- Serangan rudal besar-besaran Iran ternyata tak hanya menghantam pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Fasilitas intelijen dan peralatan pengawasan AS juga mengalami kerusakan signifikan akibat serangan rudal Iran.
Dampaknya disebut langsung terasa pada kemampuan AS mengumpulkan informasi di sejumlah lokasi strategis kawasan selama konflik berlangsung.
Informasi ini diungkap berdasarkan keterangan empat sumber yang mengetahui persoalan tersebut secara langsung dan mendalam.
Menurut sumber tersebut, skala kerusakan bahkan disebut melampaui kerusakan yang pernah dialami badan intelijen sebelumnya.
Sejumlah bangunan dan perangkat pengumpulan informasi milik CIA serta badan intelijen AS lainnya ikut terdampak serangan.
Biaya memperbaiki dan mengganti fasilitas serta peralatan yang rusak diperkirakan mencapai miliaran dolar AS secara keseluruhan.
Kondisi itu kemudian mendorong Kongres AS menyiapkan pendanaan khusus untuk pemulihan fasilitas terdampak secara bertahap.
Pejabat AS juga mempertimbangkan penataan ulang personel dan sumber daya intelijen di Timur Tengah untuk sementara waktu.
Langkah tersebut disiapkan setelah serangan Iran meluas dan menyasar berbagai aset AS selama konflik berlangsung di kawasan.
Lebih dari 100 target telah dihantam dalam rangkaian serangan tersebut pada April 2026 lalu.
Target-target itu berada di sedikitnya 11 instalasi militer AS yang tersebar di tujuh negara kawasan Timur Tengah.
Lokasinya mencakup Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Yordania, Kuwait, Irak, dan Arab Saudi sebagai sasaran serangan utama.
Serangan terjadi ketika Iran merespons operasi AS dan Israel terhadap wilayahnya selama periode konflik tersebut.
American Enterprise Institute memperkirakan biaya memperbaiki infrastruktur rusak saja dapat melampaui lima miliar dolar AS.
Perkiraan itu belum mencakup biaya perbaikan maupun penggantian peralatan intelijen dan sistem persenjataan yang terdampak konflik.
Pentagon juga mengajukan dana darurat 67 miliar dolar pada akhir Juli untuk tahun fiskal berjalan.
Sekitar 18,2 miliar dolar dialokasikan mengganti rudal dan pencegat, sementara AS menembakkan 13.629 amunisi ke target Iran.