MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Kabar duka menyelimuti Universitas Hasanuddin (Unhas).
Sudirman Haji Nasir, PhD, akademisi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas yang dikenal aktif dalam riset dan menulis isu kesehatan, wafat pada Rabu (26/8/2026) malam.
Dia menghembuskan nafas terakhirnya di RS Siloam, Tanjung Bunga, Makassar, Sulsel.
Kepergian Sudirman meninggalkan duka bagi sivitas akademika Unhas dan kolega yang selama ini mengenalnya sebagai akademisi yang produktif, baik dalam penelitian maupun menyuarakan gagasan kepada publik.
Sudirman Nasir lahir di Kabupaten Soppeng, 31 Desember 1973.
Ia merupakan putra Haji Nasir, salah seorang pengusaha di daerah tersebut.
Masa kecil hingga pendidikan dasar dijalaninya di Soppeng.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Makassar, antara lain di Pesantren IMMIM Putra Makassar dan SMAN 1 Makassar.
Perjalanan akademiknya berlanjut di dua kota, Makassar dan Melbourne, Australia.
Ia meraih gelar sarjana dari Fakultas Kedokteran Unhas pada 1998, sebelum melanjutkan pendidikan ke University of Melbourne.
Di Australia, Sudirman menempuh program Master in Women's Health dan kemudian meraih gelar doktor dari University of Melbourne.
Jejak pengabdiannya tidak hanya berada di lingkungan kampus.
Sudirman aktif di Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) dan pernah dipercaya sebagai Wakil Ketua Bidang Sains dan Pendidikan.
Di Unhas, ia pernah memimpin Center of Excellence for Interdisciplinary and Sustainability Sciences (CEISS) pada Sekolah Pascasarjana.
Suami Hasnawati Saleh itu juga aktif sebagai senior fellow pada Australia-Indonesia Centre (AIC) dalam kemitraan riset bilateral.
Kolega dan sivitas akademika Unhas pun merasa amat kehilangan.
“Innalillahi wa innailaihi rojiun, turut berduka cita mendalam,” kata Kepala Subdirektorat Hubungan Masyarakat Kemahasiswaan Unhas, Ishaq Rahman, melalui pesan WhatsApp.
Bagi pembaca Tribun-Timur.com, Sudirman juga bukan sosok yang asing. Ia termasuk penulis opini yang produktif, terutama dalam mengangkat hasil penelitian dan isu kesehatan.
Berbagai temuan serta pemikirannya, baik dari penelitian di dalam maupun luar negeri, kerap ia bawa ke ruang publik melalui tulisan opini di Tribun-Timur.com.
Di sana, gagasan akademiknya tidak berhenti di ruang kuliah atau jurnal ilmiah, tetapi hadir sebagai pengetahuan yang dapat dibaca dan diperbincangkan masyarakat.(*)