TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kala musibah bencana alam melanda, mekanisme bantuan pada umumnya kerap memakan waktu, mulai menggalang dana terlebih dahulu, baru kemudian memberangkatkan tim logistik.
Namun, pola konvensional ini ditepis oleh Masjid Jogokariyan, Kota Yogyakarta, melalui tata kelola kas masjid yang presisi, serta ketersediaan "Kotak Kebencanaan".
Ya, dengan prosedur tersebut, tim relawan dari masjid yang berlokasi di Kemantren Mantrijeron ini bisa langsung meluncur ke lokasi bencana di belahan Nusantara tanpa harus menunggu uang terkumpul.
Langkah cepat itu dibuktikan saat bencana gempa bumi menguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memakan korban hingga ratusan jiwa.
Tak butuh waktu lama untuk memikirkan anggaran awal, relawan bergerak menembus daerah terdampak untuk melakukan asesmen sekaligus mendistribusikan bantuan tahap pertama.
Humas Takmir Masjid Jogokariyan, Gitta Welly Ariadi, menceritakan bahwa keberadaan kotak kebencanaan ini menjadi instrumen kunci kepedulian jemaah.
Masjid Jogokariyan memiliki berbagai jenis kotak infak yang dibagi spesifik sesuai dengan peruntukannya, mulai dari kotak Sedekah Beras, Sega Jumat, hingga Infaq Kebencanaan.
"Jadi ketika ada bencana alam di mana pun, karena sudah ada kotaknya, kita bisa langsung berangkat secepatnya walau belum fundraising. Kita di sana asesmen dulu keperluannya apa. Berangkat dulu, dipelajari kebutuhannya, baru infokan ke sini untuk penggalangan dana berikutnya yang membawa barang sesuai keperluan," ujarnya, Kamis (27/8/26).
Pada gelombang pertama pendistribusian yang dimulai sejak Rabu (19/8/26), relawan menjangkau kawasan Dusun Lemarang dan Dusun Toba di Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai.
Medan sulit dan geografis kepulauan tidak menyurutkan langkah tim dalam menyalurkan bantuan pangan dan logistik menyasar tak kurang dari 1.700 jiwa di titik tersebut.
Memasuki gelombang kedua, bantuan terus mengalir hingga menjangkau kawasan Dusun Nanga Nae di Desa Parralando, hingga wilayah Nanga Mbaur dan Nampar Sepang di Sambi Rampas.
Hingga laporan mutakhir per Rabu (26/8/26), total penerima manfaat dari rentetan aksi kemanusiaan Masjid Jogokariyan di NTT telah menembus lebih dari 3.700 jiwa.
Bantuan yang disalurkan pun bervariasi sesuai hasil penataan kebutuhan lapangan, mulai dari paket makanan siap saji, tenda darurat atau emergency shelter, peralatan balita, serta pasokan penerangan berupa lampu tenaga surya.
"Total dana yang tersalurkan pada kloter awal ini sudah mencapai kisaran Rp300an juta. Tapi, itu masih terus bertambah ya, karena ini masih on going untuk kloter-kloter berikutnya, menyesuaikan kebutuhan di lapangan seperti apa," ungkap Welly.
Uniknya, ketimbang memboyong personel dalam jumlah besar dari Yogyakarta, Masjid Jogokariyan memilih hanya menerjunkan tiga relawan inti sebagai koordinator lapangan.
Strategi ini dipadu dengan melibatkan masyarakat dan relawan lokal di NTT yang cenderung lebih memahami medan sekaligus dinamika di lokasi bencana.
"Kita banyak menggunakan tenaga lokal, dari Jogokariyan cuma tiga orang. Kami berkolaborasi dan hire warga sekitar agar mereka juga merasa ikut memiliki dan bangga bisa menolong sesamanya," tambahnya.
Welly menegaskan, penanganan pascabencana gempa bumi membutuhkan napas panjang, mengingat mereka yang kehilangan tempat tinggal perlu waktu pemulihan lebih lama.
Oleh karena itu, tim relawan Masjid Jogokariyan hingga kini masih disiagakan di posko-posko di NTT untuk mengawal pemulihan warga serta menyalurkan bantuan tahap selanjutnya dari jemaah Yogyakarta.
"Jadi, sewaktu-waktu kami akan mengirimkan bantuan lagi, sudah ada personel yang siap sedia di lokasi kebencanaan. Termasuk untuk update bantuan-bantuan apa saja yang dibutuhkan para korban," pungkasnya. (aka)