Cek Rumah Susun di Labuan Bajo, Kapolda NTT : Anggota Juga Jadi Korban Gempa Flores
Hilarius Ninu August 27, 2026 02:47 PM

 

 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Tari Rahmaniar

TRIBUNFLORES.COM- LABUAN BAJO-Di tengah tugas membantu warga yang menjadi korban gempa, sejumlah anggota Polri di Nusa Tenggara Timur (NTT) justru harus menghadapi kondisi serupa.

Mereka kehilangan rasa aman di rumah sendiri dan terpaksa mengungsi bersama keluarga akibat bangunan tempat tinggal yang rusak.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Kapolda NTT Irjen. Pol. Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., saat mengunjungi Rumah Susun (Rusun) Polres Manggarai Barat, Kamis (27/8/2026).

Dalam kunjungannya, Rudi mengecek langsung kondisi rusun hingga lantai tiga. Ia menemukan sejumlah kerusakan dan retakan pada bangunan sehingga anggota belum berani kembali tidur di dalam rusun.

 

Baca juga: Kelembutan Ipda Putri Agustina Saat Menyapa Anak-Anak di Posko Pengungsian Manggarai Barat

 

"Anggota Polri ini bertugas untuk membantu, menolong korban bencana gempa. Namun mereka sendiri sebagai korban dan mereka juga mengungsi," ujat Rudi saat diwawancarai TRIBUNFLORES.COM, Kamis (27/8/2026). 

Menurutnya, kunjungan tersebut merupakan bentuk kepedulian pimpinan Polri terhadap anggota yang terdampak bencana. Ia menyebut dirinya mendapat perintah Kapolri untuk melihat langsung kondisi personel di lapangan sekaligus memastikan kebutuhan mereka terpenuhi.

"Untuk itu saya datang kemari, saya ingin melihat secara langsung kondisinya, melihat permasalahan apa yang dihadapi oleh mereka sambil sekaligus kami membawa bantuan," ujarnya.

Rudi mengungkapkan, dampak gempa tidak hanya dirasakan masyarakat. Sejumlah fasilitas kepolisian dan tempat tinggal anggota di wilayah Pulau Flores juga mengalami kerusakan.

Dari pendataan sementara, terdapat 42 unit asrama polisi yang mengalami rusak ringan dan 12 unit lainnya rusak berat.

Selain asrama, terdapat sembilan polsek yang terdampak, terdiri dari delapan polsek rusak ringan dan satu polsek rusak berat. Sejumlah pospol dan polsubsektor juga mengalami kerusakan.

Rudi mengatakan, sesuai arahan Kapolri, pendataan kerusakan rumah anggota, polsek maupun pospol harus segera diselesaikan.

"Yang masuk kriteria rusak ringan dulu kita prioritaskan. Kalau yang rusak berat nanti tentunya kami akan mengajukan ke Mabes Polri untuk perbaikannya," ungkapnya.

Ia menargetkan pendataan tersebut rampung dalam pekan ini sehingga proses perbaikan dapat segera dilakukan.

"Harapannya minggu depan kita sudah bisa melakukan perbaikan-perbaikan," ujarnya.


Tak hanya bangunan yang mengalami kerusakan, gempa juga meninggalkan ketakutan bagi para korban, termasuk anak-anak yang harus tinggal di lokasi pengungsian.

Karena itu, Polda NTT turut mengerahkan tim trauma healing ke sejumlah lokasi pengungsian di tujuh kabupaten terdampak.

Berdasarkan pantauan TRIBUNFLORES.COM, Kapolda NTT Irjen. Pol. Dr. Rudi Darmoko, juga menghibur anak-anak di posko pengungsian serta memberikan hadiah. Tampak raut wajah anak anak begitu ceria sembari menyanyikan lagu kanak-kanak. 

Rudi mengatakan, Polda NTT mendapat dukungan dari Biro Psikologi ASDM Mabes Polri dan sejumlah polda lain. Total terdapat 63 konselor yang membantu memberikan pendampingan psikologis.

Trauma healing, kata dia, tidak hanya menyasar orang dewasa, tetapi juga anak-anak.

"Ketakutan tentu pasti ada, normal sebagai manusia. Kita berusaha membantu mengadakan trauma healing dengan teknik-teknik tertentu yang sudah kita miliki untuk merilis emosi negatif, ketakutan, trauma," ujarnya.

Dengan pendampingan tersebut, para korban diharapkan dapat kembali menjalani kehidupan secara normal setelah mengalami bencana.

Rudi juga memastikan distribusi bantuan terus dilakukan hingga ke wilayah yang sulit dijangkau.

Untuk wilayah kepulauan di Manggarai Barat, distribusi bantuan dilakukan menggunakan kapal patroli. Sementara wilayah yang tidak dapat ditempuh melalui jalur darat maupun laut dijangkau menggunakan helikopter.

Ia mencontohkan Pulau Palue di Kabupaten Sikka yang menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena letaknya jauh dan relatif terisolir.

Bahkan pada hari kedua setelah gempa, Polda NTT melalui kapal Ditpolairud telah mendistribusikan bantuan dari pemerintah pusat ke Pulau Palue.

Terbaru, sebanyak 15 ton bantuan kembali dikirim ke wilayah tersebut. Bantuan itu berupa kebutuhan dasar seperti makanan, minuman, obat-obatan dan pakaian.

Ia juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila masih terdapat wilayah atau kelompok pengungsi yang belum tersentuh bantuan.

"Kalau ada daerah-daerah yang belum tersentuh oleh kami, tolong segera diinformasikan. Saya akan mengirim tim," ujarnya.

Di tengah banyaknya warga yang meninggalkan rumah karena takut gempa susulan, Rudi juga memerintahkan jajaran Polres untuk meningkatkan patroli.

Patroli dilakukan untuk memastikan keamanan rumah-rumah yang ditinggalkan warga sekaligus membantu membersihkan bangunan yang mengalami kerusakan.

Anggota Polri tidak hanya berpatroli, tetapi juga menyambangi warga, memberikan bantuan hingga ikut membersihkan lingkungan sekitar rumah.

"Selain anggota Polri itu patroli, mereka berkunjung, sambang, memberikan bantuan. Kami memberikan bantuan, kemudian kami bersih-bersih ikut bersih-bersih," ujarnya.

Rudi menegaskan, fokus utama dalam 24 jam ke depan adalah memastikan keselamatan masyarakat sekaligus memetakan wilayah yang belum mendapatkan bantuan.

Menurutnya, kehadiran negara harus benar-benar dirasakan masyarakat yang sedang menghadapi bencana.

"Keselamatan para korban itu yang utama. Negara, pemerintah harus hadir di tengah-tengah rakyat yang menjadi korban," ujarnya.

Di sisi lain, perhatian terhadap anggota Polri yang ikut menjadi korban juga menjadi bagian penting dari penanganan bencana.

"Supaya anggota Polri ini tenang. Dia melaksanakan tugas menolong korban bencana, tapi dia sendiri sebagai korban," ungkap Rudi. (Iar) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.