TRIBUNNEWS.COM – Sulistyowati Irianto, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, menyoroti aksi demonstrasi yang dilakukan pada hari ini, Kamis, 27 Agustus 2026.
Pada demo hari ini para pengunjuk rasa akan berkumpul di kawasan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat.
Ada empat kelompok yang berdemo, yakni Relawan Madura Pengawal Program Presiden Prabowo (RMP4), Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM), Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), dan Aliansi Masyarakat Depok Bersatu (AMDB). Di samping itu, demo akan diikuti oleh sejumlah mahasiswa dan elemen pemuda.
Para demonstran akan menyampaikan sejumlah tuntutan mulai dari pengesahan Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset, hukuman mati bagi koruptor, hingga evaluasi maupun penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sulistyowati berkata belakangan ini unjuk rasa tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga di banyak daerah di Tanah Air. Menurut dia, fenomena demonstrasi itu seharusnya dipertanyakan penyebabnya.
“Apa yang menjadi persoalan mereka? Apa yang menjadi desakan mereka?” kata Sulistyowati dalam program Satu Meja di Kompas TV, Rabu, (26/8/2026).
Dia mengingatkan bahwa aksi demonstrasi tidak bisa langsung dicap sebagai aksi anarkisme dan kerusuhan.
Profesor itu menyinggung banyaknya demonstran yang ditangkap dan kemudian dilepaskan setelah 5 atau 6 bulan. Menurut dia, hal itu menunjukkan bahwa telah terjadi salah tangkap dan harus ada koreksi dari pemerintah.
Kemudian, dia menjelaskan pentingnya peran kalangan pemuda dalam mempersiapkan dan merawat kemerdekaan Indonesia.
“Sebenarnya harus diingat juga dalam sejarah Indonesia itu sejak tahun 1990-an awal, jauh dari kemerdekaan, sudah ada gerakan-gerakan sosial, gerakan perempuan, dan orang-orang muda,” katanya.
“Dan siapa yang merawat? Merawat dalam arti selalu melakukan check and balance, terutama ketika parlemen tidak melakukan tugas menjadikan diri sebagai check and balance, itu diambil oleh gerakan masyarakat sipil, dalam hal ini orang-orang muda.”
Baca juga: Menko Polkam Sebut Ada Beberapa Orang Diperiksa dan Ditahan Jelang Demo 27 Agustus
Seandainya nanti ada peserta demo yang ditangkap karena diduga melakukan aksi vandalisme, Sulistyowati meminta aparat untuk menyatakan identitasnya secara terbuka di depan publik.
“Kita sekarang menjadi masyarakat global. Anak-anak muda terhubung dengan masyarakat global karena ada globalisasi hukum di mana konvensi-konvensi internasional dalam bidang hak asasi manusia dan macam-macam itu diratifikasi oleh negara-negara sehingga anak-anak muda memiliki pengetahuan yang sama tentang demokrasi, HAM, antikorupsi," ujar Sulistyowati.
Menurut dia, para anak muda misalnya di Maladewa, Nepal, Indonesia, India, dan Filipina, tidak saling mengenal, tetapi punya kesadaran yang sama, yaitu harus melakukan perubahan.
Ada empat kelompok yang berdemo hari ini. Menyampaikan sejumlah tuntutan sebagai berikut.
1. AMPB
Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) akan menyampaikan dua tuntutan dalam aksi di depan Gedung DPR/MPR RI.
Tuntutan pertama, mendesak DPR segera mengesahkan RUU Perampasan Aset. Tuntutan kedua, AMPB meminta penerapan hukuman mati bagi pelaku korupsi.
2. RMP4
Berbeda dengan AMPB, massa dari Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, datang ke Jakarta untuk menyuarakan dukungan terhadap sejumlah program Presiden Prabowo Subianto.
Massa tersebut tergabung dalam Relawan Madura Pengawal Program Presiden Prabowo (RMP4).
Salah satu program pemerintah yang menjadi perhatian RMP4 adalah Makan Bergizi Gratis (MBG).
RMP4 mendukung keberlanjutan program tersebut, tetapi meminta adanya evaluasi terhadap pelaksanaannya.
3. GERAM
Kelompok ketiga yang akan menggelar aksi di depan Gedung DPR/MPR RI adalah Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM).
Baca juga: Jelang Demo AMPB di DPR RI, Rumah Warga Pati Diteror OTK, Bus Menuju Jakarta Diadang
GERAM menjadwalkan aksi mulai pukul 14.00 WIB dengan mengusung tagar #MerebutKembaliIndonesia.
Koordinator Aksi GERAM Ahmad Mixel mengatakan pihaknya memperkirakan sekitar 1.000 mahasiswa dan masyarakat sipil mengikuti aksi tersebut.
Berikut 10 tuntutan GERAM.
4. AMDB
Aliansi Masyarakat Depok Bersatu (AMDB) menyampaikan tuntutan yang mirip dengan AMPB, yakni pengesahan RUU Perampasan Aset, hukuman mati bagi koruptor, dan penurunan harga kebutuhan pokok
Langkah ini bersifat situasional, yang artinya pengalihan arus akan langsung dieksekusi begitu volume kendaraan mulai menunjukkan tanda-tanda stuck.
Fokus pada Jalan Letjen S. Parman sisi selatan (Semanggi hingga Simpang Slipi).
Jika massa membludak, arus di sini akan langsung direkayasa.
Bila kawasan ini macet, kendaraan dari arah Cawang akan dibelokkan menyusuri Jalan Jenderal Gatot Subroto, berlanjut ke Sudirman, Sisingamangaraja, Asia Afrika, hingga Patal Senayan.
Sementara itu, arus dari Tomang menuju Cawang sejauh ini diprediksi masih bisa melintas, meski petugas tetap dalam status siaga penuh.
Ini adalah titik paling krusial.
Jika Anda berencana melewati kawasan ini, perhatikan skema pengalihan arus berikut agar tidak membuang waktu di jalan:
Kawasan elite seperti Jl. M.H. Thamrin, Sudirman, Medan Merdeka Barat, hingga Budi Kemuliaan tak luput dari radar.
(Tribunnews/Febri/Nuryanti/Willy Widianto) (Wartakotalive.com/Yolanda Putri Dewanti)