Mengapa Karhutla di Lahan Gambut Sulit Ditaklukan? Ini Penjelasan Pakar IPB
GH News August 27, 2026 11:08 AM
Jakarta -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan masih terus berkobar. Api masih menyala karena pemadaman di lahan gambut cenderung sult dipadamkan.

Hal itu seperti dijelaskan oleh Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan sekaligus Kepala Pusat Studi Bencana IPB University, Prof Bambang Hero Saharjo. Ia mengatakan pemadaman tak mudah karena lahan yang bersifat gambut.

"Sulitnya pemadaman karhutla di Kalimantan berkaitan erat dengan karakteristik lahan gambut yang mudah mengering dan menyimpan bara di bawah permukaan," ujarnya dikutip dari laman IPB University, Rabu (26/8/2026).

Penyebab Api di Lahan Gambut Sulit Padam

Bambang menerangkan, api di lahan gambut sulit padam karena bisa bertahan di bawah permukaan tanah. Saat api masuk ke lapisan gambut, ada material yang belum terbakar.

Jika hujan tidak turun, maka pemadaman lebih sulit. Terlebih saat tanah kering dan musim kemarau.

"Kondisi gambut yang mengering akan menjadi bahan bakar yang sangat efektif untuk terjadinya kebakaran yang berkesinambungan," katanya.

Keterbatasan Air Persulit Pemadaman

Alasan kebakaran sulit dihentikan total menurut Bambang adalah karena keterbatasan sumber daya pendukung pemadaman seperti air. Ketersediaan air sangat menentukan proses pemadaman.

"Sumber air lain seperti sumur bor menjadi tidak berfungsi, begitu juga kanal-kanal yang sudah dibangun, tetapi air yang tersedia sangat terbatas," ujar Bambang.

Bambang juga menekankan soal ketersediaan sarana dan prasanan. Menurutnya, dibutuhkan juga pengetahuan dan keterampilan kebakaran supaya pemadaman bisa dilakukan lebih efektif.

Sistem Deteksi Dini Belum Optimal

Sistem peringatan dini yang belum optimal menurut Bambang jadi penyebab lain pemadaman semakin sulit diselesaikan. Ia menekankan, penegakan hukum untuk membuat masyarakat patuh harus dilakukan.

"Pemantauan tinggi muka air agar tetap kurang dari 40 cm, penguatan sistem peringatan dan deteksi dini, serta prioritas pada kegiatan pencegahan harus dilakukan secara konsisten," tuturnya.

Jika regulasi pemanfaatan lahan gambut dipatuhi dan tegas, Bambang yakin pencegahan bisa dilakukan. Ia mendorong banyak pihak untuk mematuhi ketentuan tersebut.

"Pencegahan harus menjadi prioritas utama dengan menjaga gambut tetap basah, memperkuat deteksi dini, dan memastikan seluruh pihak terlibat dalam pengelolaan gambut secara berkelanjutan," pungkas Bambang.

Cicin Yulianti
Jurnalis detikcom. Lulusan Jurnalistik Unpad, di detikcom sejak 2022. Spesialis menulis topik pendidikan, kampus, sekolah, beasiswa, riset, dan kehidupan pelajar/mahasiswa.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.