Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani, pada Rabu (26/8/2026), tiba di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Bangun Rejo, Lampung Tengah.
Mentan hadir untuk menyerahkan bantuan pangan kepada 581 keluarga penerima manfaat (KPM) di Bangun Rejo. Bantuan pangan merupakan program pemerintah pusat, di mana setiap KPM menerima beras sebanyak 10 kg untuk tiga bulan. Lampung sendiri mendapatkan kuota 1,2 juta KPM.
Robi Cahyadi Kurniawan, Dosen FISIP Unila mengatakan, pemberian bantuan pangan merupakan hal yang lazim dilakukan pemerintah sebagai bagian dari program sosial sekaligus bentuk implementasi kinerja kementerian.
Namun ada persoalan yang lebih penting bukan sekadar seberapa banyak bantuan yang disalurkan, melainkan apakah bantuan tersebut memang dibutuhkan dan tepat sasaran.
Menurut Robi, efektivitas bantuan semestinya tidak hanya diukur dari jumlah paket atau penerima yang mendapatkan bantuan. Pemerintah perlu melihat dampak setelah bantuan diterima masyarakat.
Efisiensi diukur dari hasil bantuan itu. Apakah ada perubahan pola pikir dan usaha dari mereka yang telah diberi bantuan.
Ia mengatakan, evaluasi juga harus melihat perubahan kondisi penerima bantuan dari sisi ekonomi maupun pola hidup. Dengan demikian, bantuan tidak berhenti sebagai program jangka pendek, tetapi mampu menjadi pintu masuk menuju kemandirian ekonomi petani.
Dosen Ilmu Pemerintahan Fisip Unila ini mengatakan, pemerintah perlu melakukan perubahan mendasar dalam pola penyaluran bantuan agar benar-benar tepat sasaran dan tepat guna. Program pemberdayaan petani justru memiliki arti yang lebih penting dalam jangka panjang.
Robi mengatakan, petani perlu didorong agar memiliki kemampuan meningkatkan produktivitas sekaligus memperoleh harga jual yang lebih baik. Program pemberdayaan dan peningkatan harga jual produk petani lebih penting dari sekedar memberikan bantuan.
Persoalan petani tidak selalu selesai hanya dengan diberikan bantuan. Jika harga komoditas rendah, biaya produksi tinggi, dan akses pasar terbatas, bantuan yang diberikan berpotensi hanya menyelesaikan persoalan dalam jangka pendek.
"Oleh karena itu, kebijakan pemerintah perlu diarahkan pada penguatan posisi petani, mulai dari produksi, akses modal dan teknologi, hingga pemasaran hasil pertanian," katanya.
Selain itu, juga perlu adanya evaluasi menyeluruh terhadap berbagai program bantuan pertanian dan pangan. Ia menyebutkan, evaluasi diperlukan untuk mengetahui program mana yang efektif, siapa yang benar-benar membutuhkan, serta apakah bantuan tersebut menghasilkan perubahan nyata bagi penerimanya. Selain itu, tata cara dan aturan dalam sektor pertanian semakin berpihak kepada petani.
Peninjauan kebun tebu, pembibitan kopi dan kakao, serta penyaluran bantuan pangan semestinya menjadi momentum untuk mendengar langsung persoalan petani dan merumuskan kebijakan yang berdampak nyata.
"Sebab, keberhasilan pembangunan pertanian pada akhirnya bukan hanya terlihat dari banyaknya bantuan yang tersalurkan, tetapi dari meningkatnya pendapatan, produktivitas, kemandirian, dan kesejahteraan petani," ujarnya.
Kedatangan Mentan di Bangun Rejo disambut antusias ibu-ibu hingga anak-anak. Begitu helikopter mendarat, Plt Bupati Lampung Tengah I Komang Koheri mengenakan selendang dan peci bermotif tapis kepada Amran.
Setelah prosesi penyambutan, Amran menyerahkan bantuan pangan kepada masyarakat penerima manfaat di Desa Mekar Jaya. Dalam kesempatan tersebut, Amran memastikan pemerintah memberikan bantuan pangan kepada masyarakat yang memang membutuhkan. "Tentu bantuan ini kita berikan kepada masyarakat yang memang benar-benar membutuhkan," kata Amran.
Menurut Amran, ketepatan sasaran menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program bantuan pangan pemerintah. Khusus di Provinsi Lampung, bantuan pangan tersebut menyasar sekitar 1,2 juta penerima manfaat.
Di samping itu, Amran memastikan kondisi stok beras nasional dalam keadaan aman. Bahkan, ia menyebut stok beras Indonesia saat ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah. "Indonesia stok kita saat ini, stok beras maksudnya, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia," ujar Amran.
Menurut Amran, tingginya stok beras tersebut membuat pemerintah harus menambah kapasitas penyimpanan. Pemerintah disebut telah menyewa gudang dengan kapasitas mencapai 2 juta ton.
