SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Pagi belum sepenuhnya menyapa, namun langit di sebagian besar wilayah Sumatera Selatan sudah tampak temaram sejak subuh menyingsing.
Bukan karena mendung hujan, melainkan kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda dan mencekik ruang napas warga Bumi Sriwijaya.
Aktivitas warga di berbagai daerah terganggu oleh aroma hangus yang menyengat mata dan tenggorokan.
Potret kelam kualitas udara ini makin dipertegas oleh pemantauan Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index/AQI) pada Kamis (28/8/2026) pagi, yang menunjukkan tingkat pencemaran berada pada level mengkhawatirkan.
Baca juga: Adu Kuat Mandiri Finansial: Menimbang PAD Pagar Alam dan Probolinggo 2 Kota Penghasil Sayur dan Buah
Tiga wilayah bahkan secara resmi telah menembus Zona Ungu, yang mengindikasikan kategori kualitas udara Sangat Tidak Sehat.
Talang Ubi mengondisikan skor AQI tertinggi sekaligus paling mengkhawatirkan, disusul oleh Prabumulih dan Indralaya.
Sementara itu, enam wilayah pendukung lainnya termasuk ibu kota provinsi, Palembang, tertahan di Zona Merah dengan kategori Tidak Sehat.
Kondisi udara di zona ungu maupun merah ini memberikan ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).
Baca juga: Pangan vs Energi: Menimbang Kucuran Triliunan Rupiah Pusat untuk Lampung dan Sumsel
Talang Ubi 282
Prabumulih 258
Indralaya 249
Sungaigerong 177
Sekayu 174
Kayu Agung 171
Lahat 165
Palembang 164
Muara Beliti 153