700/liter (tetap)
7. Pertamina Dex = Rp21.150/liter (tetap)
(*)