Langkah itu dilakukan karena kapasitas gudang yang tersedia sebelumnya disebut sekitar 3 juta ton. "Karena kapasitas gudang kita hanya 3 juta, dan kita sudah sewa gudang berkapasitas 2 juta ton," imbuh Amran.
Amran mengatakan, kondisi stok yang tinggi juga memungkinkan Indonesia mulai melakukan ekspor beras ke sejumlah negara, salah satunya Malaysia. Ia menyebut pengiriman terakhir ke Malaysia mencapai 1 ribu ton.
Selain Malaysia, Amran menyebut beras Indonesia juga telah atau ditargetkan masuk ke sejumlah negara lain, di antaranya Arab Saudi, Qatar, Palestina, Timor Leste, dan China.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan, bantuan pangan yang diserahkan berlaku untuk tiga bulan, yakni Juli, Agustus, dan September 2026. Secara nasional, program bantuan pangan menyasar 33,2 juta penerima manfaat.
Setiap penerima mendapatkan bantuan beras sebanyak 10 kilogram per bulan. Dengan durasi tiga bulan, masing-masing penerima akan memperoleh total 30 kilogram beras.
Khusus Lampung, Rizal menyebut terdapat 1.242.582 penerima manfaat. Total beras yang disiapkan untuk penyaluran bantuan pangan di Lampung mencapai 37.277 ton.
"Se-Indonesia itu 33,2 juta penerima manfaat. Khusus untuk di Provinsi Lampung itu ada 1.242.582 penerima manfaat. Total berasnya adalah 37.277 ton," kata Rizal.
Sementara di Desa Mekar Jaya, terdapat 581 penerima manfaat bantuan pangan. Rizal mengatakan, penyaluran bantuan pangan telah dimulai sejak awal Agustus 2026. Hingga Rabu (26/8), realisasi penyaluran disebut telah mendekati 40 persen. "Yang sudah terealisasi sekarang sudah hampir 40 persen dari penyaluran kami kemarin di awal bulan Agustus," ujarnya.
Bulog menargetkan penyaluran bantuan pangan untuk periode tersebut rampung 100 persen pada akhir September 2026.
Ismawati (46), warga setempat, mengaku bersyukur mendapatkan bantuan pangan tersebut. Menurutnya, bantuan beras tersebut sangat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
"Saya senang dan bersyukur dapat bantuan ini. Terima kasih kepada Pak Menteri dan pemerintah pusat yang sudah memberikan bantuan kepada kami," kata Ismawati.
Ia berharap program bantuan pangan seperti ini dapat terus dilanjutkan dan diberikan dengan intensitas yang lebih sering kepada masyarakat yang membutuhkan. "Semoga bantuan seperti ini bisa lebih sering diberikan, karena sangat membantu masyarakat," ujarnya.
Kementan menggelontorkan anggaran Rp350 miliar untuk mengembangkan lahan perkebunan seluas 30 ribu hektare di Provinsi Lampung. Program tersebut mencakup pengembangan komoditas tebu, kopi, dan kakao sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Hal itu dikatakan Mentan Andi Amran Sulaiman saat meninjau kesiapan dan kualitas pembibitan tanaman di Lampung bersama jajaran Direktorat Jenderal Perkebunan, Rabu (26/8/2026). Amran mengatakan, dari total lahan yang ditargetkan, sebanyak 12 ribu hektare dialokasikan untuk komoditas tebu, sedangkan 18 ribu hektare lainnya untuk kopi dan kakao.
"Komoditas tebu menerima alokasi lahan seluas 12 ribu hektare, sedangkan kopi dan kakao mendapat alokasi 18 ribu hektare," kata Amran.
Ia menegaskan seluruh bantuan dalam program tersebut diberikan secara gratis tanpa pungutan. Bantuan mencakup penyediaan bibit berkualitas, pengolahan lahan, hingga penanaman. "Program ini murni bantuan pemerintah dan tidak untuk diperjualbelikan," tegasnya.
Secara nasional, program khusus tersebut menargetkan pengembangan lahan seluas 870 ribu hektare dengan total anggaran Rp9,95 triliun. Selain mendorong produksi, program ini diproyeksikan membuka lapangan kerja dan menyerap sekitar 3-4 juta tenaga kerja.
Untuk memastikan program berjalan di tingkat petani, Kementan juga menyiapkan dukungan terhadap berbagai kendala teknis, termasuk ancaman hama. "Terkait kendala teknis yang kerap dihadapi petani seperti ancaman hama, Kementan memastikan sinergi antara Dinas Perkebunan Kabupaten dan Provinsi akan dikerahkan untuk melakukan penanganan langsung di lapangan," ujar Amran.
Menurut Amran, peningkatan produktivitas perkebunan tidak terlepas dari kualitas bibit. Ia menyebut perbaikan mutu pembibitan kini terus dilakukan di berbagai daerah dan menjadi salah satu fondasi peningkatan produksi pertanian.
"Kini, kualitas bibit unggul terpantau merata di berbagai daerah, mulai dari Aceh, Lampung, Kalimantan, NTT, NTB, Sulawesi Tenggara, hingga Gorontalo. Peningkatan mutu bibit secara signifikan ini menjadi fondasi utama dalam meningkatkan produktivitas hasil tani nasional," katanya.
Amran juga mengapresiasi peran petani, penyuluh, pemerintah daerah, perangkat desa, serta jajaran TNI, Polri, dan kejaksaan dalam mendukung program pemerintah di sektor pertanian. Ia menilai sinergi lintas sektor menjadi bagian penting dalam memastikan program berjalan hingga tingkat lapangan.
Peningkatan produksi tersebut, lanjut Amran, juga diarahkan untuk memperluas pasar hasil pertanian Indonesia. Setelah memperkuat produksi dalam negeri, pemerintah kini mulai mendorong komoditas pangan nasional agar semakin mampu memenuhi permintaan pasar internasional.
Salah satunya melalui komoditas beras. Pemerintah telah merealisasikan kesepakatan awal ekspor beras sebanyak 1 ribu ton bersama Bulog dan membidik peluang pasokan hingga 200 ribu ton ke Malaysia, dari total kebutuhan impor negara tersebut yang mencapai 1 juta ton.
"Selain Malaysia, penetrasi pasar juga tengah dijajaki ke negara tetangga seperti Filipina, Timor Leste, dan Papua Nugini," tutupnya.
Plt Bupati Lampung Tengah, I Komang Koheri, menyambut baik perhatian pemerintah pusat melalui Kementan dalam mendukung sektor pertanian di wilayahnya. Dukungan tersebut dinilai sangat penting untuk menjawab berbagai persoalan krusial yang dihadapi petani, mulai dari ketersediaan pupuk, bantuan bibit unggul, hingga penanganan krisis air di musim kemarau.
"Hari ini kita mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden melalui Menteri Pertanian Pak Amran yang memberikan begitu banyak perhatian terhadap dunia pertanian, khususnya di Lampung Tengah," ujar Komang, Rabu.
Mantan anggota DPR RI periode 2019-2024 ini memaparkan bahwa alokasi bantuan pangan beras di Lampung Tengah menjangkau sebanyak 189 ribu keluarga penerima manfaat (KPM), bagian dari total 1,2 juta penerima di tingkat Provinsi Lampung.
Selain bantuan pangan dan infrastruktur pengairan seperti sumur bor serta pompa, Pemkab Lampung Tengah juga memprioritaskan penerimaan bantuan pembibitan untuk komoditas perkebunan utama seperti kopi robusta dan cokelat (kakao).
Komang menegaskan, pengembangan tanaman keras ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor nasional. Kendati demikian, pengalokasian bibit wajib melalui mekanisme pendataan Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) guna menjaga kelestarian kawasan pangan.
"Kita tidak mau lahan pertanian yang merupakan lahan pangan dialihfungsikan menjadi perkebunan, karena ada Peraturan Menteri Pertanian yang mengaturnya. Tanaman kopi dan cokelat ini diprioritaskan untuk lahan-lahan kering yang memang cocok," tegas politikus PDIP ini.
Dalam dialog bersama Mentan, Komang menyampaikan laporan kondisi teknis terkait pengendapan sedimentasi di sejumah embung dan sungai penyuplai irigasi. Beberapa titik krusial yang mengalami pendangkalan antara lain di kawasan Terbanggi Besar, Selagai Lingga, Anak Tuha, hingga aliran Way Pengubuan.
"Di daerah Anak Tuha dan Selagai Lingga, pendangkalan Way Pengubuan berdampak pada sistem irigasi untuk sekitar 5 ribu hektare lahan di Seputih Mataram, Terbanggi, hingga Bandar Mataram. Harapan kita sedimentasi ini bisa segera direalisasikan penanganannya agar produksi pertanian tidak terganggu," paparnya.
Penanganan jaringan irigasi tersebut diyakini akan memperkuat target ketahanan pangan. Saat ini, realisasi produksi gabah Lampung Tengah telah mencapai 640 ribu ton dari target 700 ribu ton yang ditetapkan pemerintah pusat.
Optimisme tinggi disampaikan Komang bahwa sisa target 60 ribu ton dapat dikejar dalam tenggat waktu empat bulan mendatang melalui strategi intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian.
Menghadapi potensi dampak cuaca ekstrem El Nino, Pemkab Lampung Tengah mengedepankan sinergi lintas pemerintah melalui asas desentralisasi. Pemkab siap mendukung serta mengeksekusi program-program ketahanan pangan besutan pemerintah pusat dan provinsi.
"Kita bersama-sama bekerja menuju satu tujuan utama, yaitu mewujudkan swasembada pangan yang solid mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional," pungkasnya.
(tribunlampung.co.id/bintang puji anggraeni/hurri agusto/fajar ihwani)