Hari Danau Sedunia, Menteri LH Sebut Keramba Ikan Jadi Penyebab Polusi Air Luar Biasa 
Hironimus Rama August 27, 2026 02:35 PM

Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy 

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menggelar ​peringatan Hari Danau Sedunia (HDS) di Universitas Indonesia (UI) pada Kamis (27/8/2026).

Peringatan HDS tersebut menjadi momentum krusial untuk menyoroti kondisi perairan tawar di tanah air.

​Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, mengungkapkan rasa prihatinnya atas kondisi mayoritas danau di Indonesia yang kian memprihatinkan akibat pencemaran hebat.

Baca juga: Suntikan Rp50 Miliar Triputra Group untuk Dana Abadi UI, Amunisi Menuju Top 150 Dunia

​"Terjadi polusi air yang luar biasa," tegas Jumhur. 

​Ia menegaskan bahwa salah satu biang kerok dari kerusakan ekosistem tersebut adalah maraknya praktik bisnis keramba ikan yang tak terkendali.

​Penumpukan sisa pakan ternak selama bertahun-tahun hingga mencapai ketebalan bermeter-meter di dasar danau dinilai membusuk dan merusak produktivitas perairan.

​Kondisi tersebut dianggap sangat tidak adil karena area danau yang seharusnya menjadi milik bersama justru dikuasai segelintir pihak hingga merugikan masyarakat luas.

​Guna mengatasi persoalan menahun ini, KLH tengah mengkaji langkah tegas berupa skema pemulihan dan pembersihan danau secara menyeluruh.

​Rencana restorasi selama tiga bulan akan diberlakukan, di mana para pengusaha keramba diwajibkan tetap bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan para pekerja mereka.

​"Kamu harus menggaji orang-orang yang selama ini kamu gaji itu selama 3 bulan, tapi kamu enggak dapat apa-apa, dalam rangka merestor danaunya itu," ujarnya. 

​Langkah keras ini ditujukan kepada pemilik modal yang selama ini meraup keuntungan berlimpah namun mengabaikan dampak buruk bagi lingkungan sekitar.

​Pemerintah tidak ragu mengambil alih izin pengelolaan jika para investor menolak skema pemulihan dan keberlanjutan lingkungan tersebut.

​Jumhur mengingatkan para pelaku usaha agar meninggalkan pola bisnis lama yang merusak alam demi mengejar keuntungan finansial belaka.

​"Jadi sekarang sudah zamannya orang cari duit bisa kaya raya dengan cara juga memuliakan bumi, memuliakan lingkungan," pungkasnya. (m38)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.