TRIBUNFLORES.COM,LABUAN BAJO-Di tengah luka dan duka yang masih dirasakan masyarakat akibat gempa bumi yang mengguncang Flores, Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, Pr., kembali menunjukkan kepedulian dan solidaritas Gereja dengan memberikan donasi kepada para korban gempa di Lengko Cepang, Kamis, 27 Agustus 2026.
Lengko Cepang ini berada di bawah Gereja Santo Yosef Pekerja yang bernama resmi Gereja Paroki Santo Yosef Pekerja, Lengkong Cepang adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di Lembor Selatan, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
Kehadiran Uskup Max Regus di tengah masyarakat terdampak bukan sekadar untuk menyerahkan bantuan. Lebih dari itu, kehadirannya menjadi tanda bahwa Gereja ingin berjalan bersama umat yang sedang menghadapi masa sulit.
Dengan penuh perhatian, Mgr. Max Regus, mantan Rektor Unika Santu Paulus Ruteng menyapa warga, mendengarkan kisah mereka serta melihat dari dekat kondisi kehidupan masyarakat setelah bencana.
Bantuan yang diberikan diharapkan dapat meringankan beban keluarga-keluarga yang terdampak sekaligus menjadi tanda kasih dan persaudaraan.
Baca juga: Kelembutan Ipda Putri Agustina Saat Menyapa Anak-Anak di Posko Pengungsian Manggarai Barat
Bagi Gereja, bencana bukan hanya persoalan kerusakan bangunan dan kehilangan material. Di baliknya terdapat rasa takut, kecemasan, kehilangan kenyamanan, dan ketidakpastian tentang masa depan. Karena itu, kehadiran Gereja di tengah korban menjadi bagian penting dari proses pemulihan.
Dalam berbagai kunjungan sebelumnya, Mgr. Maksimus menegaskan pentingnya kebersamaan dalam menghadapi situasi pascagempa. Menurutnya, masyarakat harus melewati masa sulit tersebut sebagai satu keluarga, sebagai umat, dan sebagai Gereja.
Semangat tersebut kembali diwujudkan melalui bantuan bagi warga Lengko Cepang. Donasi yang diberikan menjadi bentuk konkret dari kepedulian Gereja terhadap mereka yang sedang membutuhkan pertolongan.
Gerakan solidaritas ini juga sejalan dengan pelayanan Caritas Keuskupan Labuan Bajo, yang sejak awal bencana terus bergerak menjangkau keluarga-keluarga terdampak.
Pelayanan Gereja tidak berhenti pada bantuan pangan, tetapi diarahkan pula pada kebutuhan pemulihan, pendampingan psikososial, kesehatan, dan perhatian khusus kepada kelompok rentan.
Kehadiran Mgr. Maksimus di Lengko Cepang menjadi pesan sederhana namun kuat bahwa korban gempa tidak berjalan sendirian. Di tengah rumah-rumah yang rusak, kehidupan yang belum sepenuhnya pulih, dan kecemasan akibat bencana, masih ada tangan-tangan yang terulur dan hati yang bersedia berbagi.
Bantuan mungkin tidak langsung menghapus seluruh luka akibat gempa. Namun, melalui kepedulian dan solidaritas, masyarakat kembali menemukan kekuatan untuk bangkit.