TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dua program pemerintah yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih mendorong permintaan kendaraan niaga ringan jenis pikap naik 51 persen dan truk ringan naik 55 persen selama semester I 2026.
Data Kementerian Perindustrian menyatakan, produksi kendaraan roda empat atau lebih pada Januari-Juni 2026 naik 11,3 persen secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi sekitar 615.000 unit.
Sementara penjualan dari pabrik ke dealer atau wholesales di pasar domestik tumbuh 15,9 persen menjadi sekitar 436.000 unit.
"Kalau kita lihat penyumbang terbesar dari pertumbuhan wholesale itu, penjualan wholesale kategori pick-up itu melonjak 51 persen," kata Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief di acara Indonesia Business Forum, Kamis (27/8/2026).
Selain pikap, penjualan truk ringan dengan Gross Vehicle Weight (GVW) berkapasitas 5-10 ton juga naik sekitar 55 persen. Sementara kendaraan 4x2 dengan kapasitas mesin di bawah 1.500 cc tumbuh 29 persen.
Menurut Febri, kenaikan permintaan kendaraan tersebut sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 yang mencapai 5,29 persen.
Salah satu faktor pendorongnya adalah peningkatan belanja pemerintah yang mencapai 15 persen termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan banyak kendaraan niaga untuk menopang SPPG.
"Belanja pemerintah sebesar 15 persen itu sebagian itu digunakan untuk belanja seperti program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang membutuhkan kendaraan dari produk otomotif. Ya seperti kita lihat bagaimana dapur SPPG mengantarkan makanan ke sekolah-sekolah itu membutuhkan kendaraan," kata Febri.
Baca juga: Pikap yang Fleksibel, Isuzu Traga Disulap Jadi Armada Salon Keliling di GIIAS 2026
Program lainnya yang mendorong kenaikan permintaan truk ringan adalah Koperasi Merah Putih di semester I 2026.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri Saleh Husin mengingatkan, pertumbuhan pasar otomotif perlu diikuti peningkatan kandungan lokal.
Menurut dia, bertambahnya kendaraan yang beredar di masyarakat harus memberikan manfaat lebih besar bagi industri komponen dalam negeri.
"Dengan peningkatan mobil yang beredar di masyarakat itu, yang paling utama adalah bagaimana jangan sampai mobil yang didatangkan itu adalah mobil yang hanya dirakit di sini tetapi komponennya itu seluruhnya diimpor dari luar," ujarnya.
Baca juga: Prototipe Angkot New Carry Ber-AC Garapan Adi Putro Tampil di GIICOMVEC 2026
Kadin mendorong pemerintah memperkuat kebijakan yang dapat meningkatkan penggunaan komponen produksi dalam negeri agar pertumbuhan industri otomotif juga dapat memberikan nilai tambah bagi pelaku industri kecil dan menengah serta UMKM di sektor komponen.
Saleh mencontohkan kebijakan pengembangan mobil Low Cost Green Car (LCGC) yang sebelumnya mendorong penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
"Itu kan dipaksa TKDN-nya harus 80 persen. Akibatnya industri komponen di dalam negerinya ikut tumbuh. Akhirnya itu bisa punya daya saing yang kuat. Kita bisa lakukan ekspor," ujarnya